logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Hakka Ngiau

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 27 August 2026
in Disway
0
Hakka Ngiau

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

SAYA satu panggung dengan Ahok kemarin. Di museum suku Hakka di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Ada juga Teuku Azmi Abubakar di situ: tokoh Aceh yang punya pustaka Tionghoa Peranakan di Banten. Ia alumnus teknik sipil Institut Teknologi Indonesia, Tangerang. Ia membangun gedung dua lantai untuk berbagai dokumen, buku, dan artefak Tionghoa Peranakan.

Related Post

Kacamata Mata

Weda Bay

Abuleke Bahlil

Setiap Agustus suku Hakka memang mengadakan seminar kebangsaan di situ. Kali ini bersama marga Yap Indonesia yang diketuai oleh Haryanto Yap.

Anda sudah tahu: setiap orang Tionghoa punya dua identitas. Identitas suku dan identitas marga. Misalkan Anda suku Hakka, atau Tiuchu, atau Hokkian, Guangshao, Manchu, dan seterusnya. Di setiap warga suku itu marganya berbeda-beda. Di suku Hakka ada yang bermarga Chen (Tan). Di suku Hokkian juga ada yang bermarga Chen. Semua suku punya semua marga. Semua marga ada di semua suku.

Ketua suku Hakka di Indonesia, Sugeng Prananto adalah juga ketua marga Yap Indonesia. Haryanto tadi ketua hariannya.

Masing-masing suku juga punya lagu resminya sendiri-sendiri. Pun semua marga. Di forum kemarin, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, diputar juga lagu suku Hakka. Lalu diputar pula lagu ”kebangsaan” marga Yap. Lain kali kalau penyelenggaranya marga Huang diputar lagu resmi marga Huang –yang di Indonesia ditulis sebagai marga Oei.

Malu: baru sekali ini saya ke Museum Hakka. Dulu, ketika Presiden SBY meresmikannya, saya tidak bisa ikut serta. Beberapa kali diundang ke acara di situ selalu berhalangan.

Museum Hakka ini (disebut juga suku Khek atau Kejia) ternyata bagus sekali. Lokasinya tidak jauh dari gedung teater Keong Emas dan anjungan Sulawesi Tenggara. Bentuk bangunan museum ini dibuat mirip rumah besar tradisional suku Hakka di masa lalu: satu rumah besar untuk banyak keluarga.

Tembok luar rumah besar itu melingkar. Bulat. Tinggi. Setinggi rumah tiga lantai. Pintu masuknya hanya satu: pintu gerbangnya. Puluhan rumah tangga berada dalam satu rumah besar.

Semua kamar/rumah menghadap ke dalam: ke halaman luas yang bentuknya bulat –mengikuti bentuk luarnya. Halaman itu menjadi halaman bersama. Ada yang tinggal di lantai dua atau tiga. Lantai pertamanya untuk ternak dan logistik.

Bentuk museum ini dibuat sangat mirip dengan itu. Tiap kamarnya, di tiga lantai, difungsikan sebagai museum. Halamannya difungsikan untuk ruangan besar melingkar. Bisa untuk 1000 orang.

Di situlah seminar kebangsaan kemarin berlangsung. Bedanya, di museum ini ”halaman” tengahnya beratap. Sedang di rumah besar yang asli atapnya langit dan kadang mendung.

Kini, di daerah asal suku Hakka di Tiongkok tidak ada lagi orang yang tinggal di rumah besar seperti itu. Beberapa rumah besar peninggalan masa lalu masih ada. Sudah sangat tua. Dijadikan objek wisata.

Saya pernah mengunjungi rumah besar yang masih asli di sana: di kabupaten Mexian, bagian utara provinsi Guangdong. Sudah terlihat kusam kuno. Ketika naik tangga ke lantai atas muncul rasa khawatir: tangga kayunya seperti lapuk.

Setiap kali ke Meixian saya tidur di Meizhou, kota terbesarnya. Di kunjungan ketiga tahun lalu Meizhou sudah berubah total: menjadi sangat 靚女 –ciang ngi, cantik dalam bahasa Hakka. Piao liang dalam bahasa Mandarin.

Di kunjungan ketiga itu saya juga ke Sunkou –pelabuhan sungai yang hampir semua orang Hakka perantauan mengenangnya. Dari tepi sungai itulah orang-orang Hakka berangkat meninggalkan kampung halaman menuju Nan Yang –laut selatan. Itu bisa berarti, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, atau Indonesia.

Di daerah baru itu mereka menyatu dan jadi tokoh setempat: Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew adalah orang Hakka. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra juga orang Hakka. Pun Presiden Filipina Corazon Aquino.

Siapa tahu kelak Ahok, orang Hakka dari Belitung juga akan jadi seperti Lee Kuan Yew untuk Indonesia.

Itu tidak mustahil –kalau Tuhan sudah menakdirkan begitu. Anda sudah tahu: untuk pilpres akan datang tidak perlu lagi batas minimal perolehan suara partai.

PDI-Perjuangan bisa mengajukan calon sendiri. Partai itu tidak punya banyak pilihan. Ahok bisa dimajukan. Kalau perlu dipasangkan dengan Mahfud MD. Atau sebaliknya. Mereka bisa terpilih. Orang sudah muak dengan korupsi. Ahok-Mahfud bisa jadi pilihan. Atau tidak.

“Itu tidak mungkin,” ujar Ahok ketika kemungkinan itu saya bisikkan ke telinga kirinya. Alasannya: ia pernah dituntut hukuman lima tahun sehingga hak pencapresannya hilang.

Aneh. Ternyata yang jadi ukuran ”tuntutan” jaksa saat di pengadilan. Bukan vonis hakim. Bagaimana UU-nya bisa begitu hanya Anda yang tahu.

Hebatnya, untuk pilkada, aturan itu sudah tidak berlaku. Yakni sejak ada yang menggugat UU itu ke Mahkamah Konstitusi. Dikabulkan. Berarti bagi orang yang ingin mencapreskan Ahok cepat-cepatlah ajukan gugatan ke MK.

Di forum itu saya hanya menyinggung sedikit peristiwa di seputar proklamasi kemerdekaan. “Hampir saja presiden pertama kita bukan Bung Karno. Siapa?” pancing saya. Ternyata tidak ada yang tahu.

Pertengahan Agustus 1945, para pemuda-aktivis Jakarta tahu Jepang sudah menyerah-kalah (15 Agustus 1945). Mereka berpendapat saatnya Indonesia merdeka. Mereka pun bersepakat menjadikan Amir Syarifuddin sebagai presiden kita.

Tapi Amir tidak ditemukan lagi di mana –ternyata sedang di penjara Lowokwaru, Malang. Sebagai gantinya para pemuda memilih Sutan Sjahrir sebagai presiden. Sjahrir tidak mau. Masih terlalu muda. Umurnya belum 30 tahun. Belum ada MK saat itu.

Sjahrir lantas minta agar Bung Karno saja yang jadi presiden. Sjahrir berpendapat Bung Karno-lah yang mampu menyatukan bangsa Indonesia.

Anda sudah tahu: Bung Karno tidak mau. Bung Karno pilih menunggu janji Jepang memberikan kemerdekaan pada Indonesia suatu saat kelak. Para pemuda tidak puas. Mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta, dibawa ke Rengasdengklok, Karawang. Di sana Bung Karno dan Bung Hatta dipaksa menyatakan kemerdekaan.

Zaman itu Rengasdengklok masih kampung tani dan nelayan yang amat miskin. Tidak ada rumah yang layak untuk dipakai Bung Karno dan Bung Hatta bermalam. Ups…ada. Di rumah itulah Proklamator Kemerdekaan Indonesia bermalam di Rengasdengklok. Itu adalah rumahnya 饒吉祥. Dibaca Ráo Jíxiáng. Rao dalam bahasa suku Hakka dibaca Ngiau.

Pemilik rumah itu memang orang suku Hakka.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Kacamata Mata

Kacamata Mata

Sunday, 11 October 2026
Weda Bay

Weda Bay

Saturday, 10 October 2026

Saturday, 10 October 2026
Abuleke Bahlil

Abuleke Bahlil

Friday, 9 October 2026
Rocky Gerung

Rocky Gerung

Thursday, 8 October 2026
Mitra Keracunan

Mitra Keracunan

Tuesday, 6 October 2026
Next Post
Hadiri Seminar UI, Kepala BIN Herindra Dorong Regulasi Antispionase untuk Jaga Kedaulatan

Hadiri Seminar UI, Kepala BIN Herindra Dorong Regulasi Antispionase untuk Jaga Kedaulatan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Kementrian ESDM Bidik PETI Boalemo di Paguyaman Cs

Kementrian ESDM Bidik PETI Boalemo di Paguyaman Cs

Monday, 12 October 2026
Besok, Istri Wapres Gibran ke Gorontalo

Besok, Istri Wapres Gibran ke Gorontalo

Monday, 12 October 2026
Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

Sunday, 11 October 2026
Basri Amin

Daerah “Adat” Gorontalo  

Monday, 12 October 2026

Pos Populer

  • Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

    Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

    117 shares
    Share 47 Tweet 29
  • Usai Mopotilolo, Irjen Pol Nurworo Danang Disambut Pedang Pora di Mapolda Gorontalo 

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Warisan “Portugis” di Gorontalo

    78 shares
    Share 31 Tweet 20
  • Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Polda Gorontalo Sita Emas dan Merkuri di Lokasi PETI, Dua Orang Jadi Tersangka

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.