logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Sapi Alat Politik, Hilirisasi Tak Pernah Tumbuh

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 9 February 2026
in Persepsi
0
Ridwan Monoarfa

Ridwan Monoarfa

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Semesta Sulawesi

Kebenaran dan Keimanan Kokoh Karena Makanan?

Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

UMKM Gorontalo dan Tantangan Naik Kelas Ekonomi Rakyat

Oleh:
Ridwan Monoarfa

Dalam masa reses di daerah pemilihan Gorontalo Utara, penulis kembali diingatkan oleh pemandangan yang berulang: sapi-sapi berkeliaran merumput di kaki bukit, menyatu dengan lanskap alam yang subur. Pemandangan ini bukan sekadar panorama desa, melainkan indikasi kuat bahwa Gorontalo tidak kekurangan sapi. Persoalannya bukan pada ketersediaan ternak, tetapi pada kegagalan kebijakan mengolahnya menjadi sumber nilai tambah dan kemandirian ekonomi.

Gorontalo memang bukan daerah miskin sapi. Pada 2024, populasi sapi potong di Provinsi Gorontalo mencapai 154.612 ekor. Kabupaten Gorontalo menjadi kontributor terbesar dengan 78.029 ekor, disusul Boalemo 21.525 ekor, Bone Bolango 18.592 ekor, dan Pohuwato 15.425 ekor. Angka ini menegaskan bahwa sapi potong telah menjadi basis produksi ekonomi desa yang nyata.

Fakta lain tak kalah penting. Pada Maret 2025, Gorontalo mengirim 2.944 ekor sapi ke Kalimantan dengan nilai transaksi sekitar Rp52,9 miliar. Artinya, sapi potong Gorontalo telah terhubung dengan pasar antardaerah dan menghasilkan uang besar. Namun pertanyaan kuncinya sederhana: uang itu tinggal di mana, dan siapa yang paling diuntungkan?

Di sinilah paradoks kebijakan sapi potong Gorontalo terlihat jelas. Produksi ada, transaksi terjadi, tetapi peternak tetap di posisi yang sama. Nilai tambah tidak menetap di desa, tidak menguatkan ekonomi rakyat, dan tidak memperbesar basis fiskal daerah. Yang tumbuh justru rutinitas program dan politik distribusi bantuan.

Di tengah wacana hilirisasi yang kembali mengemuka dalam Forum Konsultasi Publik RKPD Provinsi Gorontalo 2027, pertanyaan mendasar patut diajukan: apakah sapi potong sungguh diposisikan sebagai sektor strategis pembangunan daerah, atau sekadar alat politik distribusi yang diproduksi ulang setiap tahun?

Selama ini, keberhasilan kebijakan sapi potong lebih sering diukur dari berapa ekor bantuan disalurkan, bukan dari apa yang berubah dalam struktur ekonomi peternak. Pemerintah bahkan menargetkan penambahan 900 ekor sapi melalui inseminasi buatan pada 2025. Namun tanpa perubahan struktur usaha, penambahan populasi hanya melahirkan statistik baru, bukan kemandirian.
Sebagai anggota legislatif, penulis tidak menolak bantuan ternak. Yang dipersoalkan adalah ketiadaan arah kebijakan. Bantuan sapi tanpa desain hilirisasi hanya menjadi intervensi sesaat. Peternak tetap kecil, terfragmentasi, dan bergantung—lebih sering menjadi objek program ketimbang subjek industri.

Stabilitas Program, Mandeknya Perubahan Struktur Pengelolaan Sapi

Persoalan sapi potong sejatinya bukan soal teknis peternakan, melainkan pilihan kebijakan ekonomi daerah. Pembangunan kerap dimaknai sebagai menjaga stabilitas: anggaran terserap, program berjalan, laporan selesai. Stabilitas memang penting, tetapi stabilitas tanpa transformasi hanya melahirkan keteraturan administratif, bukan kemajuan ekonomi.
Akibatnya, sapi potong diperlakukan sebagai proyek tahunan, bukan sektor strategis. Produksi berjalan, tetapi rantai nilai tambah dikuasai pihak luar. Gorontalo memelihara sapi, sementara daerah lain menikmati daging, industri, dan nilai tambahnya. Peternak dipuji sebagai tulang punggung, tetapi tidak diberi posisi tawar.

Dari Politik Bantuan ke Politik Hilirisasi

Jika Gorontalo serius menjadikan sapi potong sebagai penggerak ekonomi daerah, perubahan arah kebijakan tidak bisa ditunda. Sapi potong harus diposisikan sebagai sektor strategis daerah. Kebijakan perlu diarahkan pada penguatan koperasi peternak yang fungsional, integrasi hulu–hilir, serta pembangunan ekosistem hilirisasi daging lokal—dari pakan, pembibitan, penggemukan, hingga pengolahan dan distribusi.
Tanpa perubahan struktur, bantuan apa pun hanya memperpanjang ketergantungan. Populasi boleh bertambah dan perdagangan antar meningkat, tetapi peternak tetap lemah dan daerah rapuh secara fiskal.

Penutup

Selama sapi potong hanya dipelihara sebagai angka laporan dan bahan kampanye program, Gorontalo sesungguhnya sedang menipu dirinya sendiri atas nama pembangunan.  Kita memproduksi sapi dan merayakan transaksi miliaran rupiah, tetapi membiarkan peternak tetap kecil, tercerai — terframentasi dan bergantung. Inilah kegagalan kebijakan yang paling telanjang: sapi tumbuh, anggaran habis, tetapi struktur ekonomi rakyat tidak pernah dibangun.  Tanpa keberanian memutus politik bantuan dan memulai hilirisasi yang berdaulat, sapi akan terus menjadi alat kekuasaan—sementara kemiskinan dipelihara sebagai warisan tahunan. Wallahu a‘lam bish-shawab (*) 

Penulis adalah anggota DPRD Provinsi Gorontalo

Tags: gorontalohilirisasiRidwan Monoarfasapi alat politik

Related Posts

Basri Amin

Semesta Sulawesi

Monday, 9 February 2026
Arifasno Napu

Kebenaran dan Keimanan Kokoh Karena Makanan?

Friday, 6 February 2026
--

Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

Wednesday, 4 February 2026
Basri Amin

Warisan Cinta

Monday, 2 February 2026
Ridwan Monoarfa

UMKM Gorontalo dan Tantangan Naik Kelas Ekonomi Rakyat

Monday, 2 February 2026
Yudapratama Wahyu Hadisurya

Ketika Suara Tak Lagi Bisa Dipercaya Love Scamming di Era Voice Cloning dan Deepfake Audio

Wednesday, 28 January 2026
Next Post
Basri Amin

Semesta Sulawesi

Discussion about this post

Rekomendasi

PILU- Secarik kertas berisi pesan perpisahan dari siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, kepada ibunya, sebelum ditemukan meninggal dunia. (foto: istimewa)

Kisah Anak SD BunDir di NTT, Tak Mampu Beli Buku, Mama Pelit Sekali

Thursday, 5 February 2026
Mobil kontainer tampak menerobos tanda larangan di Jalan Dua Susun (JDS) Kota Gorontalo. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Dilarang Masuk JDS, Kontainer Nekat Terobos Tanda Larangan

Friday, 6 February 2026
Kantor Kejari Kabupaten Gorontalo.

Dugaan Gratifikasi dan Korupsi KMP, Tiga Jam Kadispora Kabgor Diperiksa Kejaksaaan

Friday, 23 January 2026
Ismet Mile

SK DPP Dianggap Ilegal, Kader PPP Tolak Ismet

Thursday, 5 February 2026

Pos Populer

  • Ismet Mile

    SK DPP Dianggap Ilegal, Kader PPP Tolak Ismet

    128 shares
    Share 51 Tweet 32
  • Kisah Anak SD BunDir di NTT, Tak Mampu Beli Buku, Mama Pelit Sekali

    101 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Tinggalkan Golkar, Ismet Nakhodai PPP Gorontalo

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
  • Pelabuhan Perikanan Inengo Terbengkalai

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Mahasiswa Timor Leste Raih Amd.Farm di UNG, Rektor Proses Beasiswa Sampai Profesi Apoteker

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.