logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 14 January 2026
in Persepsi
0
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

ilustrasi: Jejak Akomodasi Budaya

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Oleh:
Moh. Zulkifli Paputungan

 

Di tengah arus globalisasi yang cenderung menghomogenisasi identitas lokal, Gorontalo berdiri sebagai benteng ketahanan budaya yang unik. Julukan “Serambi Madinah” seringkali disalahartikan sebagai dominasi teologis semata yang menihilkan unsur lokal. Padahal, realitas sosiologis di lapangan menunjukkan hal yang jauh lebih kompleks dan indah. Masyarakat Gorontalo mempraktikkan apa yang saya sebut sebagai “inklusivitas kultural”sebuah mekanisme penerimaan terhadap tradisi leluhur yang kemudian diakomodasi dan ditenun rapi ke dalam kerangka syariat Islam.

Filosofi “Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah” (ASQ) bukan sekadar hierarki hukum, melainkan sebuah metode harmonisasi. Artikel ini akan membedah bagaimana akomodasi tersebut bermanifestasi tidak hanya dalam ritual, tetapi juga dalam arsitektur, tekstil, dan perayaan kolosal, yang semuanya menegaskan penerimaan masyarakat Gorontalo terhadap kekayaan warisan masa lalu mereka, sebagai berikut:

Karawo: Metafora Ketekunan dan Penerimaan Simbol penerimaan budaya yang paling halus namun mendalam dapat ditemukan dalam selembar kain Karawo. Seni sulam khas Gorontalo ini bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan metafora karakter masyarakatnya. Proses pembuatan Karawo yang melibatkan pemotongan dan pencabutan serat kain (mokarawo) sebelum disulam kembali, melambangkan proses dekonstruksi dan rekonstruksi.

Secara filosofis, ini mencerminkan sikap akomodatif masyarakat Gorontalo: bersedia “melukai” atau mengurangi ego pribadi dan struktur lama yang kaku, untuk kemudian “menyulam” kembali hubungan sosial baru yang lebih indah dan rumit. Penerimaan terhadap kerumitan motif Karawo adalah cermin dari kesabaran kolektif masyarakat dalam merawat identitas merekasebuah tradisi diam yang melawan budaya instan modernitas.

Arsitektur Dulohupa: Ruang Akomodasi Demokrasi Penerimaan terhadap keberagaman pendapat dan musyawarah terakomodasi secara fisik dalam arsitektur rumah adat Dulohupa atau Bantayo Poboide. Berbeda dengan struktur feodal yang tertutup, bangunan ini dirancang dengan konsep panggung terbuka.

Anak tangga yang umumnya berjumlah lima atau tujuh tidak hanya simbol Rukun Islam atau martabat adat, tetapi juga simbol aksesibilitas. Ruang luas tanpa sekat di dalamnya menyimbolkan transparansi. Di sini, Bate (pemangku adat), pemerintah, dan masyarakat duduk bersama. Ini adalah manifestasi fisik dari akomodasi politik tradisional Gorontalo; bahwa keputusan tidak diambil secara otoriter, melainkan melalui mopotolo (musyawarah) yang menerima berbagai suara sebelum mencapai mufakat.

Walima dan Tolangga: Redistribusi dalam Balutan Religi Dalam konteks perayaan keagamaan, tradisi Walima (peringatan Maulid Nabi) menunjukkan tingkat akomodasi budaya yang luar biasa terhadap ekspresi kegembiraan lokal. Simbol utamanya, Tolangga (menara kue berbentuk perahu atau bangunan), adalah bukti akulturasi.

Jika dilihat secara dangkal, Tolangga adalah pameran kemewahan. Namun, secara sosiologis, ini adalah mekanisme redistribusi ekonomi. Masyarakat yang mampu “mengakomodasi” kebutuhan mereka yang kurang mampu melalui pembagian kue walima tersebut. Bentuk Tolangga yang menjulang adalah simbol doa yang naik ke langit, sementara isinya yang dibagikan ke masyarakat adalah simbol berkah yang turun ke bumi. Di sini, tradisi memberi makan leluhur (animisme kuno) telah diakomodasi dan ditransformasi total menjadi sedekah Islam yang inklusif.

Tumbilotohe: Menyalakan Cahaya Tradisi Tradisi Tumbilotohe (pasang lampu) di penghujung Ramadan adalah contoh paling terang dari sinkretisme yang harmonis. Tradisi menyalakan pelita yang dulunya mungkin berakar dari kebiasaan menerangi jalan bagi roh leluhur atau sekadar penerangan jalan desa, telah diakomodasi sepenuhnya menjadi simbol penyambutan Lailatul Qadar.

Penerimaan masyarakat terhadap tradisi ini sangat total; dari lampu botol minyak tanah tradisional hingga lampu listrik modern, esensinya tetap dipertahankan. Masyarakat Gorontalo tidak membenturkan teknologi dengan tradisi, melainkan mengakomodasinya untuk memperkuat syiar. Tumbilotohe menjadi bukti bahwa tradisi lokal bisa menjadi “wadah” yang mempercantik ritual agama.

Simbolisme Busana: Biliu dan Paluwala Terakhir, akomodasi terhadap peran gender dan tanggung jawab sosial terekam dalam busana adat pernikahan, Biliu (untuk mempelai wanita) dan Paluwala (untuk pria). Setiap ornamen pada Biliu, seperti Kecubu (simbol keteguhan) dan Etango (ikat pinggang simbol kesiapan mengurus rumah tangga), serta aksesoris emas lainnya, bukan sekadar hiasan.

Masyarakat menerima simbol-simbol ini sebagai pengingat visual akan kontrak sosial pernikahan. Bahwa pengantin bukan raja dan ratu sehari yang bebas nilai, melainkan individu yang sedang memikul beban adat dan agama. Penerimaan terhadap beratnya pakaian adat ini menyimbolkan kesiapan memikul beratnya tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga sesuai syariat.

Dari sehelai benang pada Karawo hingga nyala api pada Tumbilotohe, masyarakat Gorontalo menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat yang terbuka. Mereka tidak menutup mata terhadap warisan masa lalu demi purifikasi agama yang kaku, juga tidak menolak agama demi fanatisme adat.Kekayaan budaya dan tradisi di Gorontalo bertahan karena adanya ruang akomodasi yang luas dalam nalar masyarakatnya. Mereka membuktikan bahwa identitas lokal dan keimanan universal dapat duduk bersanding, saling menguatkan, dan menciptakan peradaban yang tidak hanya religius, tetapi juga estetik dan berkarakter. Inilah pelajaran terpenting dari Gorontalo: penerimaan adalah kunci kelestarian. (*)

 Penulis adalah dosen IAIN SMART

Tags: gorontaloIAINJejak BudayaOpini BudayaPersepsi Budaya

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026

Mengulik Variabel Identitas, Norma, dan Reproduksi Permusuhan Pada Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat

Thursday, 2 April 2026
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Thursday, 2 April 2026
Next Post
Santo : Karang Taruna Gorontalo Siap Kawal Program PNKT 

Santo : Karang Taruna Gorontalo Siap Kawal Program PNKT 

Discussion about this post

Rekomendasi

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Oknum Kades di Pohuwato saat diperiksa sebagai tersangka, dan dilakukan penahanan terkait dengan dugaan aktivitas PETI. (foto: istimewa)

Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

Wednesday, 15 April 2026
Imran Rahman

Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

Thursday, 16 April 2026
Tersangka dugaan penganiayaan ibu kadung diborgol polisi.

Miris, Anak Sayat Ibu Kandung Hingga Berdarah

Friday, 17 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    157 shares
    Share 63 Tweet 39
  • Profesi-Profesi Hebat

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.