Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Dugaan keracunan pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mengakibatkan belasan siswa di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Gorontalo menjalani perawatan medis akhirnya terungkap sudah. Dicurigai bahwa dugaan keracunan MBG itu bersumber dari ikan.
Hal ini dibeberkan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Tengah Indah Ali saat diwawancarai ekslusif Gorontalo Post di kantornya, Kamis (9/10/2025). Indah Ali sebelumnya menceritakan kronologi adannya dugaan keracunan MBG tersebut.
Bermula ketika Selasa (7/10/2025) sekitar pukul 10.30 wita, pihaknya mendapatkan laporan dari sekolah bahwa ada siswa yang mengalami sakit perut dan mual setelah makan MBG. Mendapatkan informasi itu tim SPPG Kota Tengah langsung bergegas menuju sekolah untuk memastikan langsung kondisi siswa dengan mewawancarai mereka.
“Alhamdulilah tak lama setelah kami observasi, para siswa mengaku sudah membaik. Meski begitu kita tarik ompreng MBG dan isinnya kita bawa kembali ke dapur untuk disimpan guna dijadikan sampel,”kata Indah yang juga disampingi sejumlah stafnya.
Sekitar pukul 11.00 wita, pihaknya kembali menerima laporan adannya siswa yang alami gejala pusing, sakit kepala sehingga jumlah siswa yang diduga alami keracunan bertambah menjadi enam orang. Saat itu juga SPP berkoordinasi dengan dinas Kesehatan untuk pengambilan sampel dari pihak sekolah.
Tak lama berselang, ada lagi ketambahan siswa yang alami gejala sama. Sehingga total siswa semua yang diduga alami keracuna yakni delapan orang. Satu diantarannya dilarikan ke RS Bunda karena alami panic attack, darahnya naik jadi 140/90.
“Suspect kemarin itu ada di ikan, yang menyebabkan mereka sakit, tapi ada juga siswa yang tidak makan ikan, melainkan hanya makan nasi dan tahu tapi ikut alami gejala yang sama. Padahal menu ikan kami sudah dipastikan masih segar saat dari supplier. Begitu juga saat masak dipastikan diolah dengan baik. Bahkan, saat didistribusi masih diuji organileptik yakni dilihat rasa bau dan bentuknya sudah layak dikonsumsi,”jelas Indah Ali.
Lebih lanjut diterangkan Indah, perihal adannya bintik pada ikan, itu hanyalah serat dan ciri khas dari ikan tersebut. Upaya penanganan yang dilakukan SPPG yakni melaporkan ke dinas Kesehatan, pengambilan makanan untuk uji sampel, serta memantau kondisi kesehatan siswa yang masuk rumah sakit.
Indah juga mengakui bahwa kejadian ini baru yang pertamakali. “Selanjutnya kami memperketat SOP (Standar Operasional Prosedur) pengolahan makanan dalam dapur MBG. Hasil pemeriksaan sampel dari dinas Kesehatan dan dari BPOM kita masih tunggu selama 14 hari,”kata Indah.
Perempuan berhijab ini juga mengakui kompensasi yang diberikan kepada siswa korban keracunan yakni membantu fasilitasi pengurusan BPJS kepada korban yang belum memiliki BPJS, membantu orang tua yang menjaga anaknya di RS,”tandas Indah Ali. (roy)









Discussion about this post