Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Kenaikan harga Pertamax membuat konsumennya menghadapi dilema. Para penggunanya, terutama pekerja lapangan, dihadapkan pada pilihan antara turun kelas ke jenis BBM yang lebih murah atau mengurangi konsumsi.
Di Provinsi Gorontalo, imbas kenaikan Harga Pertamax membuat penggunanya kian berkurang. Di hampir semua stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Gorontalo kendaraan yang mengantri di pompa Pertamax hanya satu atau dua orang saja.
Berbeda dengan antrian kendaraan di Pompa Pertalite mengular hingga ke jalan raya. Ronal Nurdin (30), seorang pekerja lapangan yang setiap hari menggunakan sepeda motor untuk urusan usahannya sangat terpukul kenaikan harga Pertamax yang kini Rp16.250 per liter.
Selama ini ia mengisi Pertamax sekitar Rp50 ribu hingga Rp55 ribu setiap dua hari sekali. Dalam sebulan, dengan perhitungan 20 hari kerja, pengeluaran BBM-nya mencapai sekitar Rp500 ribu.
PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan alasan utama di balik kebijakan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter mulai Rabu (10/6/2026).
Hal ini tak lain demi menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dan kepastian keberlanjutan ketersediaan BBM di Indonesia.
Seperti diketahui, ini merupakan kenaikan harga BBM Pertamax perdana setelah lonjakan harga minyak dunia akibat perang Israel-Iran pecah sejak 28 Februari 2026 lalu.
Ketika harga BBM non subsidi lainnya sudah mengalami kenaikan harga sejak 18 April 2026 lalu, harga BBM Pertamax masih belum mengalami penyesuaian harga. (roy)












Discussion about this post