logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Buruh dan Agenda Kebangkitan Nasional

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 20 May 2026
in Persepsi
0
Ridwan Monoarfa

Ridwan Monoarfa

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Ridwan Monoarfa


Setiap peringatan Hari Kebangkitan Nasional, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada lahirnya kesadaran kolektif untuk keluar dari ketertinggalan, ketidakadilan, dan dominasi kekuasaan kolonial. Kebangkitan nasional pada awal abad ke-20 bukan sekadar momentum politik kaum terdidik, melainkan juga awal tumbuhnya kesadaran sosial tentang pentingnya martabat manusia, keadilan, dan persatuan nasional.

Namun, lebih dari satu abad setelah kebangkitan itu dimulai, Indonesia menghadapi bentuk tantangan baru yang jauh lebih kompleks. Struktur pasar tenaga kerja kita telah berubah secara drastis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, sektor informal kini mendominasi lapangan kerja nasional hingga mencapai 87,74 juta orang atau setara 59,42 persen dari total penduduk bekerja. Sebagian besar dari lonjakan ini bergeser ke ekosistem platform digital melalui gig economy, kerja kontrak fleksibel, dan kemitraan semu yang sering kali minim perlindungan sosial.

Related Post

Geopolitik Sebagai Hidden Curriculum

Lonjakan Harga BBM Sebagai Dampak Perang Timur Tengah

Pengaruh Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembiayaan dan Akses Pendidikan Tinggi  

Diplomasi Jalur Kedua  

Di saat yang sama, badai pemutusan hubungan kerja (PHK) terus mengintai pilar ekonomi konvensional. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sepanjang Januari hingga April 2026 saja, jumlah pekerja terdampak PHK sudah mencapai 15.425 orang, di mana lonjakan bulanan tertinggi disumbang oleh sektor manufaktur akibat tekanan geopolitik, pelemahan nilai tukar, dan lonjakan biaya energi industri.

Dalam situasi pelik tersebut, sebuah pertanyaan mendasar muncul: di manakah posisi gerakan buruh dalam agenda kebangkitan nasional Indonesia hari ini?
Pertanyaan ini penting karena gerakan buruh Indonesia tengah berada di persimpangan sejarah. Di satu sisi, buruh masih menjadi kelompok sosial yang paling rentan terdampak oleh ketimpangan ekonomi dan restrukturisasi industri global. Namun di sisi lain, gerakan buruh sendiri menghadapi tantangan internal yang tidak ringan: fragmentasi organisasi, personalisasi kepemimpinan, hingga kecenderungan oligarki yang menjauhkan organisasi dari kepentingan anggota akar rusuk.

Krisis Lama di Tengah Industri Baru

Dalam banyak kasus, organisasi buruh mengalami kemunduran demokrasi internal. Kritik sering dianggap ancaman, regenerasi kepemimpinan tersendat, dan organisasi terjebak pada mobilisasi simbolik tanpa agenda transformasi yang jelas. Akibatnya, gerakan buruh mudah kehilangan relevansi di tengah gerak perubahan teknologi yang melompat sangat cepat.

Padahal, tantangan dunia kerja kontemporer tidak lagi semata menyangkut perjuangan upah minimum dan relasi industrial klasik. Penetrasi kecerdasan buatan (AI), digitalisasi industri, dan otomasi telah mengubah pola produksi secara fundamental. Karena itu, gerakan buruh tidak lagi cukup hanya mempertahankan pola perjuangan lama yang bertumpu pada konfrontasi permanen antara buruh dan pengusaha.

Dalam ekonomi digital, struktur industri menjadi jauh lebih cair dan kompleks. Pengusaha tidak lagi selalu berada dalam posisi stabil karena mereka juga menghadapi tekanan kompetisi global dan disrupsi pasar. Dalam konteks seperti ini, pendekatan hubungan industrial yang sepenuhnya konfrontatif justru berisiko mempercepat deindustrialisasi prematur atau mendorong substitusi tenaga manusia oleh mesin secara massal.

Di titik inilah gerakan buruh Indonesia membutuhkan rekonstruksi paradigma perjuangan. Buruh perlu bergerak dari sekadar politik protes menuju politik transformasi. Perjuangan buruh tidak boleh lagi hanya menuntut kenaikan upah normatif, tetapi harus meluas ke pemenuhan hak atas peningkatan keterampilan (upskilling), perlindungan hukum pekerja digital, jaminan transisi kerja, pendidikan vokasi, hingga akses terhadap penguasaan teknologi baru.
Buruh harus diposisikan sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional, bukan sekadar kelompok penekan dalam hubungan industrial.

Dari Politik Protes ke Politik Kesejahteraan

Karena itu, relasi antara negara, pengusaha, dan buruh perlu dibangun di atas kemitraan strategis yang lebih demokratis. Negara tidak boleh hanya menjadi mediator pasif atau sekadar penjaga stabilitas investasi. Negara harus hadir memastikan keseimbangan kepentingan sosial-ekonomi melalui kebijakan yang melindungi martabat pekerja sekaligus menjaga keberlanjutan industrialisasi nasional.

Gagasan negara kesejahteraan (welfare state) menjadi sangat relevan untuk diperkuat kembali. Indonesia membutuhkan sistem perlindungan sosial yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman: jaminan pengangguran yang inklusif, payung hukum komprehensif bagi pekerja platform (gig workers), layanan kesehatan universal, serta jaminan hari tua yang adekuat.

Membangun Aliansi Gerakan Sosial

Transformasi gerakan buruh tidak mungkin berhasil tanpa kemampuan membangun aliansi sosial yang lebih luas. Di era kontemporer, buruh perlu membangun hubungan strategis dengan kalangan akademisi, masyarakat sipil, komunitas pegiat digital, gerakan lingkungan, dan kelompok muda perkotaan yang sama-sama menghadapi dampak ketimpangan ekonomi modern. Kolaborasi lintas sektor ini penting agar isu buruh tidak lagi dipahami sebatas persoalan hubungan industrial, melainkan bagian dari perjuangan keadilan sosial dan hak kewargaan secara utuh.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional semestinya menjadi ruang refleksi bahwa kebangkitan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi semata. Kebangkitan nasional sejati ditentukan oleh kemampuan negara dalam menjaga martabat manusia pekerja di tengah pusaran perubahan zaman.

Buruh bukan sekadar instrumen produksi, melainkan subjek utama pembangunan bangsa. Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar investasi yang berhasil dihadirkan, tetapi juga oleh keberhasilan kita bersama dalam membangun sistem industrial yang adil, demokratis, dan manusiawi. (*)

Penulis adalah Politisi dan Mantan Aktivis Buruh

Tags: buruhHari Kebangkitan NasionalKebangkitan NasionalRidwan Monoarfa

Related Posts

Geopolitik Sebagai Hidden Curriculum

Geopolitik Sebagai Hidden Curriculum

Tuesday, 19 May 2026
Lonjakan Harga BBM Sebagai Dampak Perang Timur Tengah

Lonjakan Harga BBM Sebagai Dampak Perang Timur Tengah

Tuesday, 19 May 2026
Pengaruh Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembiayaan dan  Akses Pendidikan Tinggi   

Pengaruh Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembiayaan dan Akses Pendidikan Tinggi  

Tuesday, 19 May 2026
Diplomasi Jalur Kedua  

Diplomasi Jalur Kedua  

Tuesday, 19 May 2026
Basri Amin

Gubernur Hebat yang Sebenarnya    

Monday, 18 May 2026
Dampak Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah 

Dampak Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah 

Monday, 18 May 2026

Discussion about this post

Rekomendasi

Kondisi Rumah Warga di Desa Olimohulo Kecamatan Asparaga terendam banjir dengan ketinggian air sampai di lutut hingga pinggang orang dewasa, selasa (19/5/2026).

73 Rumah Di Desa Olimohulo Asparaga Tergenang, Banjir Langganan Perlu Penangan Serius

Tuesday, 19 May 2026
Kegiatan edukasi dan diseminasi aplikasi HALO STROKE berlangsung di Graha Mufidah Gorontalo, Senin, (18/5/2026). (Foto: Roy/Gorontalo Post)

Aplikasi Halo Stroke, Masyarakat Dipermudah Mengakses Informasi Kesehatan

Tuesday, 19 May 2026
Ridwan Monoarfa

Buruh dan Agenda Kebangkitan Nasional

Wednesday, 20 May 2026
Dua unit alat berat jenis excavator berhasil diamankan oleh personel Dit Reskrimsus Polda Gorontalo beserta personel Polres Pohuwato di lokasi PETI Taluditi.

Polda Amankan Dua Alat Berat di Lokasi PETI, Ditemukan di Dua Lokasi Berbeda di Kecamatan Taluditi

Tuesday, 19 May 2026

Pos Populer

  • Penertiban PETI di Desa Batu Kramat Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo, Gorontalo Rabu (14/5/2026). (Foto: Roy/Gorontalo Post).

    Picu Kerusakan Lingkungan Kian Parah, Penambang Liar Paguyaman Diburu Polisi

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Nyaman dan Profesional, ASTON Gorontalo Hadirkan Venue Meeting Modern dan Terlengkap

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • 73 Rumah Di Desa Olimohulo Asparaga Tergenang, Banjir Langganan Perlu Penangan Serius

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Aplikasi Halo Stroke, Masyarakat Dipermudah Mengakses Informasi Kesehatan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tuntutan Tinggi

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.