logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 8 June 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Basri Amin

 

EMPAT puluh sembilan tahun lalu, penyegaran wawasan Pancasila untuk kali pertama dilakukan pada 1 Juni 1977, setelah Upacara Peringatan Hari Lahirnya Pancasila di gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta.

Ketika itu, sebagai Proklamator, Bung Hatta diminta secara khusus menyampaikan pidato yang menyegarkan “Pengertian Pancasila”. Sejak itu, Bung Hatta sudah menegaskan kecenderungan (kita) mengamalkan Pancasila “hanya di bibir saja…”.

Related Post

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Sehat yang Sesat

Pancasila, dalam penegasan Hatta, mensyaratkan: pengabdian, ketaatan dan tanggung jawab. Terutama karena dasar moral tertinggi haruslah diletakkan di atas seluruh penyelenggaraan bernegara, yakni melalui sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ingat, kata yang digunakan adalah “Ketuhanan”; sebagai tanda bahwa yang dirujuk adalah “konsep” ketuhanan dan bukan kategori tunggal yang merujuk tentang “Tuhan” (tertentu) yang dianut oleh sekelompok orang saja.

Itulah sebabnya, Soekarno menjelaskan pula dalam pidatonya 1 Juni tentang “Ketuhanan yang Berkebudayaan...”. Di sinilah letaknya mengapa “keragaman keagamaan” serta berbagai lapisan budaya ber-agama di Indonesia terlindungi martabat dan hak-haknya secara bulat dalam Konstitusi kita.

Pancasila lahir dari pendalaman pengalaman sejarah yang panjang dan konstruk pemikiran yang tinggi. Dalam proses perumusannya, kita menemukan perjumpaan harapan bersama yang amat jernih dasar moralnya. Selanjutnya, perumusan Pancasila diramu melalui percakapan-percakapan politik kenegaraan yang mendalam.

Setiap pemahaman kelompok, gelombang sejarah banga-bangsa lain di dunia serta dasar-dasar teorinya, dibentangkan dalam setiap debat para pendiri Indonesia. Hal lain yang tak kalah pentingnya, para pendiri bangsa merumuskan  dasar negara dan konstitusi dengan penuh ikhlas, terbuka, dan nalar yang tajam.

Pada tanggal 28 April 1945 pemerintah (pendudukan) Jepang membentuk Badan untuk Menyelidiki Usaha-Usaha Persiapan Indonesia Merdeka. Selanjutnya, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Jumlah mereka 62 orang yang tergabung dalam BPUPKI. Ketuanya adalah seorang dokter, bernama dr. Radjiman, mantan ketua Budi Oetomo.

Mereka mulai bersidang sejak 29 Mei 1945. Pada permulaan sidang tersebut, dr. Radjiman Wedioningrat sebagai ketua mengajukan pertanyaan besar: “apakah dasar negara yang akan kita bentuk itu?” Dengan pertanyaan inilah perdebatan dan pembahasan berlangsung hebat dan hangat.

Selama tiga hari bersidang, jawaban tentang Dasar Negara belum ditemukan suara bulat. Ada sikap terbelah antara memilih dasar Islam atau dasar nasional (sekuler) sebagai dasar tata negara Indonesia. Selama sekian hari itu, Soekarno tampaknya memilih menjadi “pendengar yang aktif”. Beliau menyimak dengan sabar sejumlah pandangan dan pidato. Demikian juga dengan Bung Hatta.

Tepat pada 1 Juni 1945, Soekarno akhirnya menyampaikan pidato panjang, sekitar 25 halaman dengan ± 6.480 kata —yang dikemudian hari diberi judul Lahirnya Pancasila—. Sebuah jalan tengah diformulasi oleh Soekarno bahwa dasar negara Indonesia adalah “bukan negara agama, bukan pula negara sekuler, melainkan Pancasila!”.

Penting diketahui bahwa Soekarno tidak buru-buru menyampaikan Pancasila, tapi ia lebih dahulu secara panjang lebar menjelaskan sejarah ideologi-ideologi dunia, fakta-fakta kebangsaan Indonesia, makna kemerdekaan sebagai “jembatan emas”, lokalitas suku-suku di Nusantara, sejarah Tiongkok, agama-agama, dan perpecahan faksi politik di berbagai negara di dunia, serta teori-teori besar tentang “bangsa”, dst.

Jadi, Soekarno menggali dan “menyarikan” Pancasila melalui pendalaman yang luas tentang keindonesiaan dan kemerdekaan dalam konteks dunia. Dalam pidato 1 Juni 1945 tersebut, Bung Karno juga berulang-ulang menyebut syukur alhamdulillah dan rahmat Allah SWT tentang tanah air Indonesa dan Indonesia sebagai ibu pertiwi dan tanah tumpah darah kita.

Bisa dikatakan, melalui Pidato 1 Juni tersebut, Soekarno benar-benar tampil sebagai “penyambung lidah” cita-cita besar Indonesia mencapai merdeka dan merangkai masa depannya yang bhinneka tunggal ika. Itulah sebabnya, dasar “kebangsaan” (nationale staat) diletakkan sebagai yang pertama. Sambutan hangat dan tepuk tangan-riuh menyertai sela-sela Pidato Soekarno tersebut.

Soekarno merumuskan Pancasila dengan susunan awal: (1) Kebangsaan Indonesia; (2) Internasionalisme/Perikemanusiaan; (3) Mufakat/Demokrasi; (4) Kesejahteraan Sosial; dan (5) Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selanjutnya, oleh sebuah Panitia kecil kemudian menyempurnakan susunannya di kemudian hari, terdiri dari: Soekarno, Hatta, A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim dan Muhammad Yamin.

Negeri-negeri asing terpukau tentang posisi Pancasila di Indonesia. Douglas Ramage (1995) menulis buku panjang tentang Pancasila sebagai “ideologi toleransi” dan membuktikan bagaimana gelombang-gelombang politik yang menyertai pertumbuhan Pancasila sebagai ideologi nasional, terutama bagaimana ke-Pancasila-an itu berkembang dalam beragam persepsi, kontraksi, kompetisi, dan kecemasan yang pernah dialami oleh Orde Baru, ABRI dan kekuatan masyarakat sipil di awal 1990an hingga Orde Baru jatuh.

Ada banyak tulisan ilmiah lain yang berhasil dan heroik membuktikan bahwa Pancasila adalah “formula” yang tepat dan otentik untuk Indonesia, antara lain tentang nilai-nilai dasarnya yang berakar dalam budaya Indonesia sendiri, sebagaimana dikaji oleh banyak ahli sejak Pranarka (1985), Eka Darmaputra (1987) hingga Yudi Latif (2011) dan Warsono (2016), dst.

Bayangan bahwa Indonesia setiap saat terancam pecah adalah bayangan yang cukup rasional. Terlebih kalau orang menengok sejarah panjang di berbagai tempat di belahan dunia. Karena itu, untuk mengokohkan keberadaan kita sebagai “Negara Kesatuan”, ide-ide tentang “perpecahan” yang berkembang merupakan tantangan utama yang mestinya disikapi. Seriusnya karena ide tentang perpecahan itu justru muncul dari dalam tubuh Indonesia itu sendiri.

Mengapa ini semua terjadi? Karena kita telah berkembang menjadi satu negara-bangsa yang cenderung menyerahkan sepenuhnya setiap harapan kita kepada negara (baca: pemerintah). Sikap seperti inilah yang membuat iklim kebangsaan kita cenderung terasa “serba pemerintah”. Padahal, pemerintahan modern yang sebenarnya adalah pemerintahan yang “tidak dominan”. Ia seharusnya menjadi penopang bagi tumbuhnya masyarakat yang kaya inisiatif, mandiri dan kosmopolit membangun basis-basis produktivitasnya.***

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Saturday, 23 May 2026
Next Post
PT Daya Adicipta Wisesa (DAW) bersama komunitas pecinta Honda Scoopy menggelar kegiatan bertajuk "Scoopy Your Mode, Your Ride" di kawasan Megamas, Manado. (foto: dok-daw)

Scoopy Your Mode, Your Ride, Honda Scoopy Ajak Ekspresikan Gaya

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Gubernur Gusnar Ismail pada peresmian Gorontalo menjadi tuan rumah Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan. (foto: dok-pemprov)

PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

Monday, 8 June 2026
Polsek Wonosari bergerak cepat menangani peristiwa meninggalnya seorang masyarakat yang diakibatkan tersengat aliran listrik.

Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

Monday, 8 June 2026
Rapat persiapan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Jumat (5/6/2026). (Foto : Valen)

Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

Monday, 8 June 2026

Pos Populer

  • Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail semeja bersama para gubernur se sulawesi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dalam kegiatan apresiasi Pemerintah Daerah di Kendari, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)

    Gusnar Temui YSK Bahas Kredit ASN Pemkot, Pemotongan Gaji ASN Tetap Melalui Debit Otomatis

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.