Khitanan atau yang biasa disebut sunatan oleh masyarakat Indonesia adalah kewajiban bagi seorang Muslim laki-laki yang dilaksanakan sejak anak-anak sebelum baligh. Namun, lain halnya dengan Al Fatih, yatim piatu mualaf ini justru dikhitan diusiannya ke 18 Tahun
ROY TILAMEO – Gorontalo
MALAM itu Sabtu (5/10/2024) sekira pukul 16.00 Wita Al Fatih bersama adkinya Radzak telah bersiap-siap menuju rumah sunat dr Taufik di Kelurahan Talumolo Kecamatan Dumbo Raya Kota Gorontalo.
Keduannya tidak sendirian melainkan didampingi para relawan Yayasan Al Yasiir Goorontalo. Setibanya di rumah sunat, keduannya masih dilakukan pembaiatan oleh Ustdaz Hasnur.
Usai di baiat, Al Fatih yang lebih dulu mausk ke kamar tindakan untuk khitan. 30 Menit kemudian Al Fatih keluar kamar gantian dengan adiknya Radzak. Saat diwawancarai usai dikhitan, Al Fatih mengaku merasakan sakit di awal saat dilakukan penyuntikan bius.
“Untuk sementara selama beberapa hari kedepan saya belum masuk sekolah karena untuk penyembuhan luka khitan,”kata Al Fatih. Alasan baru dikhitan saat ini karena saat hendak dikhitan tahun lalu bertepatan dengan ulangan kenaikan kelas, sehingga khitanan tertunda.
“Alhamdulillah dan terima kasih kepada pengurus Yayasan Al Yasiir sudah membantu memfasilitas pelaksanaan khitanan kepada kami,”ujar Al Fatih.
Sementara itu Husain Harun selaku wali orang tua dari kedua mualaf ini mengatakan, Al Fatih dan Radzak merupakan ponakannya yang tak lain ibu dari keduannya Zahara Harun adalah saudara kandung Husain.
Sedangkan ayah Al Fatih dan Radzak warga Papua Laki Suwenda. “Ayah kedua anak ini telah meninggal di Papua, sehingga ibu Al Fatih dan Radzak kembali ke Gorontalo. Sayangnya hanya berselang sembilan bulan kemudian, mama mereka sudah mulai sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia.
“Pesan terakhir mamanya agar bisa menyekolahkan ketiga anaknya, terutama yang paling bungsu, sebenarnya ibunya yang akan urus, hanya karena kendala sakit sehingga tidak sempat. Saat ini saya menjalankan amanah mama mereka untuk merawat mereka sampai besar hingga menyekolahkan,”ungkap Husain.
Untuk biaya sekolah, Husain tetap berusaha memberikan uang jajan dan perlengkapan sekolah. Diakui pula oleh Husain, sudah pernah ada bantuan dari Baznas Kota berupa sembako dan uang saku, dari Baznas provinsi hanya uang saku.
“Terkait bantuan, bukan saya yang kelolah, langsung saya berikan kepada anak yang tua yakni Al Fatih agar dia bisa mengelola dengan baik untuk jajan,”jelas Husain.
Al Fatih lahir di Gorontalo dia masih sempat sekolah TK. Namun, ketika masuk kelas Sekolah Dasar (SD), keduannya sudah ke Papua. Adapaun yang mendorong mereka masuk Islam adalah ibu mereka sendiri.
“Alhamdulillah, kami berterima kasih kepada Yayasan Al Yasiir Berkah Gorontalo yang sudah mau membantu memfasilitasi khitanan ini,”tutup Husain.
Terpisah Ketua Yayasan Al Yasir Lutfia Martiany Tagoi saat diwawancarai mengatakan,pihaknya bersyukur kembali mendapatkan kesempatan dan kepercayaan untuk menunaikan amanah dari donatur memfasilitasi khitanan kakak beradik Yatim Piatu Mualaf.
“Kalau kakak Krisdani Wenda, nama Muslim Al Fatih kelas 2 SMA, kemudian adiknya Kristian Dani Wenda nama muslim Radzak kelas 2 SD.
“Sebelumnya kami mendapat informasi dari Yayasan Al Yasiir bahwa kedua anak tersebut belum dikhitan, alasan terkendala biaya. Sehingga kami mencari donatur dan kami mendapat dana dari donatur untuk memfasilitasi khitanan dan kakak beradik ini.
Untuk prosessnya kami mencari fasilitas yang bisa menjamin pelaksanaannya yang steril, kemudian dilakukan tenaga medis dokter Taufik,”tutup Lutfia. (*)












Discussion about this post