logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Profesi-Profesi Hebat

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 13 April 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Industri Hoaks dan Kemarahan

Pagar “Makan” Tanaman

Oleh:
Basri Amin

 

GADIS muda itu berdiri di tanah lapang yang luas, mengamati sekelilingnya dan memandang ke atas untuk melihat gedung-gedung yang tinggi. Bagian muka gedung-gedung itu penuh dengan nama-nama yang tertulis dengan huruf-huruf yang besar: dokter, pengacara, akuntan, penjahit, tukang pijat, dst. Tetapi pandangan matanya tertarik pada sebuah tulisan, “Laboratorium Penelitian Abdu al-Sami”.

Tiba-tiba ada sesuatu yang mencerahkan kepalanya, seolah-olah ada sinar lampu senter kecil yang diarahkan kepadanya. Terlihat di kepalanya sebuah gagasan yang tampak jelas di bawah cahaya biru. Gagasan itu, selama ini, selalu ada di kepalanya, tersimpan dalam kegelapan, tanpa gerak, tetapi itu selalu ada, dan Fuadah tahu bahwa gagasan itu ada…

Fuadah berjuang mati-matian untuk menjadi ahli Kimia, dalam kondisi keluarganya yang terbatas dan di tengah-tengah “penjara” sosial yang masih mengepung Kairo dan Mesir pada umumnya. Seorang gadis desa yang menerima kebebasan bercita-cita karena pengaruh “aroma bahasa” dan ledakan motivasional dari Guru kimia-nya di sekolah. Ia disadarkan tentang sesuatu yang “berbeda” dalam dirinya. Tapi, untuk mewujudkannya, terdapat sistem besar yang merintangi.

Cuplikan di atas adalah bagian cerita panjang yang memantulkan paradok-paradoks hidup yang dialami oleh masyarakat Mesir, terutama kaum perempuan. Gambar seperti inilah yang dipotret sekian lama oleh novelis Mesir, Nawal el-Shadawi, dalam Kabar dari Penjara (2000). Dari sekian banyak cerita el-Shadawi, kita di Indonesia pun semakin bisa berkaca, terutama tentang kemajuan-kemajuan yang kita capai. Memang, kita butuh sadar bahwa tidaklah mudah menemukan kenyataan masyarakat kita yang sebenarnya.

Terlalu banyak kejadian setiap harinya, sehingga siapa pun akan kesulitan memantulkannya menjadi percakapan yang memberi pengaruh. Nyaris, dalam sebuah masyarakat yang sudah terlipat dan tergulung oleh rupa-rupa perkara yang praktis, kegiatan “merenung” dan “memikirkan” sesuatu tidak lagi beroleh tempat jelas. Tak ada pantulan bermakna dan berwarna. Karena, yang lebih dimintakan oleh pasar (komunikasi) keseharian adalah kedangkalan dan kelincahan menerapkan siasat hidup.

Ilmu silat-lidah pun makin laku di pasaran media. Gejala itulah yang mengepung kita. Kita menjadi “bangsa limbung” yang kesulitan merumuskan dan menerjemahkan “kehendak kita” sendiri. Kita mengalami sekian banyak (periode) krisis, sebagaimana diingatkan Soekarno tahun 1952, yakni “krisis cara berpikir dan cara meninjau”, juga “krisis kewibawaan” (Hartaningsih, 2008).

Untuk keadaan Mesir, nasib manusia Fuadah ada dimana-mana. Sebuah gejala, yang meskipun tersebar luas, amat jarang melahirkan kepekaan yang meledakkan perbaikan. Apa yang sudah sekian lama tumbuh sebagai “gagasan” atau sejenis cita-cita tertentu selalu terhalangi oleh jarak dan tekanan.

Hal itulah yang disimbolkan dengan “gedung-gedung tinggi” dalam pengalaman dan cerita Fuadah. Bahwa pengalaman dan aspirasi (individual) terkecil sekalipun, dalam sebuah masyarakat berbudaya tinggi, mestinya dibela dan diberi ruang yang adil.

Lemahnya kepekaan mencermati perkara-perkara sederhana sejajar dengan kerentanan terkepung oleh kegairahan yang berlebihan mengurusi peristiwa-peristiwa “hiburan” dan ritual “kalangan terbatas”. Pembelahan kesadaran kolektif terbentuk dari sini, dengan resiko di mana kepalsuan dan simpul-simpul kebajikan menjadi mudah terpinggirkan.

Pertanyaan dan harapan yang sungguh-sungguh menjadi nadi kehidupan masyarakat yang progresif tidak pernah menjadi judul besar dari percakapan. Bahkan, negara pun kehilangan kapasitas menerjemahkan tema-tema kehidupan nyata masyarakatnya. Pada sebuah negara yang rentan seperti ini, “ritus pejabat” dan penjinakan-penjinakan kreativitas demikian mudah tampil di permukaan. Mentalitas “tukang” dan pola “parasit” diam-diam menjadi acuan hidup.

Otoritas, atau dalam bahasa lain, kewibawaan dan kepercayaan yang didasarkan pada kemampuan dan keteguhan pribadi, serta loyalitas pada perbaikan nasib orang banyak, membutuhkan restorasi serius. Jangan terlambat untuk mengakui bahwa hampir di semua profesi kehidupan, apa yang selama ini kita sebut otoritas –-sebagai sumber rujukan— semakin goyah.

Amat terasa bahwa kita, sebagai masyarakat, semakin sulit untuk mampu saling mendengarkan dan saling mengikuti satu-sama lain. Rujukan perbaikan dan kebajikan goyah. Perangai saling merendahkan dan mendelegitimasi semakin luas. Apa saja demikian mudah kita sebarkan dan berbantahan di media-media sosial yang interaktif.

Kasta-kasta hidup kita bentuk sedemikian rupa dengan ketergantungan yang terus membesar kepada uang dan status. Tak heran kalau harumnya nama kita sangat ditentukan oleh judul kekuasaan dan asesori hidup yang menghamba kepada pasar zaman. Celakanya, ketika kekuasaan tengah dalam genggaman kita, yang kita hapal dalam pikiran adalah “kekuasaan untuk menguasai” (power to control…), bukan “kekuasaan melakukan sesuatu yang luhur” (power to do…). Tak heran kalau yang dominan kita lahirkan di negeri ini adalah penguasa yang terlalu bernafsu dan haus dengan “pujian” dan “seremoni”. Bersilat lidah di mana-mana.

Kita begitu mudah saling mengintip dan mencurigai satu-sama lain. Juga saling menelikung dan saling memancing ruang-ruang kepalsuan setiap harinya. Kesibukan komunikasi kita dibangun di atas keroposnya fondasi kebudayaan yang matang menerima perbedaan.

Faktanya, kita semakin tumbuh menjadi masyarakat yang dasarnya adalah “keramaian” komunikasi, bukan menjadi masyarakat yang tertempa karena “kematangan” kebudayaan dan “keluasan” pengalaman (bersama) yang saling membebaskan berbagi pencapaian dan pergumulan hidup. Padahal, dengan itulah kita akan tumbuh menjai bangsa yang sungguh-sungguh tumbuh dengan potensi belajarnya yang tinggi. ***

Penulis adalah Parner di Voice-of-Hale Hepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Muh. Amier Arham

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Sunday, 19 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Thursday, 16 July 2026
Muhammad Makmun Rasyid

Industri Hoaks dan Kemarahan

Wednesday, 15 July 2026
Basri Amin

Pagar “Makan” Tanaman

Monday, 13 July 2026
Legislator Muda, Apa yang Berubah?

Legislator Muda, Apa yang Berubah?

Thursday, 9 July 2026
Muh. Amier Arham

ASN Ilusi Kelas Menengah

Monday, 6 July 2026
Next Post
Satu unit mobil pick up jenis Suzuki Carry berwarna hitam tanpa nomor Polisi terbakar tepat di depan Kantor Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato.

Diduga Muat Solar Pikap Terbakar, Pengemudi Tumingkas, Polisi Lakukan Penyelidikan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 16 Juli 2026

Rekomendasi

Pengumuman Libur Khusus Final Pildun di Gorontalo Hoaks

Pengumuman Libur Khusus Final Pildun di Gorontalo Hoaks

Sunday, 19 July 2026
Muh. Amier Arham

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Sunday, 19 July 2026
Dipicu Pembakaran  Ban Mobil Bekas di Tabumela, Kebakaran Lahan Nyaris Merembes ke Rumah Warga

Dipicu Pembakaran Ban Mobil Bekas di Tabumela, Kebakaran Lahan Nyaris Merembes ke Rumah Warga

Sunday, 19 July 2026
Umar Karim

Salah Desil DTSEN, Data Warga Miskin Terbaca ‘Konglomerat’, Umar: Kok Sama dengan Rafi Ahmad

Friday, 17 July 2026

Pos Populer

  • APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pengumuman Libur Khusus Final Pildun di Gorontalo Hoaks

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Saksi Ungkap Perbuatan Terdakwa PETI, Tertangkap Tangan Saat Menambang Emas Ilegal di Saripi

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail Tinjau Kualitas Pembangunan Rumah BSPS

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.