logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Semesta Sulawesi

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 9 February 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

oleh:
Basri Amin

PULAU Sulawesi adalah pulau terindah langitnya di Nusantara. Demikian juga dengan kekayaan buminya. Tak ada yang bisa menandingi pulau Sulawesi, kecuali Borneo. Udara di Sulawesi segar, tanahnya subur, dan penduduknya lebih maju. Pulau ini, Sulawesi, adalah “gabungan pemandangan ceria pulau Lucon dan unsur megah pulau Timor, serta alam Sumatera yang perkasa dan keliaran Borneo.”

Lanskap alam Sulawesi menjulang tinggi, bergunung-gunung terutama di bagian utara. Di pulau ini, penduduk pribumi banyak yang berusia lebih seratus tahun karena daya tahan dan kesehatan mereka terpelihara, seperti halnya mereka tinggal di Skotlandia dan Rusia.

Gadis-gadis (di) Sulawesi dibesarkan oleh ibu mereka.

Kesaksian di atas diutarakan tahun 1830 oleh seorang perwira Perancis, anggota pengawal pasukan Raja Charles X. Ia mengalami pengasingan selama 15 tahun di Hindia dan sempat berkeliling Nusantara. Lebih setahun dia menyelami Sulawesi dan daerah-daerah sekitarnya. Kesaksian di atas termasuk catatan orang Barat yang cukup panjang, sekitar 39 halaman (Dorléans, 2016).

Kesaksian romantik seperti ini adalah sangat tipikal Barat ketika menggambarkan eksotisme kawasan tropis di Asia Tenggara. Meski masih sering diabaikan bagaimana peran “ekspedisi ilmiah” dalam menempatkan kontribusi kawasan ini sebagai sebuah pusat yang penting menurut kacamata Barat (Miller, 2012). Dalam skala regional, ketika melihat perjalanan sejarah manusia Sulawesi dari jarak dekat, termasuk Gorontalo, yang akan kita temukan adalah sebuah dinamisme yang berkecamuk, terutama kalau kita merujuk tiga abad perjalanan sejarahnya sejak abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-20.

Jaringan niaga di Kawasan Timur Indonesia adalah bagian dari simpul-simpul perubahan besar yang menghubungkan Asia Tenggara dan Eropa di satu sisi, sementara kelompok niaga yang lain yang berasal dari China, Arab dan India di sisi lain juga melangsungkan hubungan-hubungan intensif dengan kerajaan-kerajaan utama di Nusantara yang sudah berlangsung sejak abad ke-17, bahkan jaringan niaga itu sudah terjadi berabad-abad sebelumnya di beberapa kota pelabuhan di Nusantara (Hall, 1975; Reid, 1992; Clarence-Smith, 1998; Amal, 2002; Wirawan, 2013).

Tetapi jauh sebelum kedatangan “bangsa luar” tersebut sebenarnya sangat jelas bagaimana kekuatan (maritim) lama secara progresif berhasil menopang dinamisme ekonomi di kawasan ini, terutama di laut Sulawesi dan Maluku. Mereka adalah para pelaut Bugis, Makassar, Mandar, Melayu, Maluku dan Sulu (Van Leur, 1955; Warren, 1981; Andaya, 1992; Lapian, 1986 [2009]; Juwono & Hutagalung, 2005; Knapp, 2006; Hasanuddin, 2014; Amin, 2014; Hasanuddin, 2016; Karim, 2018).

Gorontalo sebagai kawasan yang sejak pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20 merupakan persilangan sejumlah komoditi penting, baik dari dalam Gorontalo sendiri maupun yang berasal dari pulau-pulau sekitarnya di Teluk Tomini (Ulaen, 2005; Hasanuddin, 2014; Karim, 2018). Di luar itu, perjumpaan kultur ekonomi baru yang memberi peluang-peluang tertentu bagi konsolidasi ekonomi Gorontalo berjalan seiring dengan mobilitas pedagang pribumi, ketersediaan tenaga kerja lintas pulau dan “mitra usaha” pribumi yang siginifikan, yaitu pedagang Arab, China dan Bugis.

Di sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20 Gorontalo, tekanan-tekanan ekonomi yang monopolistik oleh Belanda sedemikian rupa memaksa kekuatan ekonomi Gorontalo –yang berbasis komoditi dan dukungan kawasan sekitarnya—sehingga hanya mampu bertahan pada komoditi yang terterima di pasar global. Dalam konteks ini, kopra adalah komoditi utama yang kuat bertahan dan masih sangat signifikan eksis sampai 1950an (Purba, 2017), bahkan sampai saat ini masih terus berusaha merebut ruang-ruang ekonomis idealnya sendiri di Gorontalo dan di pulau-pulau sekitarnya.

Bagi Gorontalo, Kwandang jelas sangat strategis di pantai Utara Gorontalo. Ia terhubung sepanjang jalur pantai yang juga menopang mobilitas komoditi di bagian utara, yaitu dengan Boroko, Kaidipang, Bolaang Itang. Jika diurut dari Timur ke Barat, pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan ini adalah Amurang, Inobonto, Labuan Boroko, Kaidipang, Kwandang, Buol dan Toli-Toli. Sejalur dengan itu, penting dicatat adalah pelabuhan Buol karena di wilayah ini terdapat penggalian emas, bahkan tetap aktif hingga awal abad ke-20 (Lapian, 2009: 47-48).

Pantai adalah titik temu niaga yang dinamis, meski dalam kasus-kasus lain dinamika jaringan dan muara sungai dan pelabuhan pantai dan laut merupakan ruang yang dominan diceritakan dalam sejarah, sebagaimana terjadi pada umumnya di Asia Tenggara (Kathirithamby-Wells & Villiers, 1990).

Di Teluk Tomini, kedudukan perdagangan lintas pulau sangat jelas merupakan karakter utamanya. Terdapat sejumlah pelabuhan yang menjadi basis interaksi ekonomi, baik sebelum kedatangan Barat maupun setelah periode pasca monopoli perdagangan dan pelayaran oleh Belanda dan Inggris, serta Jepang.

Melalui jalur niaga dan pelayaran itu pula kompetisi di antara kekuatan “perahu layar” (Bugis, Mandar, Makassar, Maluku) dan ekspansi “kapal uap” (Eropa) terjadi secara terbuka di akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, sekaligus masih membenarkan kelanjutan dari “perebutan samudera” di Laut Sulawesi sebagaimana disimpulkan oleh Andri Lapian (1984).

Pada periode berikutnya, terutama pada era 1930an, membawa cakrawala baru bagi perlintasan (komoditi) dari Indonesia dan arus impor dari luar negeri dalam percaturan ekonomi dunia, khususnya di Asia Pasifik (Ratulangie, 1984).

Secara khusus, kedudukan pelabuhan Gorontalo sejak abad ke-19 telah diberi perhatian mendalam oleh Hasanuddin (2014) yang berhasil mengidentifikasi sejumlah armada Eropa dan bagaimana persinggungannya dengan kekuatan “perahu layar” yang sama-sama membangun divisi ekonomi yang ekspansif, baik dalam arti kedalam —pembelian hasil-hasil tambang, laut, perkebunan dan kehutanan–, maupun dalam arti keluar —berupa kegiatan suplai kebutuhan-kebutuhan lokal yang harus diimpor dari negara-negara lain, atau dari pulau Jawa–.

Sejak 1850-an, sejumlah konsesi dagang menjadi tema sentral ekonomi kolonial yang menempatkan kawasan ini sebagai pusat monopolinya, terutama melalui jalur-jalur perjanjian resmi dengan penguasa-penguasa lokal (raja), di mana sistem pajak menjadi semakin dominan, demikian pula dengan bentuk-bentuk aliansi regionalnya untuk hampir semua komoditi utama yang disasar oleh Belanda, terutama di masa VOC dan di periode berikutnya di masa “pemerintahan langsung” (Juwono & Hutagalung, 2005; Hasanuddin, 2014).

Dinamisme ekonomi Gorontalo di abad ke-19, sebagaimana hal serupa dialami oleh banyak kawasan lain di Indonesia Timur yang tersambungkan sekian abad sebagai “kawasan rempah”, tidak bisa sepenuhnya dimengerti berdasarkan gambaran tunggal dengan hanya melihat monopoli dan penguasaan semata. Kekuatan jaringan niaga Arab dan China sangat jelas “bermain” sangat lincah di antara kekuatan-kekuatan tersebut, termasuk di antaranya yang mempunyai reputasi penguasaan jalur niaga untuk komoditas tertentu, seperti damar, rotan, tekstil, beras, kayu-kayuan, minyak, hasil laut, dst.

Dewasa ini, jaringan niaga Sulawesi, khususnya Gorontalo? ***

Penulis adalah Penulis.
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri amingorontalogorontalo postPersepsi Gorontalo PostSemesta Sulawesispektrum sosial

Related Posts

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Wednesday, 9 September 2026
Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Next Post
Ilustrasi--

Paling Banyak di Pedesaan, 155 Ribu Warga Gorontalo Miskin

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Polemik Eks Rumah Jawatan, Adhan Ungkap Kejanggalan

Polemik Eks Rumah Jawatan, Adhan Ungkap Kejanggalan

Wednesday, 9 September 2026
Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Tuesday, 8 September 2026
Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Tuesday, 8 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Polemik Eks Rumah Jawatan, Adhan Ungkap Kejanggalan

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Mens Rea dalam Doktrin & Norma

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.