Gorontalopost.co.id, GORONTALO – Status siaga tsunami ditetapkan BMKG pascagema magnitudo 7,7 di selatan Filiphina, untuk Gorontalo Utara, Senin (8/6). Gempa tersebut juga dirasakan langsung di Gorontalo. Kawasan laut sulawesi memang terdampak langsung gempa dahsyat yang berpusat di pulau Mindanao itu.
Untuk meminta kewaspadaan warga, sirene peringatan tsunami yang ada di Kwandang, Gorontalo Utara (Gorut) dibunyikan. “Peringatan dini tsunami, peringatan dini tsunami,”ujar warga dalam video yang beredar saat merekam suasana Kwandang dengan bunyi sirena, pagi kemarin.
Sebagian warga bukanya panik dan memilih melakukan evakuasi dengan menjauh dari bibir pantai, namun justeru mendatangi pantai, dan melakukan perekaman video sera langsung (live) di media sosial.
Detik-detik hantaman gelombang stunami di wilayah Gorut terlihat jelas melalui video warga, bahkan tergambar perahu di pantai saling bertabrakan. Awalnya, air dilaporkan surut mendadak pascagempa, setelah itu gelombang dengan tinggi dibawah 50 cm datang dengan tekanan yang kuat.
Andri, dari BMKG Gorontalo bersama Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, kemarin, meminta warga pesisir Gorut untuk melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang lebih tinggi.
“Peringatan dini belum dicabut, harap masyarakat tetap tenang dan melakukan evakuasi mandiri,”kata Andri. Hal yang sama disampaikan Bupati Thariq Modanggu, ia meminta warga segera melakukan evakuasi mandiri. “Dan berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,”kata Bupati.
BMKG mencatat tsunami tertinggi terjadi di Talengan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara pada pukul pukul 08:20 WIB. “Peringatan dini keempat berisi pengakhiran peringatan dini pada pukul 10:15:51 WIB,” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam update gempa M7.7, kemarin.
Dalam laporan disebutkan, berdasarkan SOP yang berlaku untuk gempa bumi berpotensi tsunami, BMKG mengeluarkan peringatan dini 1 – 4, dimana peringatan dini pertama berisi parameter gempa (lokasi, magnitudo, waktu) dan level status ancaman (siaga dan waspada) yang telah dirilis pada pukul 06:40:44 WIB atau 3 menit 2 detik setelah gempa.
Kemudian peringatan dini dua, berisi tentang update parameter gempa (lokasi, magnitudo, waktu) yang dirilis pada pukul 06:51:26 WIB atau 13 menit 44 detik setelah gempa. Selanjutnya, peringatan dini tiga berisi update parameter dan hasil observasi ‘tide gauge’ (waktu tiba dan ketinggian tsunami) yang dirilis dua kali.
Pada Peringatan dini 3.1 pukul 08:13:41 WIB (1 jam 35 menit 59 detik), tsunami terdeteksi di ‘tide gauge’ pertama, pukul 07:20 WIB ketinggian 0.09 meter di Loloda, Maluku Utara, kedua, pukul 07:27 WIB ketinggian 0.18 meter di Ulu Siau, Sulawesi Utara, ketiga pukul 07:27 WIB ketinggian 0.32 meter di Melonguane, Sulawesi Utara.
Berikutnya, peringatan dini 3.2 pada pukul 08:34:52 WIB ( 1 jam 57 menit 10 detik), tsunami terdeteksi di ‘tidegauge’, pertama pukul 06:58 WIB ketinggian 0.30 meter di Tahuna, Kepulauan Sangihe, kedua, pukul 07:34 WIB ketinggian 0.45 meter di Paleleh, Sulawesi Tengah, pukul 07:39 WIB ketinggian 0.32 meter di Tanjung Sidupa,Sulut.
Keempat, pukul 07:51 WIB ketinggian 0.29 meter di Bitung, Sulawesi Utara, kelima pukul 07:51 WIB ketinggian 0.14 meter di Ternate, Maluku Utara, dan keenam pukul 08:20 WIB ketinggian 0.75 meter di Talengen, Sangihe-Sulawesi Utara.
Hasil pemodelan menunjukkan gempa bumi tersebut berpotensi tsunami dengan status siaga (0.5 – 3 meter) di Kabupaten Minahasa, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kota Manado, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Buol, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Gorontalo, Kepulauan Talaud, Toli-toli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, Kota Bitung. (tro)













Discussion about this post