logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Masjid-Masjid Kita

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 29 July 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Mahasiswa Merdeka

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Dari Street Justice menuju Digital Justice

oleh :
Basri Amin

Apa kabar, Masjid Raya Gorontalo? Masjid ada di mana-mana, lalu apa sesugguhnya yang butuh kita raya-kan? Kita bisa “sujud” di mana-mana, lalu dalam hal apa penghambaan kita kepada-Nya benar-benar dipandang oleh-Nya?

Sebuah masjid setiap saat bisa dibangun dan dibesarkan, tapi secara ruhani dan jika hendak menjadi penanda (pencapaian) peradaban, sebuah masjid ‘membutuhkan’ banyak sentuhan, tata-kerja, dan niat yang agung. Tidak karena (nafsu) pujian manusia, gugusan material dan ilmu, melainkan terutama sebagai penghambaan kita kepada Yang Maha Besar dan Maha Agung.

Emha Ainun Nadjib, tahun 1987, menulis puisi panjang “Seribu Masjid Satu Jumlahnya”: Cak Nun menulis: Masjid itu dua macamnya// Satu ruh, Lainnya badan// Satu di atas tanah berdiri// Lainnya bersemayam di hati. Masjid batu bata Berdiri di mana-mana// Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya// Timbul tenggelam antara ada dan tiada.

Sangat mahal biaya masjid badan// Padahal temboknya berlumut karena hujan//
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban// Tak bisa lapuk karena 
asma-Nya kita dzikir-kan

Dalam benak saya sejak awal, aura masjid di Gorontalo sangat terasa. Masjid tersebar di mana-mana dengan tingkat pemakmurannya masing-masing. Di setiap masjid, selalu ada kebeningan ruhani yang dipancarkan oleh para “Imam” dan “Sara daa-nya, keguyuban jamaahnya, juga lanskap alam serta pekuburan yang mengitarinya. Untuk soal kemegahan, keindahan dan kebesaran, setiap orang bisa berpendapat.

Lagi pula, tidak setiap masyarakat membutuhkan rasa megah, besar dan indah. Bukankah elemen utama yang dibutuhkan adalah rasa lapang dan rasa bening (hati) dalam setiap ibadah di masjid. Belakangan, peneguhan identitas ke-Gorontalo-an itu melebar kepada pembangunan Islamic Center dan penentuan (jargon) identitas ‘Serambi Madinah’. Keduanya unik, satunya berbahasa Inggris dan satunya lagi mencoba meneguhkan sesuatu (?).

Sejak 2008 keluarga kami tinggal di Limboto, setelah bergeser dari keluarga besar di Datahu Isimu. Di Limboto, kisah-kisah masjid tergolong unik. Di bagian pelataran masjid Agung Baiturrahman (Limboto), kita akan menemukan satu bagian yang permukaannya kaca dengan air jernih di bawahnya, bahkan pada suatu waktu ada ikan-ikan lincah yang bermain. Di masa awal pasca renovasi besar masjid Agung Limboto ini, setiap orang merasakan betul sesuatu yang “lain”, tak biasa, dan hampir semua jamaah bangga dengan penampakan dan tampilan baru masjid agung.

Demikian juga di awal 1990-an, kita merasakan kebanggaan yang sama dengan kemegahan masjid Agung Baitturrahim (kota Gorontalo). Sejak itu, nuansa arsitekur Islam melalui disain interior, mihrab, mimbar, kaligrafi dan penampakan luar masjid memberi suasana baru di Gorontalo. Meski demikian, aura spiritual dan arsiteknya yang klasik dan menyejarah hanya hanya bisa kita temu-rasakan di Masjid Sultan Amai di Hunto (berdiri 1495 masehi) dan masjid Boki Owutango di Tamalate (1525 masehi).

Kembali ke Limboto, menurut hemat saya, penggunaan kaca dan air dalam pelataran masjid atau di bagian mana pun, sesungguhnya tidak sekadar hasil pekerjaan tukang karena pesanan pemerintah kabupaten dan pengurus masjid Agung. Entah sengaja atau tidak, secara historis, penggunaan “kaca transparan” dan penempatan air bersih nan bening dalam bangunan, adalah sebuah produk sejarah keagamaan yang penting. Dengan merujuk pada peristiwa Ratu Balqis yang demikian takjub dengan istana (raja/Nabi) Sulaiman, karena aura kemegahan (arsitektural) dan keindahannya (estetikal) yang tak terkira oleh sang ratu kaya dari Seba ini, sampai-sampai ia harus mengangkat gaun kebesaran keratuannya karena takut basah dan terpeleset di lantai kaca/kristal istana Sulaiman. Akhirnya, sang ratu jadi sadar bahwa istana ini dibangun di atas penghambaan kepada Yang Maha Besar, Maha Agung dan yang Maha Indah, yakni Allah SWT. Sang ratu “terkecoh” dengan matanya sendiri, sementara dari sisi Sulaiman, karya konstruksi (istananya) memang dirancang dan dibangun dari banyak kekuatan dan kekuasaan untuk menundukkan mata dan hati sang Ratu, agar taat kepada yang Maha Pencipta.

Fakta inilah yang kemudian memberi inspirasi sarjana di Barat dalam mengagumi konsep seni keindahan dalam Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh Valerie Gonzales (2001). Penggunaan kaca kristal memberi aspirasi penting dalam sejarah (peradaban) Islam, sebagaimana tampak ketika Islam berjaya sekian abad di Spanyol, sehingga khalifah Andalusia, Al-Ma’mun membangun “istana kristal” (istana Toledo) dengan hamparan (taman) airnya yang indah, juga pilar-pilar masjidnya yang megah penuh wibawa, dengan warna marmer yang kemerahan yang lembut, yang hingga kini masih tampak sisa-sisa keindahannya di Spanyol (Lunde, 2002; Watt, A History of Islamic Spain, 1967: 144-146).

Di masjid, pengalaman visual tentang keindahan akan sekaligus tak terpisah dengan resonansi spiritual melalui aliran-aliran rasa dan kilatan-kilatan yang memang sejak awal “terkondisikan” oleh setiap orang yang pertama kali datang, yang selalu hadir atau yang sesekali hadir. Tentu, keindahan selalu membawa dua sisi: yang tampak-luar (zahir) dan yang tak tampak-dalam (batin). Karena Tuhan sendirilah yang telah memberi banyak “tanda” dan “contoh” tentang keindahan dan kemegahan itu melalui ciptaanNya di alam raya.

Tokoh terpandang dalam sejarah pemikiran seni Islam, Ibnu Hazim, adalah yang pertama merumuskan pentingnya dimensi material, spiritual dan etikal dalam konsep keindahan (arts, estetika) dalam masyarakat Islam. Ibnu Hazim (wafat 1064 masehi) adalah pemikir Andalusia di masa keemasan Islam Spanyol di Cordoba. Dialah yang menegaskan pentingnya kualitas fisik dan kekekaran, kecantikan yang manis (anggun, halawa), kemuliaan dan kewibawaan yang berjiwa (diqqa). Ibnu Hazim mengurai panjang lebar tentang keindahan dengan melibatkan banyak unsur, antara lain tentang “ketertarikan jiwa” kita kepada sesuatu, dan itu semua masih terus “memberi rasa” yang terkenang ketika seseorang berpisah dengan objek yang dikunjungi dan disaksikannya (Chapman, et al, 2012). Ada sejenis ruang di mana seseorang “merenungi”nya. Dengan demikian, kesejatian tentang indah tidaknya sesuatu, ia bisa ditentukan dari apa yang kita rasa dan akui menurut pengalaman kita sendiri.

Dalam konteks (bangunan) masjid, keindahan memang sangatlah relatif, terutama bagi sebuah masyarakat yang tingkat pengalaman dan kesadaran estetisnya masih terbatas. Masjid, secara nilai, adalah “tempat beribadah” dengan beragam aspeknya, sehingga bentuk standar (bangunannya) cenderung “saling meniru” satu sama lain. Dalam banyak hal, hampir semua masjid adalah sebuah bangunan tumbuh, ia tidak pernah sekali jadi dan terdisain komplit sejak awal. Perkembangannya ditentukan oleh pengurus, jamaah dan kontribusi finansial dari warga, pemerintah, dll. Keindahan selalu hadir “dalam dirinya” sendiri dan ia pun bisa tumbuh ketika beroleh pujian, penghargaan dan pemuliaan. Tentu bisa timbal balik keduanya: karena ia bagus dan indah maka ia dipuji, atau karena ia dihargai dan dipuji maka tampak indahlah ia.

Meski kita sangat memberi kedudukan tinggi atas artefak Islam di Timur Tengah, tapi kebesaran sejarah Islam Nusantara, dunia Melayu dan Islam di benua lain, tak bisa dipandang sebagai sekadar perbandingan biasa. Itulah sebabnya, arsitek Islam Indonesia, juga di Gorontalo, terutama dalam hubungannya dengan pembangunan masjid-masjid kita, tidaklah harus dan otomatis berkiblat kepada Timur Tengah. Yang kita butuhkan adalah “proporsi” dan “persepsi”, dengan begitu visi kita pun terbentuk secara otentik dan memberi dampak (internal) menyangkut identitas keGorontaloan yang unik di satu sisi (skala regional), tapi juga dalam konteks memperkaya  keIndonesiaan yang Islam(i) dan majemuk di sisi lain (skala nasional). Intinya, jangan kagum berlebihan dan jangan meniru dengan sepihak. Kita butuh nuansa kultural dan resonansi spiritual sendiri yang menampakkan kemandirian daya-cipta kita, tapi sekaligus keikhlasan tertinggi yang kita wujudkan dalam menghambakan diri dan kecintaan kepadaNYA, beserta segala kemampuan (imajinasi, rasa, kreasi, kontemplasi, dst) yang kita punyai. ***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri amingorontalo postgorontalo terkiniMasjid-Masjid Kitapersepsispektrum sosial

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Monday, 19 January 2026
Basri Amin

Mahasiswa Merdeka

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Next Post
Polsek Mootilango di bawah pimpinan Kapolsek serta bantuan dari Satnarkoba Polres Gorontalo, mengamankan lokasi pembuatan cap tikus.

Polsek Mootilango Bongkar Lokasi Pembuatan Miras

Discussion about this post

Rekomendasi

Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Tiga tersangka kasus dugaan PETI Hutino, diserahkan kepada pihak Kejaksaan beserta barang buktinya atau tahap dua oleh pihak penyidik Reskrim Polres Pohuwato.

Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

Monday, 19 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    189 shares
    Share 76 Tweet 47
  • Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.