logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Generasi (Penerus) Gorontalo

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 17 October 2022
in Persepsi
0
Generasi (Terbaik) Gorontalo

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Mahasiswa Merdeka

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Oleh

Basri Amin

Penyiapan dan pembentukan pemimpin masa depan Indonesia menuju 2045 seharusnya dimulai “sejak dini”. Secara formal, intervensi perubahan di tingkat Sekolah Dasar (SD) cenderung masih terabaikan, padahal di level inilah habituasi pendidikan dan pembentukan karakter pemimpin menjadi ruang strategis yang menantang dan memantulkan masa depan.

Apa yang terjadi dengan anak-anak Indonesia di Sekolah Dasar adalah gambaran tentang apa yang akan tampak 20-30 tahun ke depan. Agenda inilah yang sewajarnya digerakkan di semua titik geografis kita, terutama di wilayah pinggiran yang sejauh ini cenderung tertimpa dengan banyak stigma, pembatasan aktualisasi, keterbatasan sumberdaya, dan penyempitan ruang inovasi.

Yang jelas, “ketidakpastian dunia” akan terus berlanjut dan membutuhkan kepercayaan diri menentukan “skala pengukuran” yang tepat (Moore & Bazerman, 2022). Bagi lembaga pendidikan, tantangan seriusnya adalah, sebagaimana secara berulang ditandaskan oleh pemikir pendidikan ternama, Neil Postman (2019), bahwa sekolah haruslah “menciptakan pandangan dunia” hal mana hanya bisa dikerjakan oleh Guru yang prospektif .

Bagaimana di Gorontalo? Kesenjangan aspirasi dan aksi nyata cukup serius keberadaannya di daerah ini mengingat besarnya jumlah Guru dan Sekolah Dasar (SD). Dengan penduduk tidak kurang 1,17 juta orang (BPS, 2020), Provinsi Gorontalo memiliki 896 sekolah negeri dan 27 sekolah swasta. Jumlah guru SD mencapai 8.641. Di sekolah negeri jumlahnya 8.395 dan di sekolah swasta 246 guru.

Pada periode 2021/2022, jumlah murid SD mencapai 112.491 orang. Di sekolah negeri 109.004 dan di sekolah swasta 3.487 murid (BPS Gorontalo, 2020-2021). Dari sini kita bisa melakukan proyeksi bahwa pemimpin masa depan di tahun 2045, setidaknya di Gorontalo, sudah tergambarkan wajahnya melalui anak-anak SD kita. Kelak di tahun 2045, mereka adalah “generasi emas” Indonesia dengan kisaran usia produktifnya 20-33 tahun.

Lalu, apakah mereka benar-benar akan mencapai derajat produktif, berdaya saing, dan berperan sebagai pemimpin di berbagai sektor kehidupan? Sangat tergantung kepada basis pengetahuan, proses pengembangan sumberdaya, kebijakan, kepemimpinan pendidikan dan ekosistem pendukungnya yang dikerjakan progresif di sepanjang periode 2022-2045. Sebenarnya, daerah ini memiliki memori kolektif yang menguntungkan di bidang pendidikan, ekonomi dan teknologi karena Gorontalo terbukti berhasil melahirkan sejumlah pemimpin nasional dan global di bidangnya sepanjang abad ke-20 (Amin, 2022).

Gorontalo adalah daerah yang mengalami beberapa masalah krusial dalam pembangunannya sepuluh tahun terakhir ini. Daerah ini mengalami tingkat kemiskinan yang cukup akut karena selalu tercatat sebagai “enam besar provinsi termiskin di Indonesia”. Dalam pemikiran kami, ironi tersebut disebabkan oleh kebijakan lokal pendidikan dan pemodelan pembangunan regional yang berbasis kepada pengetahuan kewilayahan, penguatan “komoditas unggulan” dan etos sosial ekonomi Sumber Daya Manusia (SDM) Gorontalo belum sepenuhnya digerakkan ke arah yang lebih progresif.

Daerah ini mempunyai 71,26% penduduk yang menempati kelompok “usia produktif” (usia 15-64 tahun). Sejak 2010, usia produktif terus menampakkan pembesarannya di Gorontalo, bermula dari 64,39%. Sementara klaster usia lainnya –yang cenderung tergantung kepada usia produktif tersebut— ternyata mempunyai tingkat ketergantungan (dependency ratio) rendah. Dalam bahasa sederhana, usia produktif (penduduk) Gorontalo “tidak terbebani” dengan tanggungan besar. Mereka, dalam pengertian yang wajar, mestinya lebih fokus bekerja dan menghasilkan produktivitas yang berdampak jangka panjang untuk mutu hidupnya dan memberi “rembesan” kemakmuran kepada anggota keluarga lainnya.

Masalahnya adalah soal “daya saing” SDM Gorontalo yang masih menempati urutan kedua terbawah (posisi ke-5) di Sulawesi. Ukurannya terlihat pada Indeks Daya Saing Tenaga Kerja Gorontalo (51,74). Bandingkan dengan posisi Sulut (55,7), Sulsel (54,53), Sulteng (54,15) dan Sultra (53,52). Di bawah Gorontalo hanya Sulawesi Barat (51,66).

Dari sisi postur generasi, Gen-Milenial (25,46%) dan Gen-Z (30,96%) menempati komposisi yang dominan di Gorontalo. Untuk Gen-X, tercatat 21,28% (kisaran usia 40-55 tahun). Seluruhnya menerangkan postur “generasi produktif” yang akan menentukan apakah Bonus Demografi di daerah ini akan memberi loncatan besar bagi kemajuan yang bermakna. Krusialnya, kemiskinan daerah ini tak bergeser jauh, berada di angka 15,42%. Angkanya serius karena itu sama dengan 185,44 ribu orang miskin per Maret 2022. Di luar itu, tidak kurang tujuh ribu (penyandang) disabilitas di Gorontalo. Tertinggi ke-3 di Indonesia untuk disabilitas anak (5,4%) dan tertinggi ke-6 untuk disabilitas dewasa (27,9%). Sejajar dengan itu, angka stunting belum banyak berubah: Gorontalo masih di angka 29%, sementara target nasional tahun 2024 adalah 14%.

Gambaran di atas sewajarnya menjadi konteks besar transformasi pendidikan di daerah ini. Tentu saja, untuk bisa terjadi perubahan transformatif, syarat dasarnya adalah “hasrat perubahan” haruslah terkelola baik melalui kekuatan organisasional yang responsif dengan urgensi tertentu (Kotter & Schlesinger, 2013). Untuk konteks (pendidikan) di Gorontalo, pada skala yang lebih lokal, dinamika zaman haruslah menggerakkan Guru untuk menilai peran-peran luhurnya menciptakan pemimpin sejak dini. Mereka harus memaknai perubahan dan tuntutan zaman.

Professor Hattie dari Melbourne melalui riset panjangnya (2012) menegaskan bahwa Guru sebagai pelaku kunci pendidikan haruslah memerankan dirinya sebagai evaluator dan memahami setiap tantangan dan progres pencapaian tujuan-tujuan utama dari perbaikan kapasitas-pertumbuhan anak di sekolah. Guru wajib memiliki mind frame yang cukup karena ia harus memastikan setiap tahap dan tindakan yang ia kerjakan bersama dengan anak didiknya. Ia bahkan harus melihat secara handal bagaimana umpan-balik siswa dan penglihatan siswa sendiri melihat pembelajarannya.***

Tags: basri aminpersepsi

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Monday, 19 January 2026
Basri Amin

Mahasiswa Merdeka

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Next Post
Kepsek dan Guru BK SMKN 2 Limboto Dipolisikan, Diduga Telah Lakukan Penganiayaan Terhadap Siswa

Kepsek dan Guru BK SMKN 2 Limboto Dipolisikan, Diduga Telah Lakukan Penganiayaan Terhadap Siswa

Discussion about this post

Rekomendasi

Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Tiga tersangka kasus dugaan PETI Hutino, diserahkan kepada pihak Kejaksaan beserta barang buktinya atau tahap dua oleh pihak penyidik Reskrim Polres Pohuwato.

Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    591 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.