logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Khusnul Nusakambangan

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 2 November 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh

Dahlan Iskan

MUNGKIN baru Khusnul Chotimah korban parah bom teror menemui para terorisnya: Amrozi, Muklas, Ali Imron. Khusnul berangkat ke Nusakambangan. Ke Lamongan. Ke Jakarta.

Dari Sidoarjo Khusnul ke Cilacap. Naik sepeda motor. Bonek asli. Itu November 2008. Enam tahun setelah bom Bali. Lalu menyeberang laut ke pulau penjara itu.

“Ongkos penyeberangan, waktu itu, baru Rp 10.000,” ujar Khusnul.

Secara fisik, Khusnul sudah kuat. Luka bakar 60 persen akibat bom Bali sudah tinggal bekasnya.

Related Post

Ya Tidak

Jumat Keramat

Iris Istri

PLN Transisi

Lebih kuat lagi tekadnyi untuk ”balas dendam” kepada para teroris. Operasi berkali-kali atas wajah, badan, dan kakinyi relatif berhasil. Skar bekas operasi itu kian samar. Tapi sumber penghidupannyi yang masih belum jelas.

Saat ke Nusakambangan itu mereka berbekal uang Rp 150.000: untuk bensin, makan, dan penyeberangan. Kalau malam mereka tidur di masjid.

Khusnul sempat kecewa. Tiba di penjara Nusakambangan Khusnul ditolak petugas. Napi hukuman mati tidak boleh ditemui siapa pun. Khusnul lantas menceritakan susah payahnyi perjalanan naik sepeda motor ke Nusakambangan. Dia juga menceritakan maksudnyi untuk hanya bisa melihat Muklas dan Amrozi.

Akhirnya diizinkan. Sendirian. Suami Khusnul diminta menunggu di luar. Muklas pun didatangkan ke ruang kunjungan. Dipisahkan dengan jeruji baja. Saat itulah Khusnul menumpahkan kejengkelannyi. Juga menceritakan penderitaannyi. Termasuk kesulitan ekonominyi.

Ternyata reaksi Muklas di luar dugaan Khusnul. “Ia justru menyalah-nyalahkan saya,” ujar Khusnul.

“Apa yang ia ucapkan,” tanya saya.

“Saya justru disalahkan kenapa malam itu berada di tempat orang kafir,” ujar Khusnul. “Muklas juga memaki-maki saya mengapa saya tidak pakai jilbab. Justru saya disuruh bertaubat,” tambahnyi.

“Bagaimana dengan sikap Amrozi?” tanya saya.

“Sama saja. Biar pun sejak TK, SD, SMP, sampai SMA saya ini di sekolah Muhammadiyah, tetap saja saya dikafirkan,” kata Khusnul.

Khusnul pun menceritakan pertemuan dengan teroris itu kepada suami. Sang suami emosi. Ia mengajak Khusnul ke Lamongan. Ia berniat membunuh siapa pun keluarga Amrozi yang bisa ditemui di Paciran, Lamongan.

Maka di lain kesempatan sang suami mengajak Khusnul berangkat ke Lamongan. Khusnul setuju. Khusnul mendukung yang direncanakan suami: membunuh siapa pun keluarga Amrozi. “Biar merasakan penderitaan itu seperti apa,” ujarnya.

“Akan dibunuh dengan cara apa?” tanya saya.

“Dengan bensin. Kami akan membeli bensin. Disiramkan ke rumah salah satu keluarga. Kami bakar,” jawab Khusnul.

Mereka pun naik sepeda motor ke Lamongan. Tiba di Gresik mereka berhenti makan. Saat itulah Khusnul merasakan ada panggilan nurani: kalau suaminyi membunuh pasti keduanya akan masuk penjara. “Saya berpikir kasihan anak-anak saya. Siapa yang memelihara,” ujar Khusnul. Apalagi dia tahu sang suami sangat sayang pada putra keduanya.

Suara hati itu dia sampaikan ke suami. Sang suami bisa menerima. Terutama setelah ingat anak nomor dua mereka.

Waktu itu sang anak kedua sudah kuliah di Untag Surabaya. Ambil jurusan sastra Inggris. Tapi harus berhenti kuliah. Tidak ada biaya untuk melanjutkan. Drop out.

Anak itu mencoba mencari pekerjaan. Melamar ke mana-mana. Tidak ada panggilan wawancara.

Suatu hari sang anak minta kepada ibunya: tolong kenalkan dengan jaringan teroris. “Untuk apa?” tanya sang ibu. “Saya mau ikut mereka. Jadi teroris lebih enak,” ujar sang anak.

Rupanya sang anak mendengar teroris itu, kalau ditangkap, mendapat santunan yang baik. Asal mau bertobat.

Sang ibu tentu miris mendengar permintaan sang anak. Dia sendiri  korban teroris. Dan anaknyi ingin jadi teroris.

Lebih menderita lagi sang ayah. Belum lama ia mau membunuh keluarga teroris. Kini anak kesayangannya justru ingin jadi teroris.

Khusnul mendengar ada teroris yang insyaf. Karena itu ia tidak dihukum mati. Ali Imron. Ia dihukum seumur hidup.

Khusnul bertekad menemui Ali Imron. Ia lagi ditahan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Khusnul ingin anaknya bertemu Ali Imron. Agar diberi nasihat. Agar jangan jadi teroris.

Maka suami-istri ini ke Surabaya dulu. Sang anak diajak. Mereka ke Pasar Keputran. Dari pasar itu selalu ada truk ke Jakarta. Membawa sayur dan bahan makanan.

Khusnul, suami dan anak kedua pun cari nunutan truk ke Jakarta. Sambil jaga barang. Khusnul masih tetap tomboi. Kini dia sudah punya anak ketiga. Masih bayi. Itulah anak yang lahir setelah jadi korban bom Bali. Juga laki-laki.

Kepada Ali Imron, Khusnul bercerita banyak tentang penderitaannyi, nasib anaknyi, dan segala macam kesulitan setelah bom Bali. Ali mau memberi nasihat yang diinginkan. Mereka pun pamitan.

Saat pamit itulah Ali Imron memberi sangu Khusnul. Khusnul kaget. Nilainya Rp 1,5 juta.

“Kok Ali Imron banyak uang ya?” tanya saya.

“Saya juga heran, di penjara kok punya banyak uang,” ujar Khusnul.

Mereka pun pulang ke Surabaya. Tidak naik truk lagi. Mereka punya uang untuk naik kereta.

Uang habis. Juga tidak cukup untuk membayar uang kuliah Sang anak. Pekerjaan juga tidak kunjung didapat. Sang anak sudah hampir dua tahun tidak bisa kuliah. Sang ayah belum menemukan sumber penghasilan yang bisa untuk menyekolahkan anaknya.

Suatu sore rumah kontrakan Khusnul di Sidoarjo digerebek polisi. Sang suami tidak di rumah. Khusnul tidak tahu ke mana suami pergi. Yang jelas, tadi masih salat  Jumat. Pulang dari masjid ia pamit pergi.

Rumah Khusnul digeledah. Di lemari ditemukan uang Rp 15 juta. “Uang apa ini?” tanya polisi seperti ditirukan Khusnul pada saya. “Itu uang suami. Baru kemarin didapat. Itu untuk bayar uang kuliah anak kedua kami,” jawab Khusnul.

Penggeledahan diteruskan ke bagian bawah lemari. Ditemukanlah serbuk putih. Beberapa kilogram. Polisi menyitanya.

Bagaimana dengan uang Rp 15 juta itu?

“Kalau uang itu disita, anak saya tidak bisa kuliah,” ujar Khusnul pada polisi. Uang itu pun dikembalikan ke Khusnul. Pesan polisi: agar dipakai bayar kuliah anaknyi.

Khusnul tahu suaminyi tersangkut perkara narkoba. Sang suami sudah bercerita dua hari sebelumnya. Yakni ketika mendapat uang Rp 15 juta itu. Itulah untuk pertama kalinya sang suami pulang membawa uang banyak. Harapannya: anak kesayangannya bisa kuliah lagi.

Malam harinya Pak RT datang ke rumah Khusnul. Pak RT memberitahukan berita duka: Sang suami tewas ditembak polisi. (*)

Tags: DahlanIskanDisway

Related Posts

Ya Tidak

Ya Tidak

Thursday, 22 October 2026
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Monday, 19 October 2026
Iris Istri

Iris Istri

Saturday, 17 October 2026
PLN Transisi

PLN Transisi

Saturday, 17 October 2026
Camino Nakasendo

Camino Nakasendo

Friday, 16 October 2026
Hati Ngadirejo

Hati Ngadirejo

Wednesday, 14 October 2026
Next Post
Bawa Narkoba, Seorang IRT Ditangkap

Bawa Narkoba, Seorang IRT Ditangkap

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

Thursday, 29 October 2026
PETI Makin Merajalela, Kerusakan Lingkungan di Saripi Kian Parah

PETI Makin Merajalela, Kerusakan Lingkungan di Saripi Kian Parah

Thursday, 29 October 2026
Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Kampus UNG

Senat UNG Dituding Illegal

Tuesday, 27 August 2024

Pos Populer

  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

    87 shares
    Share 35 Tweet 22
  • Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

    78 shares
    Share 31 Tweet 20
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.