logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Rahmanullah Lakanwal

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 2 December 2025
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

MENGAPA detail tentang Rahmanullah Lakanwal belum juga diumumkan? Padahal sudah empat hari Rahmanullah melakukan penembakan dua tentara yang lagi patroli di Washington DC.

Patroli itu dilakukan di dekat stasiun kereta bawah tanah Farragut West. Di Washington DC kereta bawah tanahnya disebut Metro.

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Stasiun itu sangat dekat dengan Gedung Putih. Kalau jalan kaki hanya enam menit. Di stasiun kereta bawah tanah biasanya sering terjadi tindak kriminalitas. Maka tentara pusat dikerahkan untuk memberantas kriminalitas di ibu kota.

Presiden Donald Trump sangat jengkel dengan banyaknya kriminalitas di DC. Ia juga jengkel karena DC tidak lagi bersih dan rapi. Lebih jengkel lagi karena wali kota DC selalu saja dari Partai Demokrat.

Anda sudah tahu: undang-undang di Amerika melarang penggunaan tentara untuk tugas seperti itu. Itu tugasnya polisi. Di Amerika polisi di bawah perintah wali kota. Pengerahan tentara federal itu dinilai menghilangkan wewenang daerah. Trump tidak peduli. Ia menggunakan ”pasal” darurat.

Trump pun digugat. Pengadilan sudah memutuskan agar Trump menarik kembali tentara dari DC. Pengadilan memberi waktu satu bulan.

Kelihatannya Trump akan mencari cara menghindari putusan pengadilan itu. Bahkan ia akan mengirim tentara ke kota-kota lain yang dianggap tinggi kriminalitasnya. Misalnya New York, Chicago, Los Angeles. Kota-kota itu dipimpin wali kota Demokrat.

Pun setelah Rahmanullah menembak dua tentara federal. Trump justru menambah pasukan ke DC –di tengah putusan pengadilan yang sudah melarangnya.

Belum diungkapkannya detail mengenai Rahmanullah kabarnya karena tersangka penembakan itu ”tidak kooperatif”. Penyelidik masih terus menggalinya. Karena itu detail tentang Rahmanullah masih dirahasiakan. Misalnya soal mobil apa yang dipakainya ke DC. Dengan siapa ia bermobil. Mampir mana saja.  Ketemu siapa saja.

Jarak dari rumahnya ke DC ibarat perjalanan lintas benua Amerika. Rumahnya di Bellingham, di pantai barat Amerika. Di negara bagian Washington. Hanya 50 km dari Vancouver, Kanada.

Dari kota berpenduduk 100 ribu orang itu ia mengendarai mobil menuju timur. Saya pernah mengendarai mobil dari Seattle (dekat Bellingham) menuju DC. Setiap hari mengemudi tujuh atau sembilan jam. Perlu waktu lima hari.

Kendaraan Rahmanullah sudah ditemukan di satu tempat di DC. Tapi belum diungkap jenisnya. Dari tempat ia parkir itu ia berjalan mendatangi tentara yang sedang patroli. Mendekati mereka. Lalu dor! Dor! Dua orang tersungkur. Terkena peluru di kepala dan dada.

Salah satu yang tidak kena tembak menyergap Rahmanullah. Senjatanya dirampas: revolver kaliber .357 Magnum Smith & Wesson.

Nama pahlawan penyergap itu juga belum diumumkan. Aksinya telah menyelamatkan tentara lainnya dari aksi perorangan Rahmanullah. Dua korban dibawa ke rumah sakit.

Sarah Beckstrom (gadis 20 tahun) akhirnya meninggal dunia. Andrew Wolfe (24 tahun) masih kritis. Salah satu media di Amerika menyebut Sarah baru sehari bertugas sebagai tentara.

Belum diungkap juga, sudah berapa hari Rahmanullah berada di DC. Apakah baru hari itu tiba. Kalau sudah beberapa hari di mana ia tinggal selama di DC.

Keesokan harinya, tepat di hari Thanksgiving, rumah Rahmanullah di Bellingham didatangi FBI. Rahmanullah tinggal di sebuah rumah apartemen kelas murah:  sewanya USD2.000 sebulan.

Rahmanullah sudah empat tahun di situ. Bersama istrinya yang berjilbab dan lima orang anaknya –yang tertua umur 14 tahun.

Di hari Thanksgiving itu pintu apartemen Rahmanullah digedor keras: ”kami FBI,” kata yang menggedor. Lalu melakukan penggeledahan. Istri Rahmanullah dibawa FBI –tapi anak-anaknya tidak diikutkan.

Para tetangga, menurut media di Bellingham, mengenal Rahmanullah sebagai orang yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah komplain, tidak pernah bicara. Penduduk Bellingham umumnya liberal, tidak peduli orang lain, terbuka kepada siapa saja.

Karena itu banyak imigran datang ke Bellingham atau negara bagiannya, Washington.

Tapi orang Afghanistan terbanyak tinggal di California. Yang kedua tinggal di Texas. Barulah di Washington.

Di negara-negara bagian itu memang ada organisasi pertolongan untuk pengungsi.

Kedatangan orang Afghanistan terbanyak terjadi tahun 2021 –setelah Amerika menyerah di perang Afghanistan. Sebanyak 60.000 sampai 85.000 pengungsi datang ke Amerika.

Itu mirip dengan kedatangan pengungsi dari Vietnam di tahun 1975. Yakni ketika Amerika kalah perang di Vietnam. Mereka yang selama ini membantu Amerika takut hidup di negaranya. Takut dianggap pengkhianat negara.

Terbanyak mereka tinggal di California. Sampai ada kota disebut ”Little Saigon”. Ada lagi ”Kampung Vietnam”. Sejak itu masakan Vietnam sangat populer di Amerika.

Nasib pengungsi Afghanistan rasanya tidak akan sebaik pengungsi Vietnam. Gara-gara Trump. Ia bertekad tidak akan mengabulkan permintaan visa orang Afghanistan.

Rahmanullah sendiri, dulu agen CIA, masih warga negara Afghanistan. Padahal sudah empat tahun di Amerika. Ia juga takut pulang ke Afghanistan. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
GHM 2025, Garuda Ubah Jadwal Terbang

GHM 2025, Garuda Ubah Jadwal Terbang

Discussion about this post

Rekomendasi

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.