logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Neom Uceng

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 14 March 2023
in Disway
0
Neom Uceng
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

“Lain kali harus membawa mobil sendiri,” ujar seorang staf Neom menasihati saya.

Saya iyakan saja. Untuk apa berbaku kata.

Cukuplah pelajaran mahal ini untuk diri saya sendiri. Saya bukan tidak lihat Google. Justru saya berpatokan padanya. Tapi Sharma, yang tertulis sebagai kota, ternyata bukan kota. Hanya beberapa hotel tempat menyepi di pantai. Jalan dari Tabuk ke Sharma diperlihatkan dengan garis kuning tipis. Seperti jalan kampung. Nyatanya sudah jalan baru yang lebar, dua jalur dan mulus. Mengalahkan jalan besar yang di map digambarkan dengan garis tebal.

Ya sudah. Yang penting jangan sampai Anda buru-buru ke Neom. Ini proyek terbesar di jagat raya yang baru dimulai. Tiga tahun lagi pun belum banyak yang bisa dilihat. “Mungkin tahun 2050 baru benar-benar jadi,” katanya.

Related Post

Hidup QRIS

Yossi Cohen

Tulung Agung

Bertahan Menyerang

Saya akan ke sana lagi di tahun itu. Atau Anda wakili saya. Pun saat itu nanti Anda harus membawa kendaraan sendiri. Tidak akan ada angkutan umum masal di sana. Tentu ada persewaan mobil. Seperti di Amerika atau Eropa.

Sekarang pun di Saudi Arabia sudah ada persewaan mobil seperti itu. Mereka buka cabang di Saudi: Avis, Enterprise, Alamo, dan seterusnya. Saya lihat ada cabang mereka pun di kota Tabuk. Saya juga sempat terpikir ambil sewaan itu. Tapi saya lebih ingin berinteraksi dengan layanan umum.

Dan lagi saya harus mengembalikan mobil itu ke kantor mereka. Berarti saya harus balik ke Tabuk. Saya tidak ingin balik ke tempat yang saya sudah tahu. Kecuali tempat itu sangat menarik. Saya lebih ingin menyusuri pantai Laut Merah. Dari ujung utara ke ujung Jeddah. Memang saya bisa mengembalikan mobil sewaan itu di kantornya yang di Jeddah. Tapi itu berarti saya harus mengemudi 14 jam.

Saya tidak mau terikat seperti itu. Saya ingin bebas.

Dan di Neom, saya sama sekali tidak bebas. Tidak bisa ke mana-mana.

Luas kota Neom ini akan sulit Anda bayangkan: lebih luas dari seluruh Singapura. Tapi yang akan dibangun hanya 5 persennya saja. Selebihnya dibiarkan seperti aslinya. Lima persen itu pun tidak di satu lokasi. Lima persen itu diecer di lima titik lokasi. Berjauhan. Masing-masing disesuaikan dengan temanya.

Di sana akan ada Neom 1, Neom 2, Neom 3, Neom 4, Neom 5.

Misalnya di salah satu Neom akan ada danau buatan yang seluas Danau Toba. Berbagai olahraga air akan ada di situ. Juga hotel-hotel jenis lake side. Danau itu dibuat di sela-sela gunung batu di ketinggian 800 meter. Berarti juga mirip posisi danau Toba.

Lalu akan ada pegunungan yang dilapisi salju di atasnya. Hamparan salju yang luas. Salju buatan. Tebal. Bisa untuk kejuaraan ski seperti di pegunungan Alpen atau Nagano.

Akan ada juga kota vertikal: gunung batu yang tinggi dibelah. Di tebing terjalnya dibangun kota. Jangan sampai Anda usul nama kota itu nanti Tebing Tinggi.

Semua lokasi itu berada di sela-sela gunung batu. Batu tua. Batu keras. Mungkin kawasan ini merupakan kawasan pegunungan batu tua terluas. Dan alam seperti itu akan dipertahankan keasliannya.

Maka kawasan wisata Neom akan menjadi satu rangkaian dengan kawasan wisata di Jordania. Dari Neom hanya perlu 30 menit ke lokasi pendaratan Nabi Musa. Yakni setelah Musa membelah laut Merah dengan tongkatnya.

Lokasi ini sekarang belum ada apa-apanya. Pantai biasa. Pantai yang tidak indah. Tentu kelak bisa dibangun museum Nabi Musa. Atau diorama pembelahan laut. Lengkap dengan animasi peristiwa tongkat sakti itu.

Kini museum serupa, dalam wujudnya yang sangat sederhana, ada di Amerika. Di Tennessee. Tidak jauh di selatan ”ibu kota” musik Country,  Nashville. Pemiliknya adalah orang yang terobsesi akan peristiwa itu. Ia seorang pendeta. Ten Commandments sangat diajarkannya di gereja.

Masih banyak museum arkeologi di sekitar peristiwa itu. Di mana-mana. Tapi ilmuwan belum sepakat di mana lokasi pembelahan laut itu sebenarnya. Bahkan ada ilmuwan yang berpendapat peristiwa di kitab suci itu hanya kiasan. Belum ada satu pun penemuan arkeologi terkait dengan pembelahan laut itu.

Tapi objek wisata bukanlah catatan sejarah. Putra Mahkota Mohamad bin Salman pasti bisa membangunnya lebih spektakuler. Pasti laris. Kebetulan versi Kristen dan versi Islamnya praktis sama.

Dari situ, dua jam lagi ke utara, sudah sampai Petra (Jabal al Midbah). Terus ke utara lagi sampai Jerusalem.

Neom akan disebut juga objek wisata natural yang terbesar di jagat raya. Tapi jangan ke sana sekarang. Kecuali Anda ingin berdagang debu bongkaran gunung batu.

Saya pun tidak sampai harus bermalam di gunung batu Neom. Pemuda Pakistan itu akhirnya menemukan satu mobil yang bisa membawa saya pergi. Asal pukul 19.00 ia sudah bisa tiba kembali di Neom.

Pemilik mobil itu orang Karala, India. Ia tinggal di Tabuk. Sudah 15 tahun di Saudi Arabia. Istri dan anaknya ia tinggal di Karala. “Pendidikan anak di Karala lebih bermutu,” katanya. “Setahun dua kali saya pulang ke Karala,” tambahnya.

Sore itu si Karala lagi bersih-bersih mobil di dekat masjid temporer. Mobil itu kail baginya. Pekerjaannya: antar jemput staf Neom. Tiga orang kulit putih. Pagi berangkat dari Tabuk ke Neom. Petang dari Neom ke Tabuk.

Si Karala melihat jam. Kepalanya bergoyang-goyang. “Waktunya tinggal dua jam,” gerak bibir di bawah kumis tebal itu. Mengantar saya ke Tabuk tidak mungkin. Terlalu jauh. Kalau telat kembali ke Neom kontrak antar-jemputnya bisa diputus. Bahkan kena denda.

“Ke Duba saja mau?” tanyanya pada saya.

“Ke mana saja. Asal bisa keluar dari sini,” jawab saya.

Perjalanan ke Duba satu jam. Berarti ia bisa tiba kembali di Neom dalam dua jam. Pas dengan jadwal mengantar pulang tiga orang kulit putih itu.

“Ke Duba saja,” katanya.

“Berapa?” tanya saya.

“200 riyal,” jawabnya.

“300 riyal,” kata saya menawar. Kali ini tidak untuk lebih hemat.

“Sekarang!” jawabnya dengan senyum khas India. Kepalanya agak  sedikit digelengkan.

Saya pun pamit ke pemuda Pakistan itu. Saya buka dompet di depannya. Ia menolak keras.

Si Karala pun memacu mobil ke arah selatan. Menyusuri pantai Laut Merah. Sama sekali tidak indah. Hanya proyek. Proyek. Proyek. Debu. Debu. Debu.

Deru dan debu.

Saya berdoa agar perjalanan ini selamat. Terutama agar si Karala tidak diputus kontrak kerjanya. Agar ia dapat uceng tanpa kehilangan deleg-nya. (*)

Tags: catatandahlanDahlanIskanDiswaygorontalogorontalopostgorontaloupdateNeom Uceng

Related Posts

Ilustrasi penggunaan QRIS di Tiongkok yang banyak membantu WNI.-Dibuat dengan bantuan AI-

Hidup QRIS

Monday, 20 April 2026
Salah seorang jurnalis asing mengabadikan gambar sebuah kerusakan akibat serangan udara AS yang menyasar sebuah perkampungan di wilayah Fardis, Barat kota Tehran, Iran.-Vahid Salemi-Association Press

Yossi Cohen

Friday, 17 April 2026
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu

Tulung Agung

Thursday, 16 April 2026
--

Bertahan Menyerang

Wednesday, 15 April 2026

Cari Muka

Tuesday, 14 April 2026
Jubir Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menyatakan perundingan Islamabad gagal, tapi jalur diplomatik tetap terbuka -Tasnim News Agency-

Jalan Baru

Monday, 13 April 2026
Next Post
Apes, Begal Hadang Bus Ditumpangi Anggota TNI

Apes, Begal Hadang Bus Ditumpangi Anggota TNI

Discussion about this post

Rekomendasi

Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Pendataan kuburan oleh Lurah Tapa Wirna S Pakaya yang disaksikan langsung oleh para ahli waris atau keluarga dari yang meninggal dunia. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Ahli Waris Protes Pekuburan Keluarga di Terminal 42 Dipindah ke TPU

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    175 shares
    Share 70 Tweet 44
  • Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    124 shares
    Share 50 Tweet 31
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    94 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Batas-Batas Pengobatan

    71 shares
    Share 28 Tweet 18
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.