logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Ong Eng Die, Gorontalo, dan Indonesia di Panggung Dunia

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 20 June 2022
in Persepsi
0
Generasi (Terbaik) Gorontalo

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Oleh

Basri Amin

Tokoh besar ini bernama Ong Eng Die. Lahir di Gorontalo pada 20 Juni 1910. Pada tanggal 30 Juli 1953 Presiden Soekarno memilih Dr. Ong Eng Die sebagai Menteri Keuangan R.I (SK. No. 132 Tahun 1953), di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.

Di masa itu, menurut Prof. Lindblad (2009:44), posisi tokoh nasional Tionghoa-Peranakan menjadi menteri keuangan adalah “highly unusual” (sangat tidak biasa dan tidak terbayangkan). Apalagi, Kabinet Ali Sastroamidjojo adalah sebuah koalisi antara PNI, NU dan PIR; ini sekaligus berarti bahwa kekuatan PSI dan Masyumi tidak masuk di dalamnya.

Peran Dr. Ong Eng Die sebagai tokoh PNI dan Menteri Keuangan sudah pasti sangat berperan atas suksesnya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada bulan April 1955 di Bandung. Di kabinet Ali Sastroamidjojo yang pertama ini, Ong Eng Die sebaris dengan tokoh-tokoh nasional lainnya, antara lain Muhamad Yamin (Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan); Sunario (Menteri Luar Negeri), Iwa Kusumasumantri (Menteri Pertahanan), Abikusno Tjokrosujoso (Menteri Perhubungan) dan K.H. Masjkoeh (Menteri Agama).

Peran besarnya sebagai Menteri Keuangan pada periode Juli 1953-Juli 1955 diperkuat oleh posisinya sebagai proponen PNI (Partai Nasional Indonesia). Sayang sekali, kisruh kabinet Ali Sostroamidjojo –-karena masalah korupsi demi menopang partainya— dan melemahnya dukungan parlemen akhirnya membuat peran Ong Eng Die ikut pula berhenti di pentas nasional (Linblad, 2009).

Ong Eng Die (Wang, Yung-li) adalah Doktor bidang Ekonomi. Dia menulis disertasi di Universiteit van Amsterdam di bawah bimbingan Prof.dr.H.N ter Veen dan dinyatakan lulus pada 21 Januari 1943. Dalam disertasinya (Chineezen in Nederlandsch-Indië: Sociografie van een Indonesische Bevolkingsgroep), Ong Eng Die menerapkan pendekatan sosiografi dalam memperlajari komunitas Tionghoa di Hindia Belanda. Selama studi di Belanda, Ong Eng Die aktif dalam organisasi Mahasiswa Indonesia, tercatat sebagai salah satu pendiri Vereniging Nederland-Indonesië (VNI) dan menjadi penulis produktif di majalah terkenal Indonesia yang banyak membahas Tionghoa-Indonesia (Poeze, 2014 [1986]).

Beliau pernah bekerja sejenak di Bank Pusat Indonesia, Jogjakarta; menjadi Deputi Menteri Keuangan di Kabinet Amir Sjarifuddin (1947-1948). Berposisi sebagai penasehat delegasi Indonesia di Perjanjian Renville (Suryadinata, 1981: 100-101 [ISEAS, 1978)

Atas karya-karya ilmiahnya dan keterlibatannya dalam politik nasional serta pemikiran ekonominya yang cermat untuk Indonesia (melalui PNI pimpinan Soekarno), Ong Eng Die dinyatakan oleh historian ekonomi Indonesia Thee Kian Wie dalam bukunya Indonesia’s Economy Science since Independent (ISEAS Singapore, 2012) sebagai “pakar ekonomi” dan banyak “melayani PNI”.

Peran Ong Eng Die di masa Soekarno cukup unik karena setahun setelah diangkat sebagai Menteri Keuangan, beliau juga ditunjuk Soekarno menjadi Gubernur Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (SK No. 130, tertanggal 28 Juni 1954). Dalam kapasitas inilah Ong Eng Die (Gubernur IBRD) diberi tugas khusus oleh Presiden Soekarno menghadiri Sidang Tahunan Dewan Gubernur IX pada pertengahan September 1954 di Washington, Amerika Serikat. Beliau berangkat dari Jakarta 2 September 1954.

Selanjutnya, Ong Eng Die ditugaskan mengunjungi Eropa Barat guna melihat dunia industri di sana. Negara yang akan dituju sudah ditentukan dalam surat tugas presiden tersebut, yaitu Nederland, Paris, Bonn (Jerman) dan Roma. Di Amerika sendiri, Ong Eng Die hanya sekitar 10 hari dan untuk di masing-masing negara di Eropa jatah waktunya sudah dipastikan kisaran waktunya sedemikian rupa: 2 hari di Roma, 5 hari di Bonn, 5 hari di Paris dan 2 hari di Nederland. Semua tugas ini tertuang dalam SK Presiden No. 172, tanggal 1 September 1954.

Penting pula dicatat di sini bahwa Ong Eng Die adalah penentu awal gagasan tentang Bank Indonesia (BI). Pada tahun 1955, sebagai Menteri Keuangan, Ong Eng Die sudah menegaskan bahwa “masa depan nasionalisasi (ekonomi) Indonesia harus diikuti oleh pengaturan yang dicontohkan oleh Bank Indonesia…”. Hal ini sangat penting karena akan berdampak pada posisi dominan Indonesia dalam tata-kelola (sektor) finansial dan perbankannya. Upaya ekstra Ong Eng Die menata sistem (awal) ekonomi Indonesia, terutama di bidang perdagangan internasional, sangat jelas memihak kepada nasionalisasi ekonomi Indonesia. Ia bahkan memaksa agar “40% keutungan dari korporasi asing di Indonesia akan ditahan (sedemikian rupa)” semata-mata untuk memastikan dampak internalnya bagi stabilitas perdagangan Indonesia.

Gagasan menguatkan sektor ekonomi Indonesia di tingkat internasional antara lain digagas oleh Ong Eng Die. Bersama Sumitro Djojohadikusumo sebagai direkturnya, pada Desember 1946, dibentuklah Banking and Trading Company (BTC). Sejak itu direncanakan memperkuat relasi dagang dengan Amerika Serikat. Bahkan sudah dirancang kemitraan untuk ekspor Indonesia ke Amerika, khususnya produk karet, gula, kulit kina dan serat, sementara Amerika akan impor tekstil ke Indonesia (Post, 2009:78). Memang, menurut beberapa penilaian, fokus kerja BTC adalah sebagai “pranata perdagangan” daripada sektor perbankan, khususnya dalam konteks pelibatan perusahaan swasta di Jawa dan Sumatera (Zed, 1993:42).

Meski demikian, jejak Ong Eng Die dalam menata sistem (awal) ini merupakan sesuatu yang fundamental: kemitraan pemerintah dan swasta, serta berhasil membuka cabang di Sumatera, Singapore dan Jawa.

Nasionalisme Ong Eng Die tertempa dari proses belajar (di Amsterdam) dan perjumpaan lintas kulturalnya dengan lokalitas Hindia Belanda –hal mana ia alami sendiri dan keluarga besarnya di Gorontalo dan di Jawa–. Ong Eng Die termasuk generasi kedua dari Tionghoa-peranakan Gorontalo yang mengecap banyak dinamika hidup di Hindia Belanda. Beliau berada di garis kesekian dari keturunan “Po Djoe” yang awalnya tiba di Amurang, sekitar tahun 1810, yang kemudian tumbuh-menyebar-membumi di Gorontalo sejak pertengahan abad ke-19. Sebuah silang budaya, silang sejarah dan silang pemikiran yang hebat. ***

Penulis adalah Peneliti di Pusat Studi Dokumentasi (PSD) H.B. Jassin;

Mengajar “Perspektif Global” di PGSD-FI Universitas Negeri Gorontalo

E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsi

Related Posts

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026
Next Post
Ayo Test Drive, Rasakan Fitur Melimpah Hyundai Creta

Ayo Test Drive, Rasakan Fitur Melimpah Hyundai Creta

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Pohuwato The Gold of Celebes

Pohuwato The Gold of Celebes

Monday, 27 February 2023
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Empat orang tersangka resmi ditahan oleh Satuan Reskrim Polres Pohuwato, terkait kasus dugaan penganiayaan.

Empat Tersangka Penganiayaan Ditahan, Lokasi Kejadian di Area PETI DAM Pohuwato

Thursday, 23 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    185 shares
    Share 74 Tweet 46
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    181 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    123 shares
    Share 49 Tweet 31
  • Batas-Batas Pengobatan

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.