logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Waswas Budaya

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 10 February 2025
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

BELAKANGAN ini, sikap “prihatin” sering diungkapkan ketika membahas kebudayaan. Meski demikian, perangai defensif tidak bisa dijadikan dasar yang kukuh dalam jangka panjang.

Memang, rasa khawatir tentang hilangnya “tradisi” dan menyempitnya apresiasi dan praktik bahasa daerah menjadi perhatian bersama, tapi sikap-sikap reaktif dan emosi yang menyempitkan kesadaran bukanlah jalan keluar. Jika ini yang terus berlangsung, maka budaya hanya akan berperan sebagai ruang yang melebarkan frustasi dan pretensi tentang kekalahan.

Related Post

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Spanyol, Bola, dan Islam

Catatan ini berangkat dari pandangan bahwa kebudayaan berporos pada potensi daya hidup, akal sehat dan kesadaran manusia dalam mencipta dan membangun solidaritas dan pluralitas kemanusiaannya.

Karena itu, dalam membahas kebudayaan (termasuk sejarah), usaha-usaha kreatif (dalam penelitian, penulisan, pengkajian dan praktik) adalah keniscayaan. Bahkan tidak cukup dengan itu, yang tak kalah pentingnya adalah antusiasme dan kerja keras dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan.

Visi kebudayaan akan sangat menentukan antusiasme kita dalam menggali, memperkaya dan menemukan “jati diri” sebuah kelompok masyarakat atau sebuah bangsa. Ditegaskan bahwa “kebudayaan adalah jati diri sebuah bangsa” (Edi Sedyawati, 2009). Karena itu, kita mengalami tantangan yang makin serius karena globalisasi memaksa kita untuk memiliki daya saing di satu sisi, tapi kita juga membutuhkan daya tahan dari sisi identitas kebangsaan, dengan beragam lokalitasnya.

Dalam konteks Gorontalo, keseriusan banyak pihak dalam menggali sejarah dan perkembangan kebudayaan Gorontalo makin dirasakan sebagai sebuah pekerjaan luhur, tapi  tak bisa kita pungkiri bahwa “kesibukan” ini masih menyisahkan banyak ruang kosong (baca: agenda). Bagaimana pun, publikasi bidang sejarah dan studi-studi kebudayaan di tingkat nasional belum memberi tempat yang memadai untuk Gorontalo.

Di sisi lain, para peminat sejarah dan studi-studi kebudayaan sewajarnya memperhatikan pandangan Prof. Taufik Abdullah (1985) tentang “keterampilan teknis”:“…kepekaan common sense, imajinasi kesejarahan dan ketajaman analisis…Ini (semua) membutuhkan wawasan teori dan kemampuan komparatif…serta integritas yang tinggi”.

Tanpa sikap seperti itu, imajinasi, teori dan metodologi menjadi sangat kaku dan seringkali mudah “lumpuh” di hadapan data sejarah atau fakta kebudayaan yang menggunung, dengan interpretasi yang beragam. Dengan demikian, seluruh “fakta sejarah” yang tertuang dalam naskah-naskah tertulis dan artefak, tanpa pengujian yang kritis dan analisis yang serius, bisa jadi unsur-unsur “mitos” dan “tafsir” yang dangkal-kering akan “mencampuri” –-kalau tidak malah mendominasi –-.

Di Gorontalo sendiri, beberapa agenda utama yang butuh diusahakan lebih serius guna memperkuat perkembangan kebudayaan dan masa depan kebudayaan Gorontalo adalah, pertama, reproduksi naskah-naskah, telaah manuskrip, literatur dan dokumen yang relevan.

Ini makin mendesak dilakukan, tapi masih terlalu sedikit yang peduli dan konsisten. Padahal, upaya reproduksi ini dimaksudkan untuk membuka akses kepada pemiliki sah kebudayaan (baca: masyarakat) untuk kembali bisa “menyentuh-merasa-menjiwai” secara langsung atas artefak sejarah dan kebudayaannya sendiri.

Kedua, perlu ditumbuhkan sebuah kesadaran bersama bahwa masyarakat memiliki hak dan kewajiban atas “pelestarian” jiwa sejarah, nilai-nilai dan praktik-praktik budaya miliknya. Sejauh ini, “otoritas” pengkajian budaya dan sejarah tergolong elitis dan publikasi bidang kebudayaan dan sejarah relatif terbatas, demikian pula dengan sebarannya di tengah-tengah masyarakat, kalangan pendidikan dan pengambil kebijakan.

Di sisi lain, rasa khawatir mulai tampak akan “hilangnya identitas” budaya lokal (praktik bahasa, tradisi lisan, kesenian, praktik adat, dst). Khusus yang terakhir, saya melihat beberapa gerakan terbatas semakin gesit dan haruslah disambut dan didukung. Kerja-kerja di sektor ini memang membutuhkan upaya berlapis-lapis dan dikerjakan dengan “nafas panjang”. Kepekaan dan kepedulian adalah dasar kerjanya.

Resiko tentang “hilangnya” beberapa bagian dari kebudayaan masyarakat tak bisa kita hindari. Kita tak bisa menghindar dari gempuran-gempuran perubahan mondial dewasa ini. Di tingkat kehidupan sehari-sehari, ketegangan akan terus terjadi karena pilihan berbahasa dan pola-pola pemikiran akan terus mewarnai perjumpaan setiap warga masyarakat: di lembaga pendidikan, di tempat kerja, di lingkungan pergaulan/pemukiman, di ruang-ruang publik dan media.

Di semua ruang tersebut di atas, sejumlah “kompromi” dan “gempuran budaya” akan terus terjadi. Sebagai dampaknya, praktik berbahasa yang lebih egaliter dan bersifat “Melayu lokal” atau variasi-variasi praktis lainnya akan menjadi jembatan komunikasi. Kota-kota kosmopolit akan menjadi eskalator-nya. Pada level ini, sikap demokratis haruslah tetap jadi pegangan, karena pergaulan masyarakat manusia mempunyai derajat otonominya sendiri.

Setiap unsur kebudayaan akan mengalami ketegangan, karena tidak setiap perjumpaan rutin masyarakat manusia secara otomatis membentuk kekuatan “pertemuan” yang efektif dalam jangka pendek. Akibatnya, sejumlah penyesuaian, negosiasi dan penyerapan akan membentuk kesadaran baru. Pada sisi inilah dimensi-dimensi kebudayaan akan memasuki jaringan-jaringan (baru) dalam pergaulan sehari-hari.

Melalui pergaulan lintas individu dan kelompok, kemampuan memberi “isi” pada bagian-bagian tertentu dalam praktik bahasa dan tradisi lokal akan beroleh ruang yang dinamis. Proses ini akan memperkaya sebuah adaptasi di satu sisi, tapi juga berkembangnya resepsi dan respek budaya di sisi lain. Jika ini bisa ditemukan pola-pola interaksinya yang produktif, maka akan terbentuk suatu pemertahanan budaya -–termasuk bahasa— dengan basis sosial yang kuat.

Dalam kebudayaan, kita membutuhkan kesadaran untuk “saling melengkapi”, bukan sikap-sikap reaktif yang mendorong artikulasi yang serba sepihak, serba menilai dan serba prihatin. Dalam hal ini, kita seringkali tidak sadar melihat sebuah “kesenjangan” dalam pemahaman kebudayaan. Padahal,

dalam setiap budaya yang matang, kekuatannya justru terletak pada kekayaan khasanahnya yang selalu segar untuk “dirujuk” dan tumbuh untuk “diperkaya”. Kita tak bisa bertahan dan hanya mengandalkan legitimasi sempit, apalagi dengan menjebakkan diri pada kategori hitam-putih: kita, mereka; yang asli dan yang tidak asli; yang lokal, yang nasional, dan yang kolonial. *** 

 

Penulis adalah
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Husin Ali

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Wednesday, 22 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Tuesday, 21 July 2026
Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Monday, 20 July 2026
Basri Amin

Spanyol, Bola, dan Islam

Monday, 20 July 2026
Muh. Amier Arham

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Sunday, 19 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Thursday, 16 July 2026
Next Post
Korban semasa hidup menjadi tulang punggung keluarga.

Seorang Mahasiswa Meninggal Usai Kecelakaan Lalulintas

E-paper Gorontalo Post 22 Juli 2026

Rekomendasi

11 WNA dan Dua Awak Kapal Hilang di Teluk Tomini, Tim SAR Sisir Jalur Pelayanan

11 WNA dan Dua Awak Kapal Hilang di Teluk Tomini, Tim SAR Sisir Jalur Pelayanan

Saturday, 25 July 2026
Febrie Ditahan Tanpa Diborgol dan Rompi Tahanan, Kejagung: Sudah Malam

Febrie Ditahan Tanpa Diborgol dan Rompi Tahanan, Kejagung: Sudah Malam

Saturday, 25 July 2026
11 WNA Ditemukan Selamat, Satu Awak Kapal Masih Hilang di Teluk Tomini

11 WNA Ditemukan Selamat, Satu Awak Kapal Masih Hilang di Teluk Tomini

Saturday, 25 July 2026
Sakit Jantung

Sakit Jantung

Saturday, 25 July 2026

Pos Populer

  • AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

    AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.