logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Tungku Sigit

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 21 November 2023
in Disway
0
Tungku Sigit
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

TEKNOLOGI pengolah sampah terbaik saat ini, Anda sudah tahu: ciptaan Prof Dr AkhmadZainalAbidin. Ia guru besar ITB. Teknologi itu sudah sukses diterapkan di Dumai. Baru di satu lokasi itu.

Prof Zainal tergolong anti sampah jadi listrik. Itu, katanya, dobel subsidi. Sampahnya disubsidi. Harga jual listriknya juga di subsidi: PLN harus beli listriknya lebih mahal.

Related Post

Tamparan Mojtaba

Fir’aun Baik

Tol Tentara

Ziarah Ziarah

Kini muncul teknologi sederhana ciptaan seorang tamatan madrasah aliyah. Sudah berhasil diterapkan di Desa Taji, Karas, Magetan. Baru di satu desa itu. Tapi yang datang belajar ke sana sudah dari mana-mana. Pun dari Bontang, nun di Kalimantan Timur (lihat Disway kemarin).

Penciptanya: SigitSupriyadi.

Umur: 52 tahun.

Pekerjaan: petani (kini jadi kepala desa).

Pendidikan: diberhentikan dari SMA sampai sembilan kali. Akhirnya Sigit lulus madrasah aliyah negeri Jombang: hanya karena ingin punya ijazah.

Sigit sama sekali tidak ingin bergerak di bidang sampah. Ia hanya dikenal sebagai orang yang banyak akal di desanya.

Tahun lalu Sigit menerima curhat dari kiai pondok Temboro: bagaimana bisa mengatasi sampah pondok besar itu. Soalnya sampah pondok tidak bisa diterima di tempat sampah desa: terlalu banyak.

Rumah Sigit hanya sekitar 500 meter di sebelah barat pondok.

Anda sudah tahu: Temboro adalah ”pusat” jamaah tablig di Indonesia. Puluhan ribu orang datang ke sana. Lokasinya tidak sampai 10 km dari pangkalan udara Iswahyudi, Maospati–ke arah barat laut.

Sigit bukan anggota jamaah tablig. Tapi ia sering ke pondok itu. Sesekali salat Jumat di masjid Temboro. Masjid barunya seperti hanggar pesawat –saking besar dan simpelnya.

Awalnya Sigit hanya membakar sampah pondok itu di lahannya. Beberapa minggu kemudian ia undang penduduk untuk mengambil sampah yang bisa dijual. Sisanya yang dibakar. Penduduk kapok: jijik. Hasilnya pun tidak memadai.

Sigit lantas menggaji mereka. Pondok hanya memberi uang Rp 35.000/truk yang datang. Tidak cukup untuk gaji 15 orang.

Akhirnya Sigit menciptakan mesin pemilah sampah. Juga mesin pencacah sampah. Bikinan sendiri. Itu tidak menarik perhatian. Belum.

Yang menarik adalah: temuannya di bidang cara bakar sampah. Ia menyebutnya sebagai teknologi oksidator. Membakar sampah dengan sampah.

Untuk itu Sigit menciptakan tungku. Belum pernah ada tungku seperti ciptaan Sigit. Ukurannya kecil: 2,4 m x 2,4 m dengan tinggi 3,6 m. Lapisan luar tungku itu terbuat dari plat baja.

Bagian dalamnya bata. Dua lapis. Satu lapis disusun miring, satu lapis lagi disusun telentang.

Di bagian depan tungku diberi lubang segi sempat. Sekitar 40 x 50 cm. Lubang itu untuk memasukkan sampah yang sudah dicacah.

Tungku Sigit ini dua bidang. Atas bawah. Yang bawah tingginya sekitar 50 cm. Yang atas 3,1 meter. Penyekatnya juga dari baja. Baja penyekat ini diberi lubang-lubang. Untuk isap oksigen sekalian menjatuhkan abu dan residu lainnya.

Ruang bakarnya di atas penyekat itu. Sampah masuk di tungku bagian atas itu. Di situ, di bagian agak bawah, dibuatkan semacam knalpot. Nyaris tidak ada asap yang keluar dari knalpot.

”Asapnya telah kami bakar lagi di bagian atas tungku,” ujar Sigit. ”Asap yang masih keluar dari knalpot lebih sedikit dari asap orang merokok,” tambahnya.

Fungsi bata dua lapis adalah: penghasil panas. Bata itu, setelah dipanaskan, jadi bata yang membara. Panasnya bisa sampai 1.300 derajat.

Panas yang dihasilkan bata yang membara itulah yang membakar sampah.

Untuk kali pertama tentu harus pakai bahan bakar. Kayu. Tidak lama.  ”Cukup 15 menit,” katanya. Lalu sampah sudah bisa dimasukkan. Terbakar. Membuat bata lebih panas lagi. Sampah pun terus dimasukkan.

Terbakar lebih cepat lagi. Begitu terus sampai bata sangat panas. Memerah. Membara. Seperti menyala.

Kata ’15 menit’ itu juga kira-kira. Tidak ada penanda digital atau alat pengukur. Tidak harus beli alat penanda. Dari mana bisa tahu sampah sudah bisa dimasukkan? Dari mana tahu batanya sudah panas atau belum?

”Bisa pakai cara alamiah,” katanya. Setelah kayu membakar tungku sekitar 15 menit pasanglah telinga baik-baik. Kalau sudah ada suara letusan kecil ”bleduk, bledug” berarti pembakaran dengan kayu bisa diakhiri.

Dinding bata sudah panas. ”Sampah mulai bisa dimasukkan,” katanya. Suara tadi itu menandakan pecahnya molekul-molekul air.

”Jadi, untuk lapisan-dalam tungku Anda tidak pakai batu tahan api?” tanya saya. Saya ingat semua konstruksi kiln dilapisi batu tahan api.

”Saya tidak mau menggunakan batu tahan api,” kata Sigit.

”Kenapa?”

”Batu tahan api itu justru menyerap panas,” jawab Sigit. ”Saya pakai bata karena ingin bata itu memancarkan panas untuk membakar sampah,” tambahnya.

Rupanya Sigit menggunakan prinsip bakar bata di desa-desa. Lalu disempurnakan. Saya mudah memahami prinsip kerja tungku Sigit itu karena saat remaja sering ikut bakar bata.

Rupanya itulah yang membuat Sigit sering dikeluarkan dari SMA. Sampai pindah SMA sembilan kali. Ia terlalu sering mengoreksi gurunya. Terutama guru matematika dan fisika. Lalu Sigit dianggap anak nakal.

”Saya juga pernah dikeluarkan dari SMA Panca Bhakti Magetan,” katanya. Rupanya Sigit tahu SMA tersebut berada di bawah Pesantren SabililMuttaqin Magetan –di lingkungan keluarga besar kami. Saya pun malu tersipu.

”Apakah Anda juga sering mengoreksi guru agama?” tanya saya.

”Tidak,” jawabnya. Ternyata hanya di pelajaran agama yang Sigit tidak pernah koreksi. ”Ayah saya kiai,” katanya.

Dengan prinsip tungku seperti itu maka sampah yang tidak bisa didaur ulang tuntas terbakar di situ. Nyaris tanpa biaya operasional. Investasinya pun sangat murah.

Biaya membangun tungku itu hanya sekitar Rp 250 juta. Sebelum di-mark-up. Kalau pun satu kelurahan perlu dua tungku itu baru Rp 500 juta.

Bagaimana dengan sampah basah? Bekas pampers atau kain pel?

”Justru bagus,” kata Sigit. ”Kadar air di sampah itu menambah besarnya api. Molekul-molekul air yang pecah meningkatkan nyala api,” katanya.

Sigit mengambil contoh kebakaran. Bila disiram dengan air yang kurang, justru membuat api lebih besar. Kecuali airnya bercampur busa yang banyak.

Rasanya Sigit berhasil menemukan cara mengatasi sampah Indonesia. Tidak perlu lokasi besar.

Mungkin Sigit akan dibenci orang banyak.  Caranya menyelesaikan sampah itu merugikan para pemain proyek besar di bidang sampah.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayharian disway

Related Posts

Mojtaba Khamenei Diumumkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru di Tengah Ketegangan Perang---dok. iMArabic

Tamparan Mojtaba

Thursday, 12 March 2026
--

Fir’aun Baik

Wednesday, 11 March 2026
Jalan tol di Mesir terdiri dari lima lajur dan sangat lebar. Selain itu tarifnya supermurah.-Harian Disway-

Tol Tentara

Tuesday, 10 March 2026
--

Ziarah Ziarah

Monday, 9 March 2026
Momen ribuan warga Iran padati jalanan saat prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.-Reuters-

Aliran Boneka

Monday, 9 March 2026
--

Serangan Fajar

Friday, 6 March 2026
Next Post
Sejumlah badut yang diamankan ke rumah singgah Kota Gorontalo akhir Oktober 2023 lalu kembali beroperasi di sejumlah persimpangan jalan di Kota Gorontalo. Bermodalkan alat music dan celengan, para badut ini ingin menarik simpati warga dan berharap diberikan rupiah para pengendara, Senin (20/11/23). (Foto: Natha/Gorontalo Post).

Badut-Gepeng Kembali Berkeliaran

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Sampah Kita dan Dosa-Dosa Kita

Monday, 9 March 2026
Kapolsek Popayato, IPDA Muhammad Kafin Adlan S.Tr.K. bersama anggota dan pengurus Bhayangkari, membagikan takjil kepada masyarakat dan juga pengguna jalan.

Kapolsek Popayato Bagikan Takjil ke Pengguna Jalan

Friday, 13 March 2026
Adhan Dambea

Insiden Pasar Sentral, Adhan Geram Merasa Hendak Dijebak

Monday, 9 March 2026
Suasana Pasar Senggol Kota Gorontalo, Rabu (11/3) malam, yang nampak sepi pembeli sejak beroperasi beberapa hari lalu. (foto: Aviva Dinanti Lambalano / gorontalo post)

Jelang Idulfitri Pasar Senggol Sepi

Thursday, 12 March 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Sampah Kita dan Dosa-Dosa Kita

    226 shares
    Share 90 Tweet 57
  • Insiden Pasar Sentral, Adhan Geram Merasa Hendak Dijebak

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    100 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Terima Audiensi Tokyo Gas dan Hanwa, Kementerian Kehutanan Tegaskan Komitmen Pengelolaan Hutan Lestari

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
  • HUT Pramuka ke 62, Ketua Kwarda Gorontalo Raih Penghargaan Karya Bakti dari Kwarnas

    71 shares
    Share 28 Tweet 18
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.