Gorontalopost.co.id, GORONTALO –- Masyarakat Gorontalo khususnya Bone Bolango sedang berduka. Salah satu putra terbaiknya telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Yaitu mantan wakil bupati Bone Bolango, Mohammad Kilat Wartabone.
Sosok yang telah banyak mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk daerah itu, meninggal dunia pada Ahad (7/6/2026) malam di rumah sakit Aloe Saboe itu akibat penyakit diabetes.
Kilat Wartabone mengembuskan nafas terakhir pada pukul 18.45 Wita dalam usia 65 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Bone Bolango yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, ramah, dan dekat dengan rakyat.
Suasana haru langsung terasa saat jenazah almarhum tiba di rumah duka di Kecamatan Suwawa. Tangis keluarga, kerabat, dan warga pecah saat datang silih berganti menyambut kepulangan terakhir tokoh yang selama ini dikenal rendah hati tersebut.

Adik almarhum, Kris Wartabone, mengungkapkan bahwa sebelum wafat, Mohamad Kilat Wartabone sempat menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit akibat infeksi pada bagian kaki yang dipicu tingginya kadar gula darah. “Beliau memang sudah beberapa hari dirawat. Ada infeksi di bagian kaki akibat komplikasi diabetes,” ujar Kris.
Pihak keluarga berencana memakamkan almarhum sebelum waktu salat Zuhur. Namun hingga malam hari, lokasi pemakaman masih menunggu hasil musyawarah keluarga besar. “Kami masih akan bermusyawarah bersama keluarga. Yang pasti, kami berupaya agar almarhum dimakamkan sebelum tengah hari,” katanya.
Bagi keluarga, sosok Mohamad Kilat Wartabone bukan hanya seorang tokoh politik, melainkan figur pemersatu yang selalu menghadirkan ketenangan di tengah perbedaan.
Menurut Kris, almarhum dikenal tidak pernah menyelesaikan persoalan dengan emosi, melainkan mengedepankan dialog dan musyawarah.
Di masa-masa akhir kehidupannya, almarhum lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, anak, dan cucu.
Aktivitas sehari-harinya pun didominasi kegiatan ibadah dan berkumpul bersama orang-orang terdekat. “Beliau lebih banyak di rumah dan ke masjid. Waktu bersama keluarga menjadi hal yang paling beliau nikmati,” tambah Kris.
Salah satu hal yang paling membekas di ingatan keluarga adalah doa yang kerap dipanjatkan almarhum menjelang akhir hayatnya. Menurut cerita sang istri, almarhum sering memohon kepada Allah agar diwafatkan pada usia 66 tahun.
“Istri beliau pernah bercerita bahwa almarhum sering berdoa agar dipanggil Allah pada usia 66 tahun. Mungkin karena berbagai cita-cita dunia sudah tidak lagi menjadi fokus beliau,” ungkap Kris.
Mohamad Kilat Wartabone merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam perjalanan politik Bone Bolango. Ia tercatat menjadi Wakil Bupati Bone Bolango pertama. Saat ia mendampingi Bupati Ismet Mile pada periode 2005-2010.
Kemudian ia kembali dilantik menjadi wakil bupati pada 2014 untuk melanjutkan sisa masa jabatan periode 2010–2015. Pada Pilkada 2015, ia kembali maju sebagai calon wakil bupati mendampingi Hamim Pou dan pasangan itu kembali terpilih.
Kepergian Mohamad Kilat Wartabone menjadi kehilangan besar bagi Bone Bolango. Dedikasi, keteladanan, dan sikapnya yang menyejukkan akan terus dikenang oleh masyarakat yang pernah merasakan pengabdiannya.(Csr)












Discussion about this post