logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Manusia “Menerkam” Manusia

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 23 October 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

SAYA memang beberapa kali ke Perancis, tetapi bahasa lisanku masih gagap. Hanya ada satu ungkapan yang tak pernah kulupakan: d’exploitation de l’homme par l’homme. Sebuah kenyataan industrial “ketika manusia memakan manusia lainnya”. Pernyataan ini sering dirujuk oleh sarjana ilmu-ilmu sosial (Bourdeau, 2015).

Dalam faktanya, pikiran yang membatu dan hati yang picik adalah bukti bahwa manusia tetaplah tidak mudah lepas dari naluri primitifnya. Manusia bisa kejam, bahkan bisa jauh lebih kejam dari makhluk buas yang pernah ada di muka bumi. Manusia bisa “memakan” manusia lain secara arogan, dengan pola kerja yang amat brutal, terencana, dan seringkali tak terduga.

Related Post

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Spanyol, Bola, dan Islam

Manusia potensial “membunuh” saudaranya sesama manusia dengan cara berulang-ulang: dengan tindak-bahasa, dengan perlakuan kejam, dengan buruk sangka dan fitnah, cemooh-penghinaan, kedengkian, kemunafikan, kekuasaan yang congkak, dst. Tetapi, sebelum itu semua dilakukan, sesungguhnya yang terjadi pada manusia seperti itu adalah bahwa ia telah lebih dulu “mematikan” nilai-nilai manusia dalam dirinya sendiri.

Tabiat buruknya telah mematikan pikiran waras dan akal-budinya yang luhur, sebelum ia berlaku pembunuh bagi manusia lain, yang menjadi ‘target operasi’ atau mangsa amarahnya. Pikiran bersih dan hati luhur diparkir sedemikian rupa karena rongrongan (kepentingan) sepihaknya dan/atau karena “bisik-bisik” orang-orang sekitarnya.

Letak “pikiran” dan/atau “akal” (buruk) itu sendiri masih terus menjadi percakapan serius hingga kini. Memang, letaknya secara fisik sering dipahami berada di kepala -–ketika kita paralelkan akal/pikiran dengan fungsi-fungsi yang terjadi dari “kerja otak” kita; tapi pada situasi yang lain, kemampuan kita mengambil keputusan yang paling utuh dan selanjutnya kita klaim sebagai keputusan terbaik justru ditentukan di “hati”.

Dalam teks agama, penegasan bahwa “ada segumpal daging bernama hati” yang menentukan baik-buruknya sesuatu adalah indikasi penting dari sesuatu yang mestinya fungsional-nyata dalam kehidupan. Sehingga, jika sikap dan perilaku kita buruk maka dengan otomatis kita merujuk pada keadaan “hati” yang di dalam. Ini juga bisa dinyatakan sebagai energi yang bersumber dari yang “tak tampak” dan “terlindungi”. Kata “ segumpal daging” memang sangat fisikal, tapi di saat yang sama ia dilekatkan sejajar dengan perannya yang menentukan, yakni tentang “baik-buruk”nya pikiran dan laku-laku keseharian kita, termasuk dalam menyikapi sesuatu atau orang lain.

Meski begitu, manusia tak punya cara mudah dalam menata hati dan memperbaiki pikiran batu dan hati picik itu. Membaca, menghayati dan mengamalkan “tuntunan agama” adalah cara yang diyakini sebagai kesadaran, usaha dan pilihan terbaik bagi manusia. Sehingga, sikap untuk bersedia “kembali” menemukan petunjuk adalah suara agama yang amat tegas dan bermakna otentik. Tuhan hadir dalam penciptaan, teks dan kesadaran, kemudian dilatih menemuiNya melalui praktik (baca: ibadah atau amalan), dalam sebuah spektrum waktu dan perjalanan sejarah yang semuanya berpusat kepada (diri/jiwa) manusia, tindakan, dan nasibnya.

Lalu, mengapa selalu ada jarak dan hal-hal jorok dalam perilaku manusia? Mereka yang picik hati, berpikiran batu dan munafik, tindakan “menggunting dalam lipatan” selalu dengan mudah kita saksikan dan rasakan sehari-hari? Ini berlaku pada setiap kelompok di masyarakat kita. Terpampang jawaban yang ringan dan yang berat. Dan semuanya kembali kepada manusia, makhluk hebat yang mulia di langit tapi pun bisa jatuh nilainya setiap saat, serendah “kehinaan hewani” yang paling buruk di bumi.

Dalam konteks ini, agama hadir dalam sebuah jarak dengan tujuan pokoknya untuk kita rujuk dan “dekati” keagungan petunjuk dan nasehat-nasehatnya, karena di dalamnya Tuhan hadir menawarkan “firman”, “tanda-tanda” dan “jalan” mendekati dan menuju kepadaNYA. Di dalam teks itu pula beragam contoh langsung dan perbandingan disampaikan dengan keteduhan bahasa dan keluasan cakupan yang tak terkira luas bening-maknanya.

Apakah agama adalah satu-satunya “ruang” yang memberi “isi” fundamental untuk kemanusiaan kita? Tak semua orang dan masyarakat bisa menjawabnya dengan cepat. Karena sering pula disaksikan bahwa justru atas nama agama genderang perang ditabuh di banyak belahan dunia. Dengan alasan agama pula konflik terus terjadi secara berulang.

Klaim tunggal kebenaran dan sikap menjadi “hakim” atas keyakinan-keyakinan orang lain pun sering dilengketkan dengan klaim agama. Agama menjadi sangat rentan di tangan-tangan manusia yang hatinya tidak (sepenuhnya) berfungsi “sebagai manusia”. Tegasnya, menjadi “manusia baik” adalah sebuah pencapaian, sebuah usaha (manusia) itu sendiri dalam menetapkan dan mendialogkan usaha-usaha terbaiknya “menjadi manusia” utuh.

Jika kehidupan ini sendiri adalah sebuah cermin tentang usaha, kebebasan dan penciptaan, maka tanggung jawab dan kesadaran (tujuan) adalah “bingkai” yang tak bisa dilepaskan. Hanya dengan bingkailah yang membuat sebuah cermin dan gambar menjadi unik, berharga dan bermakna.

Kita tentu tak habis pikir jika kita bertemu dan menyaksikan jenis-jenis manusia di sekitar kita yang tak jua berhasil “bercermin” pada apa-apa yang pernah atau yang tengah dia kerjakan, kemudian mereka bercermin pada apa-apa yang ia katakan, lakukan dan harapkan dalam kesehariannya. Disinilah posisi “diri” kita dan “orang lain” mampu menjadi sesuatu yang berhadapan –-untuk saling bertanya– di satu sisi, tapi sekaligus bisa bersama-sama –untuk saling berkaca dan menagih— dan mengutarakan persamaan jiwa kita (sebagai sesama manusia) di sisi lain.

Sikap moral paling dasar adalah “jangan pernah lakukan sesuatu kepada orang lain hal-hal yang kepada dirimu sendiri kamu tak menyukainya…sudilah perlakukan orang lain dengan hal-hal yang kamu sendiri sudi pada dirimu...”.

Jika ada jenis manusia yang mudah abai dengan prinsip tersebut, maka percakapan tentang kebaikan, maanfaat ilmu, ketinggian derajat, dan beragam nasehat padanya menjadi tak berguna. Ia terlalu congkak kepada kebenaran karena dalam dirinya telah bertumpuk nafsu (kuasa) menjadi “pemenang”, gila hormat, dan itulah yang membuatnya melampiaskan berbagai nista dan tindakan sepihak dalam laku kesehariannya. ***

 

Penulis adalah
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsitulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Husin Ali

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Wednesday, 22 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Tuesday, 21 July 2026
Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Monday, 20 July 2026
Basri Amin

Spanyol, Bola, dan Islam

Monday, 20 July 2026
Muh. Amier Arham

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Sunday, 19 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Thursday, 16 July 2026
Next Post
Dinas Perhubungan Kota Gorontalo terus melakukan penertiban terhadap juru parkir (Jukir) illegal yang ada di wilayah Kota Gorontalo.

Jukir di Kota Gorontalo Ditertibkan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 22 Juli 2026

Rekomendasi

11 WNA Ditemukan Selamat, Satu Awak Kapal Masih Hilang di Teluk Tomini

11 WNA Ditemukan Selamat, Satu Awak Kapal Masih Hilang di Teluk Tomini

Saturday, 25 July 2026
Sakit Jantung

Sakit Jantung

Saturday, 25 July 2026
Anak Telur

Anak Telur

Saturday, 25 July 2026
Satpam MBG

Satpam MBG

Saturday, 25 July 2026

Pos Populer

  • AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

    AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.