logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 4 April 2025
in Persepsi
0
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Dr. Funco Tanipu, ST, M.A

 

DI Gorontalo, kata “Yahudi” adalah bagian dari bahasa cacian, makian dan padanan kata “sifat” yang buruk.

Contohnya ; “Nde te Yahudi boti eh!” atau “Japotihutu madelo Yahudi yi’o botiye” atau “Bo Yahudi yi’o botiye am” atau “Jaomakeya teeya wuto’o lo Yahudi uti” dan “mahemo potolo Yahudi poli tingoli botiye am”. Bahkan ada istilah “mo mate Yahudi”.

Related Post

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Bagaimana seseorang atau sekelompok orang bisa dianggap atau disamakan seperti orang Yahudi di Gorontalo. Biasanya, orang atau sekelompok orang itu memiliki kebiasaan atau beraktifitas melanggar batas adab atau akhlak yang telah digariskan dalam adat-adat Gorontalo yang bersendikan Islam.

Jika orang Gorontalo telaj menyamakan perilaku atau kebiasaan seseorang/sekelompok orang seperti Yahudi maka hal tersebut bisa disebut sebagai salah satu kemarahan yang level tinggi bagi orang Gorontalo. Bagi orang Gorontalo, marah yang sudah mencapai puncak disamakan dengan air yang sedang mendidih (ma lombu-lombula).

Jadi, bagi orang Gorontalo, yang membuat “lombu-lombula” adalah sifat dan perilaku. Jika seseorang sudah dicap begitu, atau seperti Yahudi, maka sanksi sosialnya adalah harus dijauhi, dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat.

Mengapa sanksinya harus dijauhi bahkan dikucilkan, sebab dianggap bisa “moombita”. Moombita atau berjangkit bukan saja untuk kategori penyakit, tapi juga perilaku yang dianggap negatif.

Karena jika levelnya telah “moombita, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan yang kolektif, dan dipercaya “lipu odungga lo bito” karena telah “ilo obitowa lo adati” atau “obitowa lo tadiya”.

Nah, bagi seseorang yang sudah dikucilkan dalam masyarakat sebagai akibat dari kemarahan kolektif tsrsebut, biasanya orang tersebut disarankan untuk “mobite” (berlayar/bepergian jauh).

Mobite ada dua makna yakni mobite karena mopehu (bekerja) dan mobite karena ma ilo dungga lo wolito (sudah membuat malu keluarga). Pada makna mobite yang kedua, suasana hati dalam keadaan yang sedih.

Dalam mobite, jika seseorang pergi dalam suasana hati yang senang, maka yang berangkat tersebut akan “hepohiyonga liyo” dan keluarga ditinggal dalam “wolo-wololo” (sedih). Tetapi bagi yang mobite dalam konteks harus dijauhkan dari masyarakat, biasanya “tunu-tunuhu lo tadiya”.

Dalam konteks mobite, bagi yang mobite untuk mopehu, biasanya suatu saat akan kembali, apakah mudik lebaran atau jika keluarga ilo dungga lo pate (ada yang meninggal dalam keluarga). Tetapi bagi yang mobite karena wolito, maka orang tersebut biasanya sudah tidak akan kembali ke kampung halaman, karena selain dirinya sudah malu, juga sudah tidak diinginkan kembali oleh masyarakat.

Mengapa tidak diinginkan kembali lagi kembali ke kampung halaman? Karena dianggap bisa moombita, dan dikategorikan seperti virus penyakit.

Mobite berbeda dengan mopasiari, mondalengo, momentalo, tumete’o. Mondalengo, momentalo dan tumete’o itu masih dalam jarak yang terukur atau dekat. Kalau mobite, jaraknya pasti agak jauh.

Dalam tradisi migrasi Gorontalo, selain mobite, ada juga yang disebut moleleyangi atau bepergian jauh dalam rangka mencari kehidupan yang lebih layak (mo pehu). Biasanya, kalau orang yang moleleyangi, pasti akan kembali suatu saat dan dirindukan selalu oleh keluarga. Orang yang moleleyangi pun pasti turun dari rumah dengan senang hati. Bahkan, moleleyangi dibuatkan lagu tersendiri.

Jika misalnya kita banyak melihat banyak orang Gorontalo yang berada di daerah lain, bahkan hidup di sepanjang pantai Teluk Tomini hingga sampai ke Manado, Palu, Makassar, Maluku Utara, Papua, Kalimantan hingga ke Jawa, maka itu adalah bagian dari tradisi migrasi baik itu mobite maupun moleleyangi.

Pada momen Idul Fitri seperti ini menjadi waktu bagi kaum “diaspora” Gorontalo baik yang migrasi dengan jalur mobite untuk mopehu maupun moleleyangi, untuk kembali ke Gorontalo. Tapi bagi yang mobite dalam keadaan mayilolito/lo’olito, maka akan sulit untuk pulang kampung dalam situasi seperti Idul Fitri. (*)

 

Penulis adalah Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo

Tags: Dr.Funco TanipuHarian PersepsipersepsiTulisan Funco Taniputulisan persepsi

Related Posts

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026
Next Post
Tangkapan layar ungguhan akun media sosial tentang dugaan perselingkuhan oknum aleg DPRD Kab Gorontalo dari partai Gerindra, inisiql ZN. (Foto : tangkapan layar)

Viral Aleg Gerindra Diduga Selingkuh, Ajak ‘Ani-ani’ Naik Whoosh ke Bandung

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Wardoyo Pongoliu

Izin Tambang, IPR Dengilo Tunggu Persetujuan Pemkab

Tuesday, 21 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    178 shares
    Share 71 Tweet 45
  • Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    171 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    116 shares
    Share 46 Tweet 29
  • Batas-Batas Pengobatan

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.