logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Persepsi

Republik di Dunia yang Susah Damai

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 16 March 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Memahami Logika Kebijakan BLP3G Tahun 2026

Sampah Kita dan Dosa-Dosa Kita

Memaknai Kebijakan Pemberian Kesempatan & Perpanjangan Waktu dalam Penganggaran & Pembayaran Melampaui Tahun Anggaran

oleh:
Basri Amin

NEGERI ini memikul warisan peradaban dunia yang besar. Dan uniknya, negeri ini memilih “burung” sebagai lambang negara. Tak banyak negara di dunia yang mengukuhkan identitasnya dengan semangat “terbang tinggi”, setinggi jiwa Garuda atau seluas cakrawala Rajawali.

Ketika dunia hari-hari ini semakin susah damai, lalu di manakah letaknya jiwa “terbang tinggi” Indonesia itu sepantasnya beroleh tempat?

Sejarah kita yang panjang tidaklah menjamin kekuatan kita di persaingan global. Beragam percobaan monumental pada periode awal kebangsaan kita, terutama dalam mengambil peran di kawasan Asia pada era Perang Dingin (1947-1991) dan pada periode setelahnya, berhasil menunjukkan bahwa Indonesia memang adalah “negara besar”. Tak ada yang meragukan bahwa kita selalu menjadi pemain penting di dunia, terutama di Asia Tenggara. Sayangnya, produktivitas kita belum juga menampakkan tanda-tanda hebatnya.

Jika ada yang cenderung kita sesali, hal itu adalah karena demikian beratnya benturan-benturan internal yang dialami Indonesia dari waktu ke waktu, bahkan sejak masa awal kemerdekaan (1947-1950). Bahwa kesempatan mengerjakan “pembangunan” selama 30 tahun lebih (Orde Baru, 1966-1998) yang berlangsung intensif, kita memang mencapai perbaikan infrastruktur dasar, ketersediaan pangandan pendidikan hingga ke desa-desa.

Sayang sekali, kekayaan alam kita terlalu digerus berlebihan dan tidak sepenuhnya terkelola “cerdas” untuk kepentingan jangka panjang yang lebih funda mental. Untuk waktu yang cukup lama, mutu hidup rakyat dan daya kompetisi manusia Indonesia tidak merata secara berarti. Di luar itu, kebebasan sipil dibatasi sedemikian rupa dan pendekatan militerisme demikian dominan.

Reformasi 1998 nyaris mengantarkan Indonesia menjadi negeri yang kalah dan “pecah” karena masalah identitas, aspirasi politik dan friksi ekonomi yang berkepanjangan. Kebebasan meledak di banyak arena dan panggung. Kekuatan kontrol atas kekuasaan negara meluas. Media dan perhimpunan masyarakat sipil meluas di mana-mana.

Bahkan ada suatu masa, kehadiran surat-surat kabar dan LSM menjamur di daerah-daerah seperti ‘cendawan di musim hujan.” Di awal tahun 2000-an, koalisi elite baru dan perkumpulan organisasi sosial adalah pelaku kunci yang meretas kebekuan otonomi daerah. Ketimpangan pembangunan menjadi tema utama di banyak wilayah. Sebagai hasilnya, pembentukan provinsi dan kabupaten-kabupaten baru.

Di manakah Indonesia? Ketika Indonesia Raya, Merah Putih dan Garuda Pancasila kita hendak tegakkan dan kukuhkan kembali saat ini, di manakah tempatnya? Sangat terasa bahwa “getaran” dan warna keindonesiaan itu tak lagi sama frekuensinya di antara kita semua.

Ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin tidak banyak berubah di negeri ini. Kehadiran kelompok ‘orang kaya baru’ pun lebih banyak dipicu oleh perlakuan kekuasaan atau kebijakan negara yang bias.

Otonomi daerah yang sekian tahun digerakkan tampaknya belum sepenuhnya dibangun di atas “moral” yang memihak kepada (nasib) daerah itu sendiri. Yang terjadi adalah kita terburu-buru “menjual” daerah dan “mengambil manfaat” dengan cara-cara sepihak.

Tekad untuk melakukan Reformasi yang sesungguhnya, yakni pada fondasi utama kebangsaan kita, yakni spirit pengorbanan dan kegotong-royongan, serta perjuangan gagasan dan gerakan yang menguatkan etos kepeloporan, terkesan masih sesak-nafas.

Negeri tercinta ini membutuhkan sebuah titik balik untuk menggugat kembali cita-citanya yang dengan penuh kehormatan memproklamasikan kemerdekaannya. Sejak itu, Indonesia bersuara lantang kepada dunia; sembari kita menebar suara kemerdekaan itu ke benua Afrika dan negara-negara lainnya di Asia.

Persatuan Indonesia sebagai negara-bangsa adalah tantangan serius kita dewasa ini. Jika kita menoleh sedikit ke belakang, marilah sadar bahwa Indonesia bukanlah sebuh negara-bangsa yang perjalanannya berjalan mulus. Apa yang kini kita beri “harga mati”, dengan tekad Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pernah mengalami goncangan yang hebat. Untuk sekian waktu kita pernah mengenal negara Republik Indonesia Serikat (RIS) tahun 1949 dan kemudian dibubarkan pada 17 Agustus 1950.

Ketika Negara Indonesia Timur (NIT) terbentuk, sebuah sidang besar dan penting digelar. Sidang parlemen NIT ini berjalan cukup lama dan alot, sejak sidang ini dibuka oleh ketuanya pada 22 April 1947 di Makassar. Selama 40 hari persidangan ini berjalan dengan penuh debat yang seru. Ini terjadi karena sengitnya pergesekan gagasan di antara tokoh-tokoh Indonesia Timur. Mereka terbelah kedalam aliran provinsialis dan republik. Meski waktunya cukup singkat, federalisme adalah sebuah gagasan yang pernah secara nyaring diperjuangkan oleh tokoh-tokoh bangsa kita di masa lalu (Amin, 2025).

Lalu, bagaimana dengan republikanisme? Inilah yang (seharusnya) kita rayakan: mentalitas republik! Bukan feodalisme acara dan ritualisme upacara.

Dunia hari-hari ini memintakan kesadaran yang lain dan pencermatan yang meniscayakan aksi global. Sulitnya karena dunia tengah dililit pragmatisme (politik) kawasan dan paradoks (ekonomi) yang lumpuh ketika berhadapan dengan penistaan terhadap kemanusiaan dan keadilan. Sebagairepresentasi Barat, Amerikakinimakincongkakdanmemarkirrasionalitasnya. Begitulah yang terpantul dari “sejarah kematian” yang begitu panjang di bumi Palestina. Tabiat yang sama juga kita saksikan dengan serangan brutalisme Amerika-Israel kepada Republik Iran. Kecemasan global lalu membesar dari hari ke hari. Semua belahan dunia saat ini tengah menyiasati kecemasan sejarahnya masing-masing.***

Penulis adalah Parner di Voice of Hale-Hepu

Tags: basri aminCatatan basri aminspektrum sosial

Related Posts

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Monday, 16 March 2026
Memahami Logika Kebijakan BLP3G Tahun 2026

Memahami Logika Kebijakan BLP3G Tahun 2026

Monday, 16 March 2026
Basri Amin

Sampah Kita dan Dosa-Dosa Kita

Monday, 9 March 2026
Yusran Lapananda

Memaknai Kebijakan Pemberian Kesempatan & Perpanjangan Waktu dalam Penganggaran & Pembayaran Melampaui Tahun Anggaran

Thursday, 5 March 2026
Muhammad Makmun Rasyid

Politik Rangkul Ulama

Tuesday, 3 March 2026
Dedy S. Palyama, SE. M.Si

Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

Tuesday, 3 March 2026
Next Post
Ilustrasi: Mobil Dinas Dilarang Mudik

Mobnas Dilarang untuk Mudik, KPK Buka Layanan Pengaduan Gratifikasi

Discussion about this post

Rekomendasi

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Monday, 16 March 2026
Memahami Logika Kebijakan BLP3G Tahun 2026

Memahami Logika Kebijakan BLP3G Tahun 2026

Monday, 16 March 2026
Basri Amin

Republik di Dunia yang Susah Damai

Monday, 16 March 2026
MBBH 2026, Honda Berangkatkan Ribuan Konsumen Setia Pulang Kampung

MBBH 2026, Honda Berangkatkan Ribuan Konsumen Setia Pulang Kampung

Monday, 16 March 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Sampah Kita dan Dosa-Dosa Kita

    227 shares
    Share 91 Tweet 57
  • Jelang Idulfitri Pasar Senggol Sepi

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Terima Audiensi Tokyo Gas dan Hanwa, Kementerian Kehutanan Tegaskan Komitmen Pengelolaan Hutan Lestari

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Insiden Pasar Sentral, Adhan Geram Merasa Hendak Dijebak

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    107 shares
    Share 43 Tweet 27
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.