logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Kampanye Perubahan 

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 9 October 2023
in Persepsi
0
Reposisi Gorontalo  (Bonus Demografi dan Basis Kepemimpinan)

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

oleh :
Basri Amin
Parner di Voice-of-HaleHepu

Kekuatan-kekuatan perubahan di masyarakat kita masih condong berpusat kepada “orang”, belum kepada “organ” yang menyatu dengan sistem pengetahuan nyata dan orientasi kepemimpinan yang obsesif memenangkan masa depan.

Prinsip “hari esok harus lebih baik” masih harus ditakar menurut kacamata terbatas/berjangka pendek (jaringan kelompok, jejaring keluarga, primordialisme, afiliasi organisasi, egoisme profesi, klik pertemanan, dst).

Hari esok akan lebih baik untuk “siapa?”. Semua orang lalu “mengantisipasi” nasibnya! Padahal, “kelak, di atas timbangan kematian, kita akan berstatus sama!. Ia mengubah hidup (kita) menjadi nasib,” demikian tandas Malraux, negarawan Perancis (1901-1976).

Ketergantungan kepada orang, elite atau tokoh populer tak bisa lagi jadi pegangan. Arah bersama dan produktivitas tak bisa “dipikul” oleh sebuah elitisme dan populisme publik. “Semua orang dan kelompok adalah penting,” begitulah kaidahnya. Sekalipun kapasitas berbeda-beda tetapi peran yang beroperasi di sektor-sektor produktif haruslah beroleh akses, informasi, dan perlakuan yang wajar.

Related Post

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Itu sebabnya, sektor negara melalui aparatusnya harus didorong-penuh dan lebih keras agar lebih peka terhadap “sumberdaya” yang aktif di dalam masyarakat. Perangai lama yang cenderung dominan –-serba pemerintah—dan keenakan memelihara kultur “bantuan” haruslah diolah sedemikian rupa melalui kerangka kerja baru agar kepemimpinan ekonomi di tingkat lokal tumbuh lebih besar.

Sistem regional yang memediasi produktivitas, dan terutama daya tahan terhadap goncangan, haruslah ditemukan dan dipercakapkan lebih luas. Di sisi ini memang ada soal serius: kita mudah bosan bernalar. Hampir di semua pertemuan dan acara, “waktu terbatas” dan dipotong-potong sedemikian rupa ketika hendak menyelami fakta-fakta yang sebenarnya dan prinsip-prinsip dasar perbaikan yang menyentuh perangai (kolektif) kita.

Meski semua sependapat bahwa tidak semua urusan harus dibicarakan, tetapi pembicaraan terbuka sangat kita butuhkan ketika hendak memastikan sesuatu. Begitu banyak “pertemuan yang tak berbuah titik temu, bukan?”.

Sistem yang menopang kapasitas (organisasi) pemerintahan dan pendekatan kewargaan yang tumbuh sehat di level masyarakat merupakan prakondisi jangka panjang kalau kita ingin negeri ini sehat (demokrasi) pembangunannya. Tanpa itu, yang kita gerakkan adalah tipu-muslihat yang dipoles-poles dengan publikasi dan sosialisasi.

Tanpa komitmen total, yang akan kita capai adalah kepura-puraan periodik di hadapan “kesadaran palsu” masyarakat. Tanpa sandaran (moral) yang kokoh, yang akan kita capai adalah pembesaran “kawanan pecundang” yang hanya tumbuh-terpelihara karena sogokan, konsesi kuasa, dan pesona retorika di ruang publik.

Sistem kerja yang benar tidak cukup ditopang oleh tumpukan regulasi. Ia mensyaratkan kepemimpinan otentik yang tumbuh dari pengalaman yang menghayati dan dari basis pengetahuan yang memihak. Sebuah kepemimpinan yang “terus-belajar” dan yang menjauh dari kecongkakan pidato, posisi, dan propaganda.

Kepemimpinan yang bersandar kepada ke-KITA-an, bukan dari ke-AKU-an yang sepihak.

Mentalitas kepemimpinan kita, tampaknya masih harus banyak berubah. Kita bisa menyaksikan setiap saat di Republik ini, bagaimana perangai “pejabat-penguasa” tampak (masih) dominan. Bahasa kekuasaan memborgol kebersamaan dan produktivitas. Melalui jalan-jalan kekuasaan, yang tercipta adalah kebuntuan sikap-sikap pengayoman dan keterbukaan untuk “tumbuh bersama”.

Tak heran kalau yang banyak dikerjakan dan yang tercium aromanya adalah lingkaran-lingkaran kepentingan jangka pendek yang terus-menerus terlindungi dan selalu terbela di balik tembok-tembok posisi dan fasilitas.

Dewasa ini, yang lebih condong tampil ke depan adalah “publikasi” yang kosong keberlanjutan. Kita miskin “persuasi” yang memintakan partisipasi. Kita (masih) miskin “pejabat teladan” yang berjiwa pendidik dan pekerja-pejuang; yang bahasanya senantiasa aktif-menggema karena padat isi, afeksi, dan bukti-bukti.

Kini masih terlihat bagaimana “generasi lama” masih menguasai banyak posisi. Mereka bahkan menjadi petarung/pemain sepanjang hayat, dari periode satu ke periode berikutnya: generasi terus-menerus!.

Tradisi regenerasi yang memihak kepada loncatan-loncatan kemajuan –yang dikerjakan generasi baru– terkesan masih ragu-ragu diwujudkan. Pilihan menjadi “pensiun”an yang tetap produktif –-tanpa posisi di sektor formal– belum banyak dinikmati dan diminati. Pokoknya, posisi harus diburu dan diraih! Adakah yang salah? Jawaban kita bisa terbelah.

Kini kita tak pungkiri bahwa di beberapa tempat, kehadiran generasi baru sudah terterima sebagai sebuah “kepercayaan” –kalau bukan sejenis percobaan!. Sepuluh tahun terakhir ini, terutama di tingkat nasional dan lokal, posisi-posisi kunci sudah memantulkan wajah-wajah “generasi milenial”, walau masih saja berulang kepiluan karena kelemahan “karakter” mereka dalam memerankan diri dan membaca goncangan-goncangan negerinya.

Kita jangan lupa, cukup banyak di antara ‘generasi baru’ itu yang jiwa feodal-nya masih laten. Mereka begitu instan di jabatan dan begitu bernafsu tampil dengan jargon profesional dan legitimasi intelektual yang artifisial: “ngecap di permukaan!”

Mental sebagai oportunis dan avonturir cenderung menjadi pakaian mereka. “Siapa saja dijilat, yang penting beroleh akses. Kawan dijegal yang penting dapat fasilitas…main dua kaki di tiga panggung kepentingan yang berbeda, dst”.

Tegasnya, Indonesia kita masih terkendala dalam perkara karakter dan mentalitas. Itu sudah terbaca sejak akhir 1950an. Tepat ketika Presiden Soekarno merumuskan Revolusi Mental tahun 1957, antara lain beliau menyatakan bahwa (ini) adalah “satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Maksudnya tidak kecil...”.

Hasilnya bagaimana sekarang? Apa kabar Revolusi Mental?

Negeri ini harus lebih utuh berubah. Tak perlu debat pakai data resmi, kewenangan, dan tabel-tabel evaluasi segala macam. Anda amati dan rasakan yang jujur saja dalam perkara sehari-hari.

Di ruang-ruang publik dan di tempat-tempat kerja Anda, coba perhatikan!

Mental saling menjegal, saling memfitnah dan menebalkan kezaliman, masih eksis dan eksplisit, bukan?

Orang-orang yang tumpul daya kerjanya, rendah komitmen dan prestasinya, masih banyak yang bercokol dan keenakan posisinya.

Negara digerogoti! Kita belum punya sistem audit keorganisasian dan kepemimpinan unggul yang handal memastikan “fakta yang sebenarnya”.

Yang membesar adalah fantasi dan manipulasi.

Sistem yang menempatkan quality control dan keberlanjutan misi-misi luhur organisasi (publik) seringkali rontok di atas sebaran gosip, tafsir sepihak dan kuasa “siluman” yang dikelola oleh jaringan keluarga, kuasa pertemanan, joki-joki peran, dan obsesi kapital.

Kepada Anda semua, mari sama-sama kita cermati di kiri dan kanan kita masing-masing. Institusi (kita) sangat rentan diperalat dan dimanfaatkan oleh mereka yang tak pernah sepenuhnya terbukti “ucapan dan perbuatan”nya bulat-sepadan. ***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu;
Pos-el: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminKampanye Perubahanpersepsispektrum sosial

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Friday, 12 June 2026
Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Next Post
BUTUH BANTUAN :  Putriana Pateda gendong ibunya, saat ditemui di rumah mereka di Desa Permata, Kecamatan Bone, Bone Bolango, baru-baru ini. (foto : dok / gorontalo post)

Kemensos Turun Tangan, Forum Puspa : Puput Butuh Penanganan Medis

Discussion about this post

Rekomendasi

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.