logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Profesor yang Sebenarnya

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 24 March 2025
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Mahasiswa Merdeka

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Oleh:
Basri Amin

 

SEORANG profesor dan muridnya yang terbaik berhasil membuktikan satu hal: kesetiaan. Keduanya demikian setia menjalani pembelajaran bersama, melalui dialog, tanya jawab, serta kepedulian tinggi yang melampaui segala macam kepentingan (praktis) persekolahan yang sekian lama sama-sama dipikulnya di kampus. Mereka berhasil keluar dari rutinitas penugasan kuliah, keterkesimaan teknologi pembelajaran dan perjumpaan regular di ruang-ruang kelas.

Justru ketika beban-beban praktis dan teknis pendidikan itu hilang, yang hadir adalah proses pembelajaran tentang “makna hidup”, kebersamaan sesama pencari ilmu, dan kesetaraan manusia di hadapan realitas pengetahuan. Amat terasa bahwa tanpa melalui khotbah dan buku buku, keduanya sepakat dalam dalam hal prinsipil: “kebodohan dimulai ketika kita berhenti belajar…”

Keduanya, antara mahasiswa dan profesornya ini, menjalani hidup hingga kematian datang dengan nyata dan penuh makna. Mengikuti riwayat mereka berdua, jenis kurikulum dan format kuliah yang mereka jalani, bahan-bahan ajar dan media yang mereka kembangkan, sistem ujian dan penilaian yang mereka sepakati, sungguh sebuah praktik pendidikan (tinggi) yang kini makin jarang kita saksikan di Barat maupun di Timur.

Meski di antara mereka adalah hubungan maha guru (profesor) dan murid (mahasiswa),  tetapi keduanya tidak melandaskan prosesi kuliahnya dengan logika dan hirarki yang kaku. Tak ada praktik feodalisme akademis dalam kesadaran mereka. Tak ada sesembahan pangkat dan pemanggilan nama!

Sang profesor pun tak pernah “sok tahu” apalagi melalui proyeksi diri “wajib dirujuk” pendapatnya. Ia tak pernah memaksakan teori-teori yang sang profesor punyai atau gemari, atau paradigma yang ia anut. Ia jauh dari rasa “punya sesuatu” (kebenaran) yang begitu handal dan wajib diterima muridnya.

Ia adalah profesor yang sadar akan bahaya egoisme profesi dan kepongahan pengetahuan yang belum sepenuhnya teruji-panjang nan ketat di alam terbuka. Ia amat sadar tentang keterbatasannya dalam pencapaian. Sehingga, sekalipun ia punya nama besar dan terpandang di bidangnya, itu semua tak membuatnya kikir dalam menyapa dan mendengar jalan-jalan pikiran murid-muridnya. ia sungguh-sungguh membimbing, bukan sebaliknya membuat muridnya “bimbang” dan “bergantung” kepada bayang-bayang sosoknya serta fatwa fatwa (kewenangan) posisinya.

Profesor ini sempurna mengajar dan mendidik hingga ajal menjemputnya. Kuliahnya amat khusus, mahasiswanya pun amat terbatas, dan prosesi wisudanya pun amat istimewa. Dalam seminggu, kuliahnya hanya berlangsung di hari Selasa. Saya terkagum membaca kembali prosesi kuliahnya dan bagaimana ketekunan mahasiswanya mencatat, memahami, dan menghayati setiap materi kuliahnya. Adalah profesor Morrie Schwartz (Brandeis University di Massachusetts) bersama murid terbaiknyak, Mitch Albom, melalui kuliah mereka setiap hari Selasa yang di kemudian hari dibukukanya dalam Tuesdays with Morrie (1997[2014]).

Buku laris dan ditulis dengan bahasa yang apik dan sugestif. Sebuah pencerahan tentang pendidikan yang sebenarnya dan tentang kesejatian relasi Guru dan Murid. Pendidikan yang mengantarkan keduanya menemukan “makna hidup” dalam sebuah wisuda bernama: acara pemakaman. Dengan itulah, ada rasa yang abadi bahwa “kuliah sejati tak pernah berakhir”. Atau, dalam kata-kata Mitch Albom, sang Murid dan Guru bertemu dalam suasana “jatuh cinta kepada harapan”.

Murid sejati itu, Mitch Albom, sebenarnya sudah berpisah lama dengan guru-nya ini. Tetapi karena kerinduan tentang pelajaran yang sebenarnyalah yang membuat dia kembali berguru dan menemui profesornya, Morrie Schwartz. Ketika itu, Morrie, dalam masa-masa sulit karena serangan penyakit ganas yang menyerang sistem sarafnya. Kuliah hebat yang mereka lakoni terbentang pada masa-masa sang profesor menjalani penyakit seriusnya. Mereka memanfaatkan waktu belajar dengan amat saksama, saling peduli dan manusiawi.

Apa itu Guru (profesor) yang sebenarnya? Mitch menjawab “orang yang melihat Anda sebagai batu berharga yang belum diolah; sebuah berlian yang kearifannya dapat digosok sampai berkilauan.“

Punya nama besar dengan kematian yang indah adalah anugerah hidup yang tak ternilai. Sebagai manusia terdidik tinggi, tak ada harapan paling teratas baginya selain “kematian yang baik dan mulia.”

Dalam perkara kematian, semua rasionalitas manusia berhenti dengan sendirinya. Justru dalam kesediaan kita untuk menerimanya adalah jawaban yang paling rasional. Tapi “bagaimana”, menerima dan menjalani kematian serta perkara-perkara lanjutan setelahnya? Pengetahuan manusia lagi-lagi terhenti. Ia membutuhkan saluran pengetahuan lain, kebeningan spiritual, dan ketaatan tambahan yang luar biasa serta bantuan dari Guru atau para “Penunjuk jalan” kepadanya.

Sejarah mencatat, dalam pencermatan Mitch Albom (2014, bahwa “para pengarang, ilmuwan dan selebriti yang dengan lantang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, semua itu mereka katakan saat mereka masih sehat dan popular dan didengarkan oleh para pengikut dan pendengarnya. Tapi apa yang terjadi saat hening menghadapi ajal? Saat itu mereka tak punya panggung lagi, dunia mulai berputar meninggalkan mereka. Pada tarikan nafas terakhir, lewat rasa takut, lewat penampakan, pencerahan yang terlambat datang, mereka berubah pikiran tentang Tuhan…”

Pengalaman (wisuda) kematian profesor Schwartz dan prosesi kuliahnya bersama mahasiswanya Mitch Albom menarik kita petik hikmahnya. Bahwa ketinggian derajat keilmuan hanyalah tangga kesekian untuk mencapai makna dan manfaat hidup. Tetapi, ia juga bisa sebagai tangga rapuh yang mewadahi kejatuhan kita–.

Profesor Schwartz, bahkan di masa-masa yang sangat sulit, ketika harus menggunakan bantuan tongkat, beliau tetap menyampaikan kuliahnya dengan kejujuran tinggi. Di kelasnya, ia dengan wibawa menyampaikan pesan kepada mahasiswanya tentang resiko mengikut kuliahnya yang potensial batal karena “kondisi kesehatannya”. Ia, lagi-lagi menanamkan keabadian pengetahuan dan integritas pribadi, bahwa selalu ada letak terdalam dan yang terjujur tentang kewajiban hidup dan pencapaian ilmu.

Keterdidikan mensyaratkan laku-hidup yang konsisten. Termasuk tentang hidup yang akan berakhir dengan kematian. Sebagai sebuah momen, kematian bisa dijelaskan secara teknis, tetapi prosesinya baik oleh yang mengalaminya maupun bagi mereka menyaksikannya, tentulah memberi gambaran dan rasa yang berbeda-beda.

Sang professor ini, Morrie, telah memberi pelajaran tentang makna hidup dan “jalan kematian” yang benar. Bahwa tidak banyak Guru sejati. Demikian pula tak banyak murid yang setia. Ujian bagi keduanya adalah kehadiran dan kesungguhannya ketika prosesi pencerahan akal-budi, pembentukan watak-diri dan kebangkitan jiwa-nurani-merdeka berlangsung. Tanda kelulusan dan pencapaiannya terletak ketika salah satu di antaranya telah tiada atau ketika satu di antaranya menjemput kepergianya. ***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Basri Amin

Mahasiswa Merdeka

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
Next Post
cungi jempol. la tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menunjukkan kegigihan dalam mencari rezeki. (Mg-07)

Semangat Sonya, Nenek 76 Tahun, Jualan Lampu Botol Setahun Sekali

Discussion about this post

Rekomendasi

Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    189 shares
    Share 76 Tweet 47
  • Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.