Gorontalopost.co.id, JAKARTA — Kenaikan harga minyak dunia akibat krisis di timur tengah akhirnya mulai berdampak bagi Indonesia. Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi mengalami kenaikan harga.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara soal harga BBM nonsubsidi yang naik besar-besaran di Indonesia mulai Sabtu (18/4). Menurut mereka, penyesuaian angka tersebut mengikuti dinamika harga yang terjadi di pasar global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait kabar kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram (kg). Menurutnya, LPG 12 kg memang diperuntukkan bagi masyarakat mampu, sehingga penyesuaian harga seharusnya tidak menjadi persoalan besar.
Bahlil menegaskan, kehadiran negara harus memprioritaskan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, subsidi energi seharusnya lebih difokuskan kepada kelompok kurang mampu.
“Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Ya udah, orang mampu kan. Gini loh, bos, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu,” kata Bahlil dalam kepada awak media, dikutip Minggu (19/4).
Di sisi lain, Bahlil memastikan harga LPG subsidi 3 kg tidak akan naik. Ia menegaskan kebijakan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. “Kalau yang subsidi tetap (LPG 3 kg). Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah juga aturan,” jelasnya.
Selanjutnya, Bahlil juga menyinggung ketidaktepatan jika masyarakat berpenghasilan tinggi justru menggunakan LPG subsidi 3 kg yang sejatinya diperuntukkan bagi warga kurang mampu.
“Jadi kalau masa contoh model kayak orang kaya, ya masa orang kaya pendapatannya di atas Rp 500 juta per bulan disuruh pakai LPG 3 kilo? Sorry ye,” tegasnya. Selain soal harga, Bahlil memastikan pasokan LPG nasional dalam kondisi aman meski Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan domestik.
“Alhamdulillah kita dengan Pertamina, dengan kami di ESDM dan semua pemangku kepentingan selalu melakukan konsolidasi untuk mencari alternatif-alternatif terbaik. Dan sekarang posisi LPG kita di atas standar minimum nasional. Jadi insyaallah clear,” papar dia.
Terpisah Juru Bicara (Jubir) Kementerian ESDM, Dwi Anggia. Menurut dia, keputusan yang diambil pemerintah merupakan respons terhadap kondisi pasar global. Ia menyebut negara-negara tetangga telah terlebih dahulu menaikkan harga bahan bakar minyak.
Bahkan, kata dia, rentang kenaikannya sangat tinggi. Dia mengklaim, yang terpenting sekarang adalah memastikan harga transparan, kompetitif, dan tak menimbulkan distorsi di pasar. PT Pertaminaterpantau telah menyesuaikan harga BBM di Indonesia, Sabtu (18/4). Ada tiga jenis bahan bakar yang terdampak, yakni Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex!
Dilansir dari laman mypertamina.id, harga Pertamax Turbo kini sudah tembus Rp 19.400/liter. Padahal, sebelumnya, BBM tersebut hanya dibanderol Rp 13.100/liter. Maka, kenaikannya mencapai Rp 6.300/liter.
Sementara Dexlite saat ini dijual seharga Rp 23.600/liter atau naik Rp 9.400/liter dibandingkan bulan lalu. Kemudian untuk Pertamina Dex kini dibanderol Rp 23.900/liter dari yang sebelumnya hanya Rp 14.500/liter.
Meski demikian, Pertamina tetap menahan harga BBM subsidi seperti Pertalite yang masih Rp 10.000/liter dan Solar yang tetap Rp 6.800/liter. Selain itu, BBM nonsubsidi jenis lain juga tak mengalami perubahan. Pertamax masih dijual Rp 12.300/liter dan Pertamax Green Rp 12.900/liter.
LPG Nonsubsidi
Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga juga melakukan penyesuaian harga LPG nonsubsidi 12 kilogram sebesar Rp 228 ribu per tabung, dari sebelumnya Rp 192 ribu. Kenaikan gas LPG 12 kilogram ini persentase naiknya sebesar 18,75 persen. Kenaikan harga LPG tersebut yang pertama kalinya sejak 2023.
Dikutip dari laman resmi Pertamina Patra Niaga, Minggu (19/4) harga Rp 228 ribu untuk LPG 12 kilogram berlaku di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Untuk provinsi lainnya juga mengalami penyesuaian harga berdasarkan biaya distribusi menuju wilayah masing-masing. Kemudian, harga LPG nonsubsidi jenis 5,5 kilogram juga mengalami peningkatan harga sebesar 18,89 persen, dari Rp 90 ribu per tabung menjadi Rp 107 ribu per tabung.
Kenaikan harga itu untuk wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Penyesuaian harga ini mulai berlaku per 18 April 2026.
Penyesuaian harga tersebut merupakan kali pertamanya sejak November 2023. Pada November 2023, Pertamina menurunkan harga LPG 12 kilogram menjadi Rp 192.000 per tabung atau turun sebesar Rp 12.000 per tabungnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyampaikan harga LPG turut dipengaruhi oleh harga minyak yang kian meroket. Harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 ditetapkan sebesar USD 102,26 per barel, naik USD 33,47 per barel dibandingkan Februari.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menyampaikan lonjakan ICP tidak terlepas dari dinamika geopolitik global yang memanas sepanjang Maret 2026.
Lebih lanjut, Laode menjelaskan kenaikan harga minyak mentah global dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung terhadap pasokan energi dunia.
Salah satu faktor utama adalah terganggunya jalur distribusi energi global termasuk penghentian pelayaran melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Selain itu, berbagai serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah turut memperburuk kondisi pasokan.(jpnn)












Discussion about this post