gorontalopost.co.id– Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas), dosen dan mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Gorontalo membekali lima kader kesehatan di Desa Tilote, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, dengan keterampilan pijat bayi dan kemampuan memberikan edukasi kepada ibu yang memiliki bayi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan peran kader dalam mendukung stimulasi tumbuh kembang dan pencegahan stunting. Kegiatan yang berlangsung 6 Juli 2026 tersebut dibuka oleh Kepala Desa Tilote, Burhanuddin Ismail. Tim Pengabmas melibatkan Hasnawatty Surya Porouw, SST, M.Kes selaku ketua tim, dan Rina Sulisthia Arbie, S.ST, M.Keb sebagai anggota, bersama mahasiswa Jurusan Kebidanan, bidan desa, dan kader kesehatan.
Program bertajuk “Pemberdayaan Kader Posyandu Melalui Pelatihan Pijat Bayi sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Bayi Umur 3–12 Bulan di Desa Tilote” tersebut menitikberatkan pada peningkatan kapasitas kader sebagai penggerak kesehatan yang memiliki kedekatan langsung dengan keluarga. Ketua Tim Pengabmas, Hasnawatty Surya Porouw, mengatakan kader tidak hanya dibekali kemampuan melakukan teknik pijat bayi, tetapi juga dilatih menyampaikan edukasi dan mengajarkan kembali keterampilan tersebut kepada ibu. “Kami ingin setelah pelatihan ini kader memiliki kepercayaan diri untuk mendampingi ibu, bukan hanya memperagakan teknik pijat bayi. Kader juga perlu mampu memberikan edukasi yang benar tentang tumbuh kembang, sehingga keluarga memahami bahwa pencegahan stunting membutuhkan berbagai upaya yang dilakukan secara bersama,” ujar Hasnawatty.
Selama pelatihan, kader mendapatkan pengetahuan mengenai prinsip pijat bayi yang aman, persiapan sebelum melakukan pijatan, teknik sentuhan yang lembut, serta cara mengenali respons bayi. Mereka juga dibekali pemahaman mengenai kondisi yang mengharuskan pijatan dihentikan dan kapan keluarga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pijat bayi dalam kegiatan ini ditempatkan sebagai bagian dari stimulasi dini dan pengasuhan responsif, bukan sebagai terapi tunggal untuk mencegah stunting.
Pencegahan stunting tetap membutuhkan pemenuhan gizi, pemberian ASI dan MP-ASI sesuai usia, imunisasi, sanitasi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. Kepala Desa Tilote, Burhanuddin Ismail, menyambut baik pelaksanaan Pengabmas tersebut. Menurutnya, peningkatan kapasitas kader penting karena kader berinteraksi langsung dengan keluarga dan memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan di masyarakat.
Pendampingan dirancang tetap berlanjut setelah pelatihan. Kader akan melakukan empat kali kunjungan rumah kepada ibu yang memiliki bayi berisiko stunting. Pendampingan dilaksanakan sejak Juli sampai Agustus 2026. Dalam kunjungan tersebut, kader memberikan edukasi sekaligus mendampingi ibu mempraktikkan teknik pijat bayi yang telah dipelajari. Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim juga menyiapkan buku “Pijat Bayi, Sentuhan Cinta untuk Cegah Stunting: Edukasi Praktis bagi Kader dan Keluarga”.
Buku tersebut disusun sebagai bahan edukasi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan Posyandu, kunjungan rumah, maupun pendampingan keluarga. Melalui Pengabmas ini, Poltekkes Kemenkes Gorontalo mendorong kader semakin berdaya sebagai mitra keluarga dan tenaga kesehatan. Dengan pengetahuan yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, edukasi kesehatan diharapkan tidak berhenti di Posyandu, tetapi hadir lebih dekat hingga ke rumah-rumah keluarga di Desa Tilote. (tro/*)













Discussion about this post