logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 14 January 2026
in Persepsi
0
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

ilustrasi: Jejak Akomodasi Budaya

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Ketika Minyak Mahal

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Oleh:
Moh. Zulkifli Paputungan

 

Di tengah arus globalisasi yang cenderung menghomogenisasi identitas lokal, Gorontalo berdiri sebagai benteng ketahanan budaya yang unik. Julukan “Serambi Madinah” seringkali disalahartikan sebagai dominasi teologis semata yang menihilkan unsur lokal. Padahal, realitas sosiologis di lapangan menunjukkan hal yang jauh lebih kompleks dan indah. Masyarakat Gorontalo mempraktikkan apa yang saya sebut sebagai “inklusivitas kultural”sebuah mekanisme penerimaan terhadap tradisi leluhur yang kemudian diakomodasi dan ditenun rapi ke dalam kerangka syariat Islam.

Filosofi “Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah” (ASQ) bukan sekadar hierarki hukum, melainkan sebuah metode harmonisasi. Artikel ini akan membedah bagaimana akomodasi tersebut bermanifestasi tidak hanya dalam ritual, tetapi juga dalam arsitektur, tekstil, dan perayaan kolosal, yang semuanya menegaskan penerimaan masyarakat Gorontalo terhadap kekayaan warisan masa lalu mereka, sebagai berikut:

Karawo: Metafora Ketekunan dan Penerimaan Simbol penerimaan budaya yang paling halus namun mendalam dapat ditemukan dalam selembar kain Karawo. Seni sulam khas Gorontalo ini bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan metafora karakter masyarakatnya. Proses pembuatan Karawo yang melibatkan pemotongan dan pencabutan serat kain (mokarawo) sebelum disulam kembali, melambangkan proses dekonstruksi dan rekonstruksi.

Secara filosofis, ini mencerminkan sikap akomodatif masyarakat Gorontalo: bersedia “melukai” atau mengurangi ego pribadi dan struktur lama yang kaku, untuk kemudian “menyulam” kembali hubungan sosial baru yang lebih indah dan rumit. Penerimaan terhadap kerumitan motif Karawo adalah cermin dari kesabaran kolektif masyarakat dalam merawat identitas merekasebuah tradisi diam yang melawan budaya instan modernitas.

Arsitektur Dulohupa: Ruang Akomodasi Demokrasi Penerimaan terhadap keberagaman pendapat dan musyawarah terakomodasi secara fisik dalam arsitektur rumah adat Dulohupa atau Bantayo Poboide. Berbeda dengan struktur feodal yang tertutup, bangunan ini dirancang dengan konsep panggung terbuka.

Anak tangga yang umumnya berjumlah lima atau tujuh tidak hanya simbol Rukun Islam atau martabat adat, tetapi juga simbol aksesibilitas. Ruang luas tanpa sekat di dalamnya menyimbolkan transparansi. Di sini, Bate (pemangku adat), pemerintah, dan masyarakat duduk bersama. Ini adalah manifestasi fisik dari akomodasi politik tradisional Gorontalo; bahwa keputusan tidak diambil secara otoriter, melainkan melalui mopotolo (musyawarah) yang menerima berbagai suara sebelum mencapai mufakat.

Walima dan Tolangga: Redistribusi dalam Balutan Religi Dalam konteks perayaan keagamaan, tradisi Walima (peringatan Maulid Nabi) menunjukkan tingkat akomodasi budaya yang luar biasa terhadap ekspresi kegembiraan lokal. Simbol utamanya, Tolangga (menara kue berbentuk perahu atau bangunan), adalah bukti akulturasi.

Jika dilihat secara dangkal, Tolangga adalah pameran kemewahan. Namun, secara sosiologis, ini adalah mekanisme redistribusi ekonomi. Masyarakat yang mampu “mengakomodasi” kebutuhan mereka yang kurang mampu melalui pembagian kue walima tersebut. Bentuk Tolangga yang menjulang adalah simbol doa yang naik ke langit, sementara isinya yang dibagikan ke masyarakat adalah simbol berkah yang turun ke bumi. Di sini, tradisi memberi makan leluhur (animisme kuno) telah diakomodasi dan ditransformasi total menjadi sedekah Islam yang inklusif.

Tumbilotohe: Menyalakan Cahaya Tradisi Tradisi Tumbilotohe (pasang lampu) di penghujung Ramadan adalah contoh paling terang dari sinkretisme yang harmonis. Tradisi menyalakan pelita yang dulunya mungkin berakar dari kebiasaan menerangi jalan bagi roh leluhur atau sekadar penerangan jalan desa, telah diakomodasi sepenuhnya menjadi simbol penyambutan Lailatul Qadar.

Penerimaan masyarakat terhadap tradisi ini sangat total; dari lampu botol minyak tanah tradisional hingga lampu listrik modern, esensinya tetap dipertahankan. Masyarakat Gorontalo tidak membenturkan teknologi dengan tradisi, melainkan mengakomodasinya untuk memperkuat syiar. Tumbilotohe menjadi bukti bahwa tradisi lokal bisa menjadi “wadah” yang mempercantik ritual agama.

Simbolisme Busana: Biliu dan Paluwala Terakhir, akomodasi terhadap peran gender dan tanggung jawab sosial terekam dalam busana adat pernikahan, Biliu (untuk mempelai wanita) dan Paluwala (untuk pria). Setiap ornamen pada Biliu, seperti Kecubu (simbol keteguhan) dan Etango (ikat pinggang simbol kesiapan mengurus rumah tangga), serta aksesoris emas lainnya, bukan sekadar hiasan.

Masyarakat menerima simbol-simbol ini sebagai pengingat visual akan kontrak sosial pernikahan. Bahwa pengantin bukan raja dan ratu sehari yang bebas nilai, melainkan individu yang sedang memikul beban adat dan agama. Penerimaan terhadap beratnya pakaian adat ini menyimbolkan kesiapan memikul beratnya tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga sesuai syariat.

Dari sehelai benang pada Karawo hingga nyala api pada Tumbilotohe, masyarakat Gorontalo menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat yang terbuka. Mereka tidak menutup mata terhadap warisan masa lalu demi purifikasi agama yang kaku, juga tidak menolak agama demi fanatisme adat.Kekayaan budaya dan tradisi di Gorontalo bertahan karena adanya ruang akomodasi yang luas dalam nalar masyarakatnya. Mereka membuktikan bahwa identitas lokal dan keimanan universal dapat duduk bersanding, saling menguatkan, dan menciptakan peradaban yang tidak hanya religius, tetapi juga estetik dan berkarakter. Inilah pelajaran terpenting dari Gorontalo: penerimaan adalah kunci kelestarian. (*)

 Penulis adalah dosen IAIN SMART

Tags: gorontaloIAINJejak BudayaOpini BudayaPersepsi Budaya

Related Posts

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

Wednesday, 16 September 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Tuesday, 15 September 2026
Muh. Amier Arham

Ketika Minyak Mahal

Tuesday, 15 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Monday, 14 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Thursday, 10 September 2026
Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Wednesday, 9 September 2026
Next Post
Santo : Karang Taruna Gorontalo Siap Kawal Program PNKT 

Santo : Karang Taruna Gorontalo Siap Kawal Program PNKT 

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Honda Rayakan Hari Pelanggan Nasional, Ajak Pelanggan Loyal dan Komunitas Rolling City

Honda Rayakan Hari Pelanggan Nasional, Ajak Pelanggan Loyal dan Komunitas Rolling City

Thursday, 17 September 2026
Hasil Pengawasan Bersih, Kanwil Kemenkum Gorontalo Diminta Jaga Tata Kelola

Hasil Pengawasan Bersih, Kanwil Kemenkum Gorontalo Diminta Jaga Tata Kelola

Thursday, 17 September 2026
PMI-BPBD, Polisi Turun Tangan, 48 KK di Tilongkabila Sulit Air Bersih

PMI-BPBD, Polisi Turun Tangan, 48 KK di Tilongkabila Sulit Air Bersih

Thursday, 17 September 2026
Pemilihan Ketua KADIN Kota Inprosedural, Dinilai Tidak Transparan, Papip Enggan Ikut Pemilihan Ulang

Pemilihan Ketua KADIN Kota Inprosedural, Dinilai Tidak Transparan, Papip Enggan Ikut Pemilihan Ulang

Thursday, 17 September 2026

Pos Populer

  • Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Investasi Smelter Emas Masuk Gorontalo

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Karhutla Di Lombongo, Nyaris Merambat ke Permukiman

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Ketika Minyak Mahal

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.