Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Keberadaan pusat perbelanjaan atau mal di tengah masyarakat terancam hilang seiring perubahan pola belanja masyarakat. Kemudahan transaksi melalui platform digital membuat sebagian masyarakat, terutama generasi muda, mulai beralih dari berbelanja secara langsung di mal ke belanja online.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Gorontalo Kombes Pol. Marupa Sagala, S.I.K., S.H., M.H saat berkunjung ke Graha Pena Gorontalo Post, belum lama ini. Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan pusat perbelanjaan.
Istilah retailpocalypse atau “kiamat ritel” digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika toko-toko fisik mengalami penurunan pengunjung dan penjualan hingga berpotensi tutup. Marupa menilai perubahan pola konsumsi masyarakat merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang perlu disikapi secara bijak.
“Bahkan yang lebih ngeri lagi, di kota-kota besar untuk antar barang saat ini sudah menggunakan drone lebih cepat dan murah,”kata Marupa. Menurut Marupa, kemudahan belanja secara daring memberikan banyak pilihan kepada masyarakat. Namun, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap berbagai potensi penipuan yang memanfaatkan transaksi digital.
“Perkembangan teknologi memberikan kemudahan bagi masyarakat, tetapi harus diikuti dengan kewaspadaan. Jangan mudah percaya terhadap penawaran yang tidak jelas dan pastikan informasi maupun pihak yang melakukan transaksi dapat dipercaya,” demikian pandangan yang relevan dengan kondisi tersebut. Disisi lain, biaya pengelolaan pusat perbelanjaan terbilang tinggi.
Pengelola harus menanggung biaya perawatan gedung, listrik, keamanan, kebersihan, hingga berbagai kewajiban lainnya. Ketika jumlah pengunjung dan tingkat okupansi tenant menurun, biaya tersebut dapat semakin sulit ditutupi.
Perubahan gaya hidup masyarakat turut memperkuat kondisi tersebut. Bagi sebagian konsumen, kunjungan ke mal tidak lagi semata-mata untuk berbelanja. Mal dituntut menghadirkan pengalaman yang tidak mudah digantikan oleh layanan digital.
“Karena itu, sejumlah pusat perbelanjaan mulai mengubah konsep bisnisnya. Mal tidak lagi hanya mengandalkan toko pakaian, elektronik, atau kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memperkuat sektor makanan dan minuman, bioskop, tempat bermain anak, serta berbagai fasilitas hiburan,”ungkap Marupa.
Ruang komunitas juga menjadi salah satu alternatif. Pameran, kegiatan kreatif, pertunjukan, kegiatan hobi, hingga ruang berkumpul dapat menjadi daya tarik agar masyarakat tetap memiliki alasan untuk datang secara langsung. (roy)










Discussion about this post