logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Ganbai Ganbai

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 21 May 2025
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

TEMAN makan malam saya itu terus saja minum Motai –minuman keras termahal di Tiongkok. Padahal ia yang tadi mengemudikan mobil ke restoran ini.

Padahal aturan di Tiongkok keras: yang baru minum alkohol dilarang setir mobil. Lantas siapa yang akan menyetir mobil pulangnya nanti.

Related Post

Halo Wani

Juara Dunia

Hidup QRIS

Yossi Cohen

Saya sempat khawatir: jangan-jangan kami nanti distop polisi di tengah jalan. Ternyata ada cara baru di Tiongkok: App telah menyelamatkan para peminum alkohol.

Panggil sopir aplikasi.

Di Tiongkok kita bisa panggil sopir aplikasi setiap saat. Tidak sampai lima menit sopir aplikasi itu tiba. Ia datang naik sepeda lipat listrik.

Maka selesai makan, teman saya itu buka aplikasi. Saat kami tiba di parkiran, sopir aplikasi tiba. Hampir bersamaan. Ia tahu harus menuju tempat parkir nomor berapa. Mobilnya merek apa. Warna apa.

Sepeda lipatnya lantas ditaruh di bagasi. Kami pun aman di perjalanan pulang. App telah membuka lapangan kerja baru. Sopir aplikasi sudah tahu di resto mana yang banyak memerlukan jasanya.

Pencipta App itu tahu orang Tiongkok sulit meninggalkan minuman keras. Ada saja jalan untuk tetap bisa menikmatinya.

Di setiap makan seperti itu pihak pengundang yang menyediakan minuman kerasnya. Bukan beli dari restoran. Membawa sendiri dari rumah.

Seperti Minggu malam lalu. Teman saya itu membawa sendiri dua botol Motai dari rumahnya.

Kami 10 orang makan malam. Mejanya besar. Bundar. Di tiap depan kursi sudah ditata rapi: piring besar, piring kecil, bangkok, sumpit hitam, sumpit gading, sendok, beberapa saus bebek panggang, gelas besar, gelas sedang, teko kecil dari kaca dan gelas sangat kecil.

Bagian tengah mejanya berputar. Di situlah makanan ditaruh –18 jenis masakan.

Sumpit warna gading dan hitam beda fungsi. Yang gading untuk mengambil makanan dari atas meja dipindah ke piring sendiri. Sumpit hitam untuk kita makan.

Aturan dua jenis sumpit itu berlaku sejak ada wabah SARS di Tiongkok. Lalu kian membudaya setelah ada Civid-19.

Setiap ikut makan besar seperti itu saya menaruh hormat pada mereka: tidak ada menu daging babi di atas meja. Padahal saya sudah sampaikan: silakan sediakan daging babi, asal saya diberi tahu yang mana yang daging babi.

Mereka tetap tidak mau. Masih banyak daging lain yang bisa disajikan: sapi, domba, kelinci, ayam, bebek, angsa. Tapi untuk minuman keras mereka tidak punya pilihan lain: harus minum. Harus banyak. Harus bertambah-tambah.

Gelas paling kecil tadi –seukuran jempol bayi– adalah gelas untuk minum 白酒. Minuman dari botol Motai dituang dulu ke gelas kaca berbentuk teko. Isinya kira-kira 150 cc. Dari situ baru dituangkan ke gelas kecil. Siap bersulang.

Yang pertama mengajak bersulang haruslah yang duduk di ”kursi ketua”. Meski bentuk kursinya sama, dan mejanya bundar, kami sudah tahu yang mana yang disebut ”kursi ketua”. Yakni yang –agak sulit menjelaskannya.

Sabtu malam itu saya diminta duduk di kursi ketua. Saya menolak. Dipaksa. Untung tamu lain segera datang: mantan duta besar Tiongkok di Indonesia. Saya pun selamat.

Tapi hari berikutnya, Minggu malam kemarin, saya dipaksa lagi. Juga menolak. Saya bukan siapa-siapa lagi, kata saya. Tapi tetap saja dipaksa.

Saya mencoba ganti memaksa tamu lain. Dia lebih pantas dari saya. Dia adalah ketua tim dokter yang merawat saya usai operasi ganti hati 18 tahun lalu. Saya harus menghormati dia.

Dia tidak mau. Saling tolak. Akhirnya voting informal. Saya kalah.

Berarti sayalah yang harus pertama berdiri mengajak semua tamu bersulang. Saya harus mengawalinya dengan ”pidato” kecil mengapa kita harus bersulang.

Agar persahabatan abadi. Agar semuanya sehat. Agar semuanya dikaruniai kebahagiaan. Agar hidup kian makmur. Agar… Ucapkan apa saja yang penting untuk kebaikan bersama.

Tentu saya bisa mengucapkan semua itu. Sudah sering menyaksikannya. Tinggal meniru. Tapi saya tidak bisa memegang gelas kecil –meskipun sebagai bentuk pura-pura.

Saya pun minta maaf karena tidak minum minuman keras. Sebenarnya itu tidak sopan tapi mereka memaklumi.

Maka saya angkat gelas berisi jus. Mengajak mereka bersulang. Ketua dokter di sebelah saya angkat gelas kecil berisi minuman keras. Pun beberapa dokter lainnya. Dua orang lagi angkat gelas jus –saya sempat meliriknya sesapuan.

Setelah ”pidato kecil” saya pun berseru: “Ganbai!” pertanda saya mengajak mereka bersulang.

“Ganbai!!!,” sahut mereka. Lalu kami pun saling menabrakkan gelas: Ting! Ting! Ting! Barulah meneguk isinya.

Maksud kata ”ganbai”: minumlah sampai habis. Sampai gelasnya kosong. Masing-masing lantas menunjukkan gelas mereka sudah kosong.

Untuk diisi lagi.

Saya lirik gelas kecil ketua dokter di sebelah saya: masih sama. Isinya tidak berkurang. Berarti dia tadi tidak meminumnya. Hanya seperti minum. Agar terlihat kompak.

Dua orang yang minum jus ternyata beralasan pulangnya nanti mereka harus mengemudikan mobil. Dimaklumi.

Yang lain terus saja mengisi gelas kosong. Saling mengajak bersulang. Satu tamu mendatangi kursi tamu lain: mengajak bersulang. Nanti tamu yang diajak bersulang itu ganti mendatanginya untuk balas bersulang.

Tidak habis-habisnya. Dua botol Motai pun habis. Harganya Rp 30 juta.

Begitulah malam-malam saya di Beijing. Juga siang-siang saya. Dari ganbai ke ganbai.

Saya sudah belajar banyak bagaimana ber-ganbai yang sopan dan merendah: waktu saya membenturkan ke gelas teman selalu posisi bibir gelas saya jangan sampai di atas bibir gelas teman itu.

Ia juga tahu itu. Ia juga tidak mau bibir gelasnya lebih tinggi. Maka kadang kami saling menurunkan posisi gelas.

Senin pagi kemarin saya mulai terbebas dari semua itu. Saya sudah bisa di pesawat menuju New York. Tidak akan ada ganbai di perjalanan saya di Amerika. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Wani Sabu saat menerima Lifetime Achievement Award di ajang Contact Center World 2025 di Bali.-Instagram Wani Sabu-

Halo Wani

Wednesday, 22 April 2026
Ilustrasi fitur-fitur di Halo BCA.--

Juara Dunia

Tuesday, 21 April 2026
Ilustrasi penggunaan QRIS di Tiongkok yang banyak membantu WNI.-Dibuat dengan bantuan AI-

Hidup QRIS

Monday, 20 April 2026
Salah seorang jurnalis asing mengabadikan gambar sebuah kerusakan akibat serangan udara AS yang menyasar sebuah perkampungan di wilayah Fardis, Barat kota Tehran, Iran.-Vahid Salemi-Association Press

Yossi Cohen

Friday, 17 April 2026
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu

Tulung Agung

Thursday, 16 April 2026
--

Bertahan Menyerang

Wednesday, 15 April 2026
Next Post
Penggelan video klip Babak Terakhir yang digarap Muze Hiola lewat rumah produksi Bundle Pictures. (foto : tangkapan layar)

Raim Laode Rilis Lagu Baru, Putra Limboto Dibalik Video Klip 'Babak Terakhir'

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    185 shares
    Share 74 Tweet 46
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    181 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    123 shares
    Share 49 Tweet 31
  • Batas-Batas Pengobatan

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.