logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Limboto, Kota yang “Mencari” Pemimpin

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 17 February 2025
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

SEKIAN lama, sejarah Limboto dipimpin oleh laki-laki. Tetapi kita jangan lupa bahwa salah satu puncak peradabannya adalah justru ketika Limboto dikendalikan oleh para Ratu. Memori kita tak pernah lupa kepada Mbui Bungale dan Tolangohula.

Selanjutnya, ketika melewati pertengahan abad ke-17, Limboto dipimpin oleh seorang Ratu yang hebat. Ia berwibawa karena visi etis-nya dan beradab tinggi karena adab kepemimpinannya. Ia diplomat yang cermat dan cerdas. Beliau adalah yang mulia Ratu Pongaito.

Related Post

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Di masanya, prinsip-prinsip keteladanan, loyalitas kepada persatuan, integritas yang kokoh, etika konfederasi, dan kolegialitas kawasan dijunjung tinggi. Ketika Gubernur Jenderal (VOC-Belanda) Padtbrugge tiba di Limboto pada 23 September 1677, sang Gubernur mengajak Ratu Pongaito untuk bertemu dan bernegosiasi. Kepada utusan Gubernur, Sang Ratu yang hebat ini menyatakan menolak dengan terang-terangan.

Ia kokoh memegang “sumpah” dan “janji” dalam ikatan Limo lo Pohala’a, yang terikrarkan pada akhir November 1673. Dengan itu ia tidak boleh mengambil keputusan sendiri/sepihak, atau bertindak sebagai wakil konfederasi ketika melakukan pembicaraan dengan kekuatan di luar lingkaran persarikatan. Harus ada mufakat lebih dahulu sesama lima kerajaan; tidak bisa jalan sendiri dengan kepentingan sendiri.

Di masa itu, sang Ratu juga benar-benar fokus mengerjakan tugas luhurnya –dalam rangka pemindahan Ibu Kota kerajaan Limboto dari Pone ke Bolihuangga dan Hunggaluwa. Etika berkuasa Ratu Pongaito dicatat dengan baik dan dipublikasi oleh J. Bastiaans tahun 1938 di sebuah jurnal ilmiah terpandang di negeri Belanda (Amin, 2016).

Catatan terbatas ini sekadar menyegarkan kembali bagian-bagian yang sangat terbatas. Pesannya pun sederhana. Rasa ke-Gorontalo-an, pada tingkat tertentu, terasa “lebih mudah” disaksikan di Limboto: perjumpaan antara keteduhan keberagamaan, ekspresi budaya, dan skala ekonomi “kecil-menengah”.

Ada ritme kewaktuan dan keluangan yang diwadahi oleh Masjid Agung dan pelatarannya; demikian juga dengan lingkaran Menara dan kompleks Banthayo Poboide. Di luar lingkaran itu, sejumlah titik ordinat penting adalah “bundaran Golkar”, kompleks perkantoran (Bupati) Gorontalo dan GOR David-Tonny. Secara keruangan, kompleks shopping center dan Universitas Gorontalo (UNIGO) juga harus masuk di ordinat-ordinat (strategis) itu.

Meski demikian, sebuah kota tidak pernah tumbuh di atas “ruang kosong”. Sangat banyak yang tumbuh-menyisip di dalam dan di sekitarnya. Beberapa bagian bahkan “menyimpang” sedemikian rupa dari yang direncanakan. Kota ibarat “magnet”, maka pastilah akan menarik serbuk-serbuk yang berserak di sekitarnya (pekerja informal, jasa layanan, investasi, calo-calo tanah, pembiayaan, dst).

Sejajar dengan itu, gaya hidup baru, kriminalitas dan konflik pun otomatis hadir. Kaidahnya, “di mana ada gula, di situ ada semut…”. Nah, kini yang dibutuhkan adalah pengendalian berkelanjutan.

Zonasi per-kota-an Limboto membutuhkan rumusan-rumusan yang lebih handal. Regulasi yang memediasi pertumbuhan dan pengendalian sangat penting artinya karena itulah mekanisme dasar yang akan mengerangkai perubahan-perubahan jangka panjang bagi Limboto. Kota akan terdesak tata kelola ruangnya, terutama karena tuntutan layanan publik, mobilitas penduduk, putaran ekonomi, terpaan teknologi, dst.

Sebagai contoh, dalam soal penataan karakter ruang dan wilayah yang bersentuhan dengan pemukiman dan perumahan (warga), pastilah akan semakin kompleks. Ini menyangkut kesehatan lingkungan: persampahan, mutu air, sirkulasi udara, dst. Harap dipahami bahwa “manajemen konflik” di perkotaan pun akan makin kompleks. Di dalamnya terdapat keragaman, kepekaan lintas kelompok dan kelas-kelas sosial yang berbeda.

Di Limboto, skala ekonomi yang mengitari (dinamika) usaha sektor informal dan ekonomi jasa –baik yang gerakannya karena sokongan pemerintah maupun yang mandiri—, butuh dihitung dengan cermat agar kota ini memastikan di level mana “kesejahteraan” warganya terbentuk –-dengan tidak semata diukur berdasarkan pendapatan mereka.

Yang jauh lebih penting adalah bahwa warga Limboto tumbuh sehat, berakar ekonominya di “lingkaran” tertentu yang terkendali (penyerapan tenaga kerja, resiko lingkungan, kenyamanan keseharian dan citra kotanya). Itu sebabnya, “daya tampung” pedagang kaki lima di sejumlah titik kini penting dibahas-tuntas, agar keliaran posisi dan kesimpang-siuran hak-hak mereka lebih terang. Demikian juga menyangkut hak-hak warga di ruang publik, penataan (aroma) kota dan pencitraannya.

Limboto, jika hendak menjadi Kota yang sebenarnya, tantangannya terletak pada bangunan visi kotanya, basis partisipasi, dan leadership-nya. Limboto butuh kepemimpinan –tidak sekadar tumpukan posisi pejabat dan tumpukan perkantoran–. Di kota ini, keacakan berlangsung dari waktu ke waktu, tetapi di kota ini pula kita menemukan pilar-pilar peradaban yang penting: pendidikan, agama, sejarah, dan kebudayaan. Di kota ini juga kita menemukan jejak-jejak ilmu pengetahuan dan kritisisme yang demokratik.

Bukankah pada tahun 1971 dan 1984 Limboto menjadi “rumah bersama” bagi terselenggaranya Seminar Adat yang menghasilkan rumusan-rumusan kunci yang sampai kini berlaku dan terus dikembangkan di Gorontalo? Melalui kedua seminar ini, perwujudan “dokumentasi budaya” hadir menjadi penciri (baru) Gorontalo.

Hampir semua aliran, pandangan, cendekiawan, dan tokoh-tokoh Gorontalo tampil di Seminar tersebut. Hasilnya ratusan halaman! Peran pakar-pakar dari F-KIP Unsrat Manado di Gorontalo sangat tampak: generasi Prof (Drs). alm. Kadir Abdussamad, dkk. Peranan Bupati Martin Liputo, SH dan Walikotamadya Gorontalo Drs. A. Nadjamudin sangat besar.

Ini adalah peristiwa penting di Limboto, setelah jauh sebelumnya –-di awal 1940an dan 1960-1970an—tradisi menulis/dokumentasi ini digerakkan oleh tokoh-tokoh Gorontalo seperti M. Liputo, K. Kaluku, A.J. Usman, J.U.S. Nadjamuddin, S.R. Nur, N. Tuloli, M. Pateda, dst.

Sejak akhir 1980an, peranan kampus, terutama F-KIP/IKIP, STIE Gorontalo, STAIN, dan beberapa kampus lainnya, berhasil memediasi pergerakan kalangan sarjana memasuki dunia birokrasi. Mimpi utama di masa itu adalah menjadi Pegawai Negeri. Tak heran kalau sektor swasta mengalami perlambatan.

Daerah ini hanya melahirkan sangat sedikit pengusaha –itu pun lebih banyak bekerja dengan proyek pemerintah dan kebanyakan bertahan di sektor pertanian–. Kita tahu, untuk masa yang cukup panjang, “ekonomi kelapa” dan “pertanian padi/jagung” mendominasi Gorontalo. Kita juga tahu bahwa penguasaan/pemilikan lahan, sejak masa itu, terjadi ketimpangan yang signifikan.

Sepanjang dua puluh tahun terakhir, kita menyaksikan pergeseran ruang ekonomi yang melebar. Citra Limboto sebagai “tempat belanja” –terutama di Shopping Center— dengan cepat dan mudah dikalahkan oleh kawasan Telaga dan Isimu, misalnya.

Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi di “dalam” kawasan (sekitar) Limboto sendiri. Radius pengaruh Limboto menjadi semakin sempit –terkesan hanya diwakili oleh 2-3 kelurahan saja (?)–. Sebagai kota, Limboto bisa diitari dengan cepat, tak lebih 30 menit!. Terasa bahwa Limboto belum punya “organisasi kota” yang men-struktur-kan visi dan keberagaman fungsi-fungsinya, sebab sebuah kota adalah an “organized diversity” (Langer, 1984: 99).

Sebagai sebuah ruang hidup, Limboto dengan mudah ditebak. Apa “isi dalam” kota ini nyaris tak punya efek kejut yang berarti. Tak heran kalau Limboto adalah kota yang terkesan (cukup) hanya dilewati dan ditatap dari jendela mobil saja.

Jika pun singgah, ya sekadar untuk ber-swafoto di sudut-sudut tertentu: di Menara, Masjid, dan Taman sebagai latar/fokus. Sisanya, tak ada yang unik; tak ada yang mengundang tanya, penasaran dan ruang percakapan. Rasa heran kalangan pendatang mungkin tak lebih dari sejam saja. Jika begitu, untuk apa “menginap” di kota ini?

Karakter Kota ini sesungguhnya sangat menarik, andai kisah-kisahnya berhasil direproduksi dan/atau diolah dengan imajinatif dan terpimpin. Arsitek lama/kolonial masih bisa kita temukan; tradisi lokal dan ritual-ritual keagamaan, sebaran kuliner, keanekaragaman hayati, dst masih bisa banyak dinikmati.

Nostalgia danau dan endemiknya, bentangan alam, aliran sungai-sungai, perbatasan Dehualolo, dan lanskap permukiman pun menarik dikisahkan. Limboto punya Sejarah? Limboto punya jiwa dan karakter? Jawaban-jawaban kita padanya akan menentukan wajah (masa depan) kota ini. ***

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Next Post
Pj Wali Kota Gorontalo, Ismail Madjid ketika memantau stok gas LPG 3 Kg, Jumat (14/2/2025). (Foto: Prokopim)

Jual LPG Diatas HET, Pangkalan akan Disanksi Tegas

Rekomendasi

Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Gubernur Gusnar Ismail pada peresmian Gorontalo menjadi tuan rumah Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan. (foto: dok-pemprov)

PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

Monday, 8 June 2026
Polsek Wonosari bergerak cepat menangani peristiwa meninggalnya seorang masyarakat yang diakibatkan tersengat aliran listrik.

Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

Monday, 8 June 2026
Rapat persiapan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Jumat (5/6/2026). (Foto : Valen)

Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

Monday, 8 June 2026

Pos Populer

  • Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail semeja bersama para gubernur se sulawesi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dalam kegiatan apresiasi Pemerintah Daerah di Kendari, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)

    Gusnar Temui YSK Bahas Kredit ASN Pemkot, Pemotongan Gaji ASN Tetap Melalui Debit Otomatis

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.