oleh:
Muh. Amier Arham
Hari ini (17 Juli 2026) saya menghadiri undangan rapat bersama yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olah Raga Provinsi Gorontalo, sebagai representasi UNG. Agenda rapat berkaitan dengan persiapan pelaksanaan —-Gorontalo Karnaval Karawo (GKK)—-, tahun ini penyelenggaraannya sudah memasuki tahun ke 11. Kegiatan karnaval bukan sesuatu yang baru, tapi diadopsi bahkan replikasi dari kegiatan karnaval daerah lain hingga tingkat dunia.
Misalnya, karnaval pertunjukkan paling sohor dan besar adalah Carnaval Rio De Janeiro Brasil, karnaval ini malahan dijuluki pertunjukan terbesar di muka bumi. Karnaval Rio De Janeiro merupakan rangkaian pra paskah dalam kalender umat katolik, inti dari karnaval tersebut adalah tarian samba. Makna karnaval samba yaitu ilustri perpaduan antara tarian Afro-Eropa yang mendefinisikan budaya Brasil. Dari sanalah tim nasional sepak bola Brasil dijuluki tim samba, sayang kesebelasan yang telah merengkuh juara lima kali harus angkat koper lebih awal di babak penyisihan 16 besar piala dunia 2026 karena kalah dari tim kesebelasan Norwegia.
Karnaval Rio De Janeiro merupakan rutinitas tahunan dikunjungi jutaan orang dari seluruh dunia, pagelaran karnaval tanpa tarian samba tak akan memiliki makna. Maka dari itu semua sekolah-sekolah samba terbaik diberi kesempatan tampil pada ajang karnaval tersebut berkeliling jalan. Dalam perkembangannya, kalender iven ini dirubah pelaksanaannya dari semula di jalanan ke lokasi khusus Sambadrome. Tujuan pemindahan lokasi; 1) Membangun fasilitas demi kenyamanan para wisatawan, dan 2) potensi pendapatan penjualan tiket untuk masuk ke arena perhelatan. Alhasil keberadaan Sambadrome berefek pada jumlah peserta dan penonton mengalami peningkatan signifikan.
Karnaval serupa kerap digelar di Kolombia, Barranquilla. Salah satu pesta rakyat terbesar kedua di dunia dengan memadukan budaya Afrika-Eropa dan Pribumi di dekat Pantai Karibia. Karnaval ini berlangsung selama empat hari, dengan menampilkan puluhan ribu penari memuat keragaman budaya. Tarian beserta karakternya memiliki sejarah panjang, misalnya tarian Congo mewakili tradisi Afrika, parodi warga lokal terhadap elit kelas atas. Jadi ajang ini tidak hanya mengedepankan unsur seni semata, tetapi juga dimanfaatkan untuk memparodikan perilaku kaum elit sebagai bagian dari koreksi sosial. Karnaval Barranquilla tentu juga menghasilkan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Sementara dibelahan bumi lainnya juga ditemukan karnaval, seperti Venesia di Italia pemakaian topeng sebagai unsur utama atraksi kemudian masyarakat berbaur tanpa memandang status kelas sosial. Mardi Gras New Orleans USA, pesta karnaval untuk menyambut masa pra paskah yang dirayakan umat Kristen. Tennerife Spanyol salah satu perayaan jalanan terbesar dan paling spektakuler, karnaval ini tidak beda jauh dari apa yang ditampilkan di GKK.
Dalam negeri sendiri ditemukan gelaran karnaval yang semarak menyedot banyak perhatian wisatawan, misalnya Jember Fashion Carnaval, bahkan karnaval busana terbilang terbesar di Indonesia. Banyuwangi Etno Carnaval, parade kostum yang mengangkat tema kebudayaan dipadukan dengan pertunjukan musik beserta pameran UMKM. Selain itu terdapat Semarang Night Carnaval dan Solo Batik Carnaval. Dari sekian banyak jenis karnaval baik di manca negara maupun domestik, setidaknya ada empat tujuan spesifiknya; 1) Sebagai ajang promosi pariwisata, 2) Edukasi dan pemgembangan kreatifitas, 3) Melestarikan nilai-nilai budaya, dan 4) Pemgembangan ekonomi daerah dan UMKM.
GKK yang sudah menjadi agenda rutin setiap tahun digelar di Gorontalo juga punya tujuan yang sama sebagaimana uraian di atas. Lewat tulisan ini saya memberikan pandangan, sekaligus catatan penyempurnaan pelaksanaan GKK. Pandangan ini telah saya kemukakan pada saat rapat bersama, diantaranya: Promosi wisata tidak cukup hanya dengan pagelaran, ada aspek lain yang memerlukan perhatian. Bahkan ini tak kalah uregensinya untuk menjadi perhatian agar Gorontalo dapat memikat wisatawan dari luar, yaitu transportasi sebagai necessary condition.
Seindah apapun alamnya, atraksi budaya yang sangat apik sekalipun serta karnaval cukup heboh kalau akses transportasi terbatas, maka pengunjung dari luar akan mengalami hambatan untuk datang menyaksikan atraksi karena keterbatasan aksesibilitas.
Dalam pada itu harapannya pelaksanaan GKK bukan hanya sebatas hiburan rakyat, karena jangan sampai APBD lebih banyak keluar untuk membiayai pagelaran, namun minim multiplier effect yang ditimbulkan. Apalagi setiap OPD wajib berpartisipasi mengadakan kostum unik di GKK. Tak kalah pentingnya untuk dibenahi adalah pernak-pernik fashion show, kostum yang digunakan penari dan peraga unsur karawonya harus nampak jelas, lebih menonjol. Kritik sosial yang mengemuka tahun-tahun sebelumnya, kostum sentuhan moderenitas yang terlalu dominan sehingga sulaman karawo tenggelam.
Seiring dengan meningkatnya minat penggunaan karawo untuk keperluan seragam serta variasi motif yang kian menarik maka semua kalangan merasa konfidense memakainya, akibatnya harga kain karawo terus meningkat. Disisi lain akan menguntungkan pengrajin, diwaktu yang sama biasanya pengunjung di outlet penjual karawo hanya membeli dengan jumlah terbatas, malahan ada yang datang sebagai Rombongan Hanya Nanya (Rohana) dan Rombongan Jarang Membeli (Rojali). Wisatawan yang datang ke toko kalaupun membeli untuk digunakan sendiri bukan diborong dengan jumlah besar buat oleh-oleh ke kerabat pengunjung.
Dalam kerangka itu perlu ada diferensiasi produk dengan bahan dasar sulaman karawo, ini tugas pemerintah daerah serta perguruan tinggi melakukan pendampingan bagi pengrajin agar inovasi-inovasi baru terus lahir. Minimnya diferensiasi produk akan menghambat peningkatan permintaan sulaman khas Gorontalo. Alhasil sirkulasi kegiatan perdagangan UMKM yang terkait dengannya lambat perputarannya, termasuk pada saat pelaksanaan GKK. Pada akhirnya nanti biaya yang dikeluarkan dari APBD lebih besar dibanding return-nya untuk kegiatan GKK.
GKK tujuan utamanya diselenggarakan agar dapat menarik wisatawan dari luar Gorontalo, terlebih wisatawan asing untuk menggerakkan ekonomi daerah sekaligus sebagai sumber pertumbuhan baru ekonomi Gorontalo. Akan tetapi syarat wajibnya perlu menjadi perhatian dari pemerintah pusat yaitu pembenahan aksesibilitas. Intervensi pemerintah pusat sangat diperlukan sebab GKK sudah menjadi agenda Kementerian Pariwisata bagian dari Karisma Event Nusantara. Aksesibilitas merupakan salah satu elemen utama yang wajib dipenuhi oleh sebuah destinasi wisata, selain Amenitas (sarana dan prasarana) pendukung objek wisata dan Atraksi (karnaval).
Apalagi harga tiket pesawat terbang dari dan keluar Gorontalo harganya selangit, membuat dompet kempes sehingga wisatawan domestik akan lebih memilih berwisata di daerah lain yang lebih mudah aksesibilitasnya dan berbiaya murah. Tidak hanya itu, dengan keterbatasan jumlah maskapai penerbangan ke Gorontalo berdampak terhadap pembatalan beberapa iven nasional untuk diselenggarakan. Pada konteks ini pemerintah sejatinya memikirkan bagaimana dapat menekan biaya komponen pendukung penerbangan.
Beberapa komponen biaya yang terkait dengan hal tersebut; airport tax, PPN, fuel surcharge, PPh, pembebanan PPnBM kepada maskapai yang digeser bebannya kepada penumpang, biaya parkir pesawat atau biasa disebut biaya jasa penempatan dan penyimpanan pesawat udara yang inklud di biayai tiket. Alhasil harga tiket penerbangan domestik menjadi sangat mahal dibanding dengan harga tiket penerbangan internasional di kawasan ASEAN.
Tanpa ada dukungan yang kuat dari pemerintah pusat untuk peningkatan aksesibilitas, maka buat apa GKK diselenggarakan setiap tahun? Bila GKK tidak menjadi pemikat wisatawan dari luar negeri atau dari luar Gorontalo karena terbentang luas kendala dihadapi oleh para pelancong untuk menikmati atraksi maupun keindahan panorama Gorontalo. Kondisi serupa pernah dialami oleh Labuan Bajo, sebelumnya aksesibilitas maupun amenitasnya sangat terbatas. Berkat intervensi pemerintah pusat, kini Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas berkelas dunia di NTT. Efeknya, aksesibilitas makin mudah, frekuensi penerbangan bertambah dan pengunjung meningkat kendati minim atraksi (karnaval). (*)
Penulis adalah Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG












Discussion about this post