Gorontalopost.co.id – Program Mahasiswa Mengajar Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memberikan pengalaman berharga bagi para mahasiswa yang terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran di sekolah.
Salah satunya dirasakan oleh Muhammad Hary Bayu Risky (21), mahasiswa Jurusan Teknik Informatika yang bertugas sebagai Koordinator Sekolah di SMK Negeri 2 Gorontalo.
Bayu mengaku tidak terlalu gugup saat pertama kali mengajar karena sebelumnya telah mengikuti Praktik Industri yang juga melibatkan kegiatan mengajar dan penyusunan program kerja selama satu bulan. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bekal yang cukup membantu saat mengikuti program Mahasiswa Mengajar.
Motivasi utama Bayu mengikuti program ini adalah adanya konversi 20 SKS yang dapat diselesaikan dalam waktu empat bulan. Selain itu, program ini juga menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman mengajar secara langsung di lingkungan sekolah.
Selama bertugas, Bayu memperoleh banyak pengalaman baru, terutama dalam mengelola kelas, berinteraksi dengan siswa, serta mencari metode yang tepat untuk menyampaikan materi pembelajaran. Ia juga menilai para siswa di SMK Negeri 2 Gorontalo memiliki karakter yang beragam, namun umumnya antusias ketika proses belajar dibuat menarik.
“Saya sangat menyukai suasana di sekolah karena para siswa tidak membeda-bedakan atau menghina teman yang memiliki kekurangan, baik secara fisik maupun cara berpikir,” ujarnya.
Dalam proses pembelajaran, Bayu menerapkan beberapa metode seperti Project Based Learning (PJBL), Inquiry Based Learning, serta permainan edukatif yang berfungsi sebagai ice breaking. Menurutnya, metode tersebut cukup efektif untuk meningkatkan partisipasi siswa di kelas.
Meski demikian, ia juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti tingkat kehadiran siswa yang tidak selalu stabil dan penerapan sistem blok yang membuat mata pelajaran kejuruan tidak dipelajari setiap minggu. Untuk mengatasi hal tersebut, tim mahasiswa menerapkan pembelajaran berbasis proyek agar capaian pembelajaran tetap dapat terpenuhi.
Di sisi lain, Bayu mengungkapkan bahwa kerja sama antar mahasiswa pada awal program sempat mengalami kendala. Namun setelah dirinya dipercaya menjadi Koordinator Sekolah pada bulan ketiga, koordinasi dan kerja sama antara mahasiswa maupun dengan pihak sekolah berjalan lebih baik.
Menurut Bayu, manfaat program Mahasiswa Mengajar sangat besar, baik bagi mahasiswa maupun sekolah. Mahasiswa memperoleh pengalaman mengajar secara langsung, sementara siswa mendapatkan tambahan pembelajaran dan sekolah turut terbantu dalam berbagai kegiatan akademik maupun perlombaan.
“Program ini sangat menguntungkan bagi saya yang mulai merasa jenuh dengan suasana perkuliahan. Melalui program ini, kemampuan menjadi seorang guru dapat berkembang karena belajar langsung dari pengalaman di sekolah,” katanya.
Ia berharap program Mahasiswa Mengajar dapat terus dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak sekolah di masa mendatang sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semakin banyak pihak. (Mg-04)












Discussion about this post