Oleh:
Basri Amin
KITA butuh kota yang benar-benar dikelola dengan keberanian yang cerdas mengubah kenyataan dan yang dipimpin oleh gagasan yang jernih mengarahkan politik perbaikan ke masa depan.
Gesekan demi gesekan ruang hidup akan semakin mewarnai hampir semua kota-kota di dunia. Konflik tata ruang, kelola aset dan akses publik, tekanan penduduk dan permukiman, arus modal dan perubahan pola hidup, akan semakin mendesak gaya dan daya kepemimpinan baru di kota-kota kita. Untuk apa? Agar iklim “ruang bersama” yang lebih adil dan yang berkelanjutan bisa terasakan oleh semua kelompok masyarakat. Tidak mudah!
Dalam faktanya, kecukupan permukiman, timbunan perilaku yang merusak lingkungan dan kebersihan air, kesejukan dan keamanan bersama, kebisingan dan persampahan, semuanya datang-bertumpuk di saat yang sama.
Kadang mendesak dengan pebuh-sesak di pagi sampai di sore hari, terkadang pula menumpuk-sesak di setiap malam dan di akhir pekan, dst. Ribuan orang “menumpuk” di kota –-dan tentu saja beserta perilakunya dan motif-motifnya yang tak sepenuhnya terkontrol–.
Mengurus sebuah Kota adalah “membalut luka-luka sejarah dalam kebudayaan kita yang paling nyata…di mana agama-agama sekali pun seringkali berubah menjadi kekuatan penyembuh yang berulang terlambat…
Di sisi lain, mereka yang merasa profesional, pakar, atau yang merasa berpengaruh memberi jalan keluar, sesungguhnya memendam rasa cemas yang berkepanjangan karena terpukau dengan pengakuan kekuasaan dan pemburuan rente ekonomi-politik baru yang selamanya rentan lepas dari tangannya…drama demi drama di atas panggung kekuasaan yang keropos tiang-tiang penyangganya…
Ibarat perahu, kota-kota kita “kelebihan penumpang” dengan gelombang yang menghadang. Terancam oleng penuh bahaya jika tak punya Nahkoda hebat yang disiplin dan yang tegas memahami navigasi, perubahan cuaca, dan kesiapan awaknya. Seorang Kapiten Perahu yang tertempa dengan firasat…
BANYAK kota kita yang kini kelihatan sibuk tetapi sesugguhnya dari waktu ke waktu tak punya arah dan jalan masa depan yang berjangka panjang. Banyak kota yang menampung banyak aparat, pejabat dan kapital, tetapi selalu terkesan tidak beroleh “kepemimpinan” yang otentik memihak kepada gagasan perbaikan dan kerja-kerja bermakna bagi semua golongan.
Kota sejatinya di bangun di atas sejarah, gagasan, aksi-aksi pembaruan yang berani, dan gerakan tertentu. Meski setiap kota tetaplah mempunyai semacam “luka” yang membutnya perih, entah itu sebuah luka di masa lalu dan/atau di masa kini, tetapi kota tetaplah merupakan pencapaian peradaban manusia yang tinggi.
Tak heran kalau orang cenderung menyenangi kota dan berlomba-lomba untuk tinggal di kota, menjadi warga yang urbanized.
Kota yang jujur selalu menyadarkan tentang keaslian (perangai) kita. Begitu banyak harapan kepada setiap kota yang kita bangun. Demikian juga dengan daftar keluhan dan persoalan. Untuk memenuhi setiap harapan, sepertinya cara “menyicil” merupakan pilihan, agar kota-kota kita tidak sesak nafas dengan harapan-harapannya sendiri.
Beban yang terus membesar membutuhkan penyikapan, pelibatan dan penyesuaian tindakan dan cara bernalar. Jika tidak, yang kita bangun hanyalah sebuah kota yang berisi keramaian dan kerumunan. Kota seperti ini pada akhirnya hanya akan mewariskan “luka” yang terus menganga
Masa depan sebuah kota terlalu penting untuk hanya diserahkan kepada birokrasi. Apalagi, jika perangai yang dibangun oleh pemerintah kota lebih banyak memproduksi “kata-kata” dan “piagam-piagam” lencana, tapi tidak sepenuhnya memperlihatkan kerelaan cerdas untuk “belajar” dengan tuntas, agar lebih memahami yang rinci dan mampu memungut masukan-masukan dan jalan-jalan (keluar) yang kreatif atas setiap persoalan.
Tidak semua kota sukses memelihara modalnya yang unik, yakni keterbukaan dan kejujurannya dalam menemukan kesalahan. Ada kesan yang kuat, pemerintah kota-kota di negeri ini lebih sibuk menebar “tontonan” dan kesan-kesan yang dangkal –-termasuk beragam gaya seremoni— daripada sungguh-sungguh mengerahkan kemampuan tata-kelola terbaiknya dan dengan sikap itu pula ia rela berkeringat untuk perbaikan-perbaikan mendasar.
Kata-kata yang disertai angka-angka tentang kemajuan sebuah kota hanyalah lapisan luar dari apa-apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakatnya. Tak perlu kita berbasa-basi bahwa kota-kota kita masih menampung angka kemiskinan yang lumayan; demikian juga dengan rentannya rasa aman dan nyaman di berbagai sudut.
Di luar itu, kriminalitas dan penggunaan narkoba sejak awal sudah menyasar berbagai segmen; belum lagi dengan premanisme dan beragam illegalitas lainnya. Dan pada saat yang sama roda pasar dan sektor perdagangan memaksa pemanfaatan ruang di perkotaan, tidak jarang membuahkan gesekan dan guncangan di sudut-sudut perparkiran, pertokoan, dan perumahan.
Setiap jengkal ruang kota hendaknya dipastikan status dan kontribusi (fungsionalnya) dalam pembangunan perkotaan kita. Dengan begitu, “tata ruang” tidak sekadar gincu dari motif kita yang sebenarnya, yakni “tata uang”.
Di kota, antara ruang dan uang sudah sangat tumpang-tindih. Di sinilah letaknya mengapa kuasa (pemerintah) mudah digeser oleh kuasa-kuasa “lain” di luar dirinya, terutama karena kepentingan penguasaan ruang merupakan kekuatan paling keras yang menekan (otoritas) negara di perkotaan.
Jika ini tidak disadari sejak awal dengan memadai, maka sebuah kota tak lagi punya ruh dan identitas. Ia tak lebih sebagai tumpukan pemukiman, pertokoan, dan tempat hiburan saja yang disesaki dengan gedung, dililit trotoar, gudang-gudang dan gugusan komoditi, orang dan kendaraan yang lalu-lalang.
Penulis adalah Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com











Discussion about this post