logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Tiga Inklusif

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 20 August 2026
in Disway
0
Tiga Inklusif
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
Oleh:
Dahlan Iskan

Hampir pasti peluang Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar tertutup untuk bisa terpilih sebagai ketua umum tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tidak mungkin beliau meletakkan jabatan sebagai menteri untuk mencalonkan diri di Muktamar NU di Jombang minggu depan (27-31 Agustus).

Kian ke sini calon utama yang santer disebut tinggal dua orang: Gus Kikin dari Tebuireng Jombang dan Gus Yahya, incumbent.

Melihat bahwa keduanya seperti sedang berhadapan langsung barulah muncul calon lain yang menyebut dirinya “poros tengah”: Gus Rozin dari pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jateng.

Tentu sempat muncul calon-calon lain. Tapi sifatnya lebih karena ada yang mendorong untuk maju. Misalnya tokoh Golkar yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid mendorong KH Zulfa Mustofa. Beliau adalah ulama yang sempat jadi penjabat ketua umum PBNU di tengah konflik syuriah dan tanfidziyah. Eksistensi “penjabat ketua umum” ini menguap karena ternyata bukan jalan keluar dari konflik.

Related Post

Prabowo Mahathir

Dominasi Suasana

Datuk Merdeka

Dear Cinta

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar mendorong kiai dari Jateng, KH Yusuf Chudlori. Nama ini kian hari juga kian surut.

Berarti tiga calon yang kelihatannya akan bersaing ketat: Gus Yahya, Gus Kikin, dan Gus Rozin. Tiga-tiganya ”darah biru” NU. Semuanya cucu kiai besar di dunia NU. Bahkan tiga-tiganya bisa dibilang tokoh inklusif.

Saking inklusifnya, Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sampai disemprot sebagai antek Yahudi. Gus Yahya telah berjuang sangat keras untuk mengubah NU: agar tidak hanya kaya di akhirat tapi juga bisa kaya di dunia; lewat tambang batu bara. Siapa tahu cita-cita yang belum terwujud itu bisa terjadi di masa kepengurusan periode keduanya.

Gus Kikin? Ia juga sangat inklusif. Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) yang juga ketua PWNU Jatim adalah kiai yang juga pengusaha migas. Saya tidak pernah menyangka Gus Kikin akhirnya mau pulang kampung dan mau didaulat jadi kiai di Tebuireng, Jombang. Padahal ia sudah begitu mapan sebagai pengusaha yang tinggal di Jakarta. Memang, setelah Gus Sholah (Salahuddin Wahid, adik Gus Dur) meninggal, tinggal Gus Kikin-lah dhuriyah yang paling senior di Tebuireng.

Gus Rozin juga inklusif. Juga tidak ambisius –awalnya. Gus Rozin (Abdul Ghaffar Rozin) maju karena terpanggil sebagai memimpin NU yang netral. Yakni yang tidak terlibat konflik besar antara rais aam syuriah (KH Miftakhul Akhyar) dan ketua umum Tanfidziyah (Gus Yahya).

Gus Rozin adalah lulusan Monash University, Australia setelah kuliah di Paramadina. Ia juga pernah mondok di pesantren Kwagean, Kediri setelah lulus ibtidaiah sampai aliyah di Kajen. Doktornya dari UIN Walisongo, Semarang. Ia juga pernah mendalami filsafat di lembaga Katolik Driyakarya.

Semua berdarah biru yang inklusif. Itulah wajah baru kepemimpinan NU di tingkat pusat. Apakah tiga-tiganya jadi maju tentu akan bisa dilihat tanggal 29 Agustus. Tanggal itu acara-acara awal muktamar sudah selesai. Pendaftaran calon pun dibuka. Bisa mendaftar sendiri juga bisa didaftarkan.

Yang lebih krusial kelihatannya justru di level kepengurusan dewan syuriah –berkedudukan lebih tinggi daripada kepengurusan eksekutif tanfidziyah.

Pemilihan rais aam (ketua) dewan syuriah tidak lagi lewat pemungutan suara di lantai muktamar. Rais Aam dipilih oleh ”majelis kiai se Indonesia” secara tertutup. Istilahnya Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Masing-masing dewan syuriah NU di cabang (tingkat kabupaten/kota) dan di wilayah (tingkat provinsi) mengajukan sembilan nama. Berarti akan terkumpul ratusan nama. Yang namanya ditulis terbanyak otomatis sebagai rais aam. Delapan lainnya jadi anggota dewan syuriah.

Selama ini tiga nama kiai besar yang muncul ke permukaan: incumbent KH Miftakhul Akhyar, Surabaya; KH Said Agil Siroj (mantan ketua umum tanfidziyah); dan KH Ma’ruf Amin, mantan wakil presiden RI.

Secara teori, cara pemilihan seperti itu sangat bagus. Bisa menghindarkan politik uang. Tapi tidak sepenuhnya begitu. Belakangan ini syuriah di daerah-daerah dikumpulkan oleh kekuatan tertentu: diarahkan untuk memilih siapa. Lalu ditinggali amplop –yang penting isi amplop itu.

Bahkan dari rekaman pembicaraan telepon yang sampai ke saya terdengar ”mainnya” agak kasar. Blangko pencalonan yang sudah diisi nama calon dibagikan. Untuk dimintakan tanda tangan. Lalu ada kesulitan: mereka tidak membawa stempel. Malam itu juga dibikinkan stempel.

Semuanya dibuat tiga rangkap. Rangkap yang akan diserahkan ke panitia sudah dikumpulkan di satu orang tim sukses.

Tentu yang seperti itu belum tentu bisa terlaksana di lapangan. Apa lagi kalau tiba-tiba ada serangan fajar yang peluru amplopnya lebih tebal.

Muktamar NU tinggal seminggu lagi. Para pemain dan broker sedang sibuk-sibuknya. Ini NU. Bukan Muhammadiyah. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayharian diswaytiga inklusif

Related Posts

Prabowo Mahathir

Prabowo Mahathir

Thursday, 20 August 2026
Dominasi Suasana

Dominasi Suasana

Tuesday, 18 August 2026
Datuk Merdeka

Datuk Merdeka

Monday, 17 August 2026
Dear Cinta

Dear Cinta

Sunday, 16 August 2026
Tepat Waktu

Tepat Waktu

Saturday, 15 August 2026
Sutrimo Winda

Sutrimo Winda

Thursday, 13 August 2026

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Ridwan Monoarfa

Kemerdekaan Harus Membebaskan Rakyat dari Ketergantungan

Thursday, 20 August 2026
Tekan Harga Beras, Bulog Digelontor 12 Ribu Ton, Gubernur Instruksi Bulog Segera Menyalurkan

Tekan Harga Beras, Bulog Digelontor 12 Ribu Ton, Gubernur Instruksi Bulog Segera Menyalurkan

Thursday, 20 August 2026
Data Tahanan-BPJS Sasaran Penipuan, Polisi Dilarang Berikan Data Sembarangan

Data Tahanan-BPJS Sasaran Penipuan, Polisi Dilarang Berikan Data Sembarangan

Thursday, 20 August 2026
Poltekkes Gorontalo Perkuat Peran Kader Tenggela Cegah Stunting

Poltekkes Gorontalo Perkuat Peran Kader Tenggela Cegah Stunting

Thursday, 20 August 2026

Pos Populer

  • Longsor Tambang DAM Pohuwato, Kapolres: 15 Saksi Sudah Diperiksa

    Longsor Tambang DAM Pohuwato, Kapolres: 15 Saksi Sudah Diperiksa

    78 shares
    Share 31 Tweet 20
  • UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Kemerdekaan Harus Membebaskan Rakyat dari Ketergantungan

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Kemenkum Gorontalo Mengayomi dan Berdampak, Perlindungan Merek Dorong UMKM Naik Kelas

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tak Sekadar Edukasi, Poltekkes Gorontalo Bangun Kemandirian Kader Cegah Ulkus Diabetik

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.