logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Vina Meritokrasi

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 27 May 2024
in Disway
0
Catatan Dahlan Iskan soal perlunya terobosan di balik makin mahalnya biaya kuliah.-harian.disway.id-harian.disway.id

Catatan Dahlan Iskan soal perlunya terobosan di balik makin mahalnya biaya kuliah.-harian.disway.id-harian.disway.id

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

SAYA juga heran: kenapa ikut-ikutan menulis soal Vina. Kan lebih baik soal kenaikan biaya kuliah.

Kalau alasannya lagi viral kan sama viralnya. Kenaikan biaya kuliah lebih penting dibahas –bagi sebagian orang.

Related Post

Dua Menit

Burger Tempe

Paket Roaming

Isi Dompet

Saya sebenarnya juga ingin menulis soal itu. Sudah komunikasi intensif dengan ahli pendidikan online dari Universitas Petra: Felix Pasila. Yakni pemegang paten sistem Verse.

Sudah diskusi panjang. Tapi belum lengkap. Keburu terbang ke New York. Saya janji untuk bertemu lagi sepulang dari Amerika.

Sebenarnya aneh: bagaimana di zaman seperti ini masih berebut masuk perguruan tinggi konvensional. Apalagi dengan biaya yang naik terus.

Bukanlah untuk pintar sekarang ini bisa belajar sendiri. Hampir tanpa biaya?

Bukankah guru-guru terbaik di dunia kini ada di rumah siapa saja. Juga di rumah Anda. Bahkan di genggaman Anda.

Tentu tetap perlu guru. Lebih tepatnya mentor. Atau teman diskusi. Tapi tidak perlu lagi tiap pagi memenuhi jalan menuju kampus. Biayanya pun lebih murah.

Kenapa harus menghabiskan energi untuk protes. Atau membuat hati sakit. Biarkan universitas menaikkan terus biaya pendidikan mereka. Semau mereka.

Anda cukup memutuskan: tidak perlu kuliah. Seperti yang dilakukan Aisyah waktu sudah diterima di Universitas Riau tapi gak mampu bayar.

Anda sudah tahu Aisyah. Saya justru baru tahu kalau Aisyah viral ketika kembali buka medsos dua hari lalu.

Bagi yang masih ingin bergelar, Anda sudah tahu: banyak cara. Bahkan yang sangat murah. Lalu yang lebih bermutu ada Universitas Terbuka.

Atau lewat cara yang sudah dilaksanakan Felix –tunggu, saya akan menuliskannya.

Saya sudah bertanya pada banyak guru besar: mengapa di zaman serba online ini pendaftar masuk universitas konvensional tidak menurun –bahkan masih naik? Kenapa? Ada apa?

Harus ada jawaban yang bagus. Belum ada.

Semua jawaban tidak memuaskan.

Banyak yang jawabnya masih begitu-begitu saja. Belum layak dikutip di Disway.

Jangan-jangan perusuh seperti Udin Salemo yang punya jawaban terbaik.

Tapi kalau hukum besi ekonomi masih berlaku, sejarah akan berulang. Turkiye lama, pernah memblokade Selat Bosporus. Perdagangan darat timur-barat tersumbat. Turkiye begitu berkuasa. Berjaya. Bisa mengeruk keuntungan dari blokade itu.

Gara-gara itulah Eropa menemukan kapal. Bisa mencapai Asia tanpa lewat Turkiye. Pun ketika kapal harus mutar jauh ke selatan dulu –lewat Tanjung Harapan. Salah satu hasilnya: kita pun dijajah. Lalu terusan Suez dibuka. Turkiye kehilangan peran strategisnya.

Pun OPEC. Karena harga minyak dinaikkan terus energi baru ditemukan. Lalu dicari kelemahan energi minyak. Energi baru akan mengalahkan energi lama.

Banyak kejadian seperti itu. Di banyak bidang.

Tentu saya ingat koran. Juga selalu menaikkan harga. Apalagi harga iklan. Sampai tidak masuk akal. Lalu muncul berita online. Koran adalah rombongan yang paling awal ditinggalkan.

Di balik kesulitan ada udang. Kinilah saatnya para pemikir pendidikan online tersinggung: mengapa belum bisa mengalahkan pendidikan konvensional.

Belanja online –terutama delivery food— sudah hampir mengalahkan toko dan restoran. Pendidikan online masih dianggap belum pendidikan.

Mungkin kampus-kampus memang tidak akan seperti koran. Kelemahan koran adalah perlu bahan baku kertas dan perlu diantar ke rumah pelanggan.

Universitas tidak perlu beli bahan baku. Pun pelanggannya mau datang sendiri ke kampus. Bahwa harus punya gedung dan alat-alatnya, koran juga.

Bahwa harus membayar dosen yang banyak, koran juga harus membayar banyak wartawan. Koran masih harus beli bahan baku kertas –yang harganya 80 persen sendiri terhadap semua pengeluaran.

Di mana-mana biaya pendidikan mahal. Kini sudah ada pilihan yang murah –sepanjang setiap orang punya keinginan maju. Keinginan kadang datang harus dengan dipaksa.

Di Tiongkok pemaksaan itu dari orang tua –pun orang tua yang miskin. Di sana meritokrasi sudah membudaya pun sejak di zaman kerajaan. Meritokrasi tidak hanya membuat birokrasi lebih efisien tapi juga menimbulkan budaya berpendidikan di masyarakatnya.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Dua Menit

Wednesday, 22 July 2026
Burger Tempe

Burger Tempe

Tuesday, 21 July 2026
Paket Roaming

Paket Roaming

Sunday, 19 July 2026
Isi Dompet

Isi Dompet

Sunday, 19 July 2026
Cuci Uang

Cuci Uang

Sunday, 19 July 2026
Adu Cepat

Adu Cepat

Thursday, 16 July 2026
Next Post
Menkes RI Budi Gunadi Sadikin disambut adat mopotilolo, saat tiba di VIP Bandara Djalaludin Gorontalo, Jumat (24/5). (foto : dok / diskominfotik)

Menteri Kesehatan RI Hadiri Rakerkesda di Gorontalo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 22 Juli 2026

Rekomendasi

Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

Wednesday, 22 July 2026
Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Wednesday, 22 July 2026
AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

Wednesday, 22 July 2026
Miras Masih Beredar di Desa

Miras Masih Beredar di Desa

Wednesday, 22 July 2026

Pos Populer

  • Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Pengumuman Libur Khusus Final Pildun di Gorontalo Hoaks

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.