gorontalopost.co.id – Pencegahan stunting atau kondisi pertumbuhan anak yang terganggu akibat gizi kurang menjadi perhatian semua pihak. Tak terkecuali mahasiswa program Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo). Melalui program pengabdian masyarakat, mahasiswa KKD UMGo angkatan XXX di Desa Pangadaa, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo, melakukan edukasi pencegahan stanting, dan pentinganya pertumbuhan 1000 hari pertama kehidupan. Kegiatan yang berlangsung, Sabtu (8/8) di aula Kantor Desa Pangadaa ini, melibatkan Puskesmas Dungaliyo, Kader Posyandu, dan Pemerintah Desa setempat.
Koordinator Kegiatan KKD UMGo, Fikri, menyebut, program ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa KKD dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ( Sustainable Development Goals /SDGs), Ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan edukasi kesehatan bagi masyarakat.
Penyuluhan dilaksanakan beriringan dengan pelayanan Posyandu sehingga masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan rutin tanpa mengganggu jalannya kegiatan. Sasaran kegiatan meliputi ibu hamil, balita, dan lansia yang hadir mengikuti pelayanan Posyandu.
Rangkaian kegiatan diawali dengan proses pendaftaran peserta, dilanjutkan penimbangan dan pengukuran balita, pencatatan hasil pemeriksaan, serta pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan bersama kader Posyandu. Disela-sela rangkaian pelayanan tersebut, mahasiswa KKD menyampaikan edukasi mengenai pencegahan stunting kepada masyarakat dengan pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami.
Mahasiswa KKD UMGo menjelaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dari usianya, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, serta kualitas hidup anak di masa depan. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang merupakan fase paling menentukan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang selama kehamilan dan masa pertumbuhan anak, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat, menjaga sanitasi lingkungan, serta rutin memanfaatkan layanan kesehatan sebagai langkah nyata mencegah stunting. “Pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Melalui edukasi ini kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan hingga usia balita agar lahir generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” ujar Fikri.
Kegiatan penyuluhan mendapat dukungan penuh dari Bidan Desa, tenaga kesehatan Puskesmas Dungaliyo, kader Posyandu, serta Pemerintah Desa Pangadaa. Kolaborasi tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Masyarakat aktif menyimak materi yang disampaikan serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pola asuh, pemenuhan gizi, dan langkah-langkah pencegahan stunting dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap tumbuh kembang anak dan pentingnya menjaga kesehatan keluarga. (*)













Discussion about this post