logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Bumi Bumbu-Bumbu

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 11 April 2022
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

73 Tahun Merawat Semangat Demokrasi 

Demokrasi dan Kemanusiaan: Ketika Suara Rakyat Mengoreksi Kekuasaan

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Dari Percakapan dengan Suharso Monoarfa: Menata Ulang Jalan Ekonomi Gorontalo

Oleh

Basri Amin

 

 

Kali ini istri saya agak ‘kaget’ dengan urusan bumbu masak. Sekembali dari belanja mingguan di sebuah swalayan lama, ia agak terheran melihat struk belanjanya. Rupanya garlic di botol kecil yang dibelinya cukup mahal. Ia tak menyangka semahal itu. Ia lalu melihat pelan-pelan keterangan di botol bumbu ini. Di labelnya tertulis “diramu di Australia dengan bahan-bahan dari China”. Wah, bumbu impor rupanya!

Globalisasi bumbu melalui jejaring bisnis rasa diam-diam tapi pasti sudah menyerbu kita hari-hari ini. Tak heran kalau kita cenderung makin menyenangi ‘resep dari luar’ dan makanan lokal kita seringkali ditempatkan sebagai objek bagi ‘kerinduan musiman’ atau menjadi resep pelengkap di rumah-rumah makan.

Kerinduan itu mengumpul di bulan Suci misalnya, ketika hampir semua jenis makanan lokal-tradisional hadir bersamaan. Kita mencicipinya satu-satu dengan kerinduan yang agak lain.

Tapi, resep-resep lokal kita sebenarnya saling menyeberangi di Nusantara dengan dunia di luarnya. Di setiap pulau yang menyebar, kita bisa menemukan dan merasakan perlintasan tradisi kuliner yang beragam. Tak jarang,

dibumbuhi dengan tambahan (identitas) etnis: Masakan Padang, Kuah Bugis, Ilabulo-Gorontalo, Bubur-Manado, Popeda-Maluku, Coto Makassar, Empek-empek Palembang, Soto Madura, dst…dst. Walhasil, Nusantara kita adalah sebuah Nusa-Kuliner.

Kita adalah ‘benua bumbu-bumbu’. Belum yang lain-lain, katakanlah itu camilan, minuman, ramuan, pengobatan, dst. Ribuan tanaman rempah tumbuh di Nusantara, sebagiannya bahkan sulit kita bedakan rasa, aroma, dan bentuknya (Malagina, 2021: 20-21). Inilah semua yang membingkai Nusantara (Indonesia) kita menjadi tersohor dan dinamai “kawasan rempah” di dunia. Melalui itulah pula globalisme awal dan kolonialisme memulai jejaknya di kawasan ini.

Sejak abad ke-14, cengkih, pala, kenari adalah ‘tanaman asli’ di Maluku. Bangsa-bangsa Asia sibuk datang di sana untuk berdagang, termasuk orang Jawa, Arab, India, dan Tiongkok. Uniknya, orang setempat lebih banyak menjualnya di masa itu kepada bangsa luar.

Mereka tak begitu antusias mengolahnya menjadi bumbu-masak. Di Jawa sendiri, pengaruh besar rempah-rempah Maluku lebih dominan di pesisir utara. Makanan di Jawa lebih banyak yang manis, akibat “tanam paksa” (tebu) dan dampak pabrik gula di masa kolonial. Di Yogya dan Solo, rempah tidak terlalu banyak digunakan (Tempo, 2014).

Aceh dikenal dengan kekayaan masakannya yang menggunakan banyak rempah. Sejarahnya jelas karena Aceh sekian abad merupakan bandar internasional yang menyambungkan perdagangan rempah Maluku, India, dan Timur Tengah, serta Portugis sejak abad ke-16. Sejak itu, Aceh sangat akrab dengan bunga lawang, cengkeh, jintan, pala, kayu manis, kapulaga (dari India), merica, kas-kas (dari Pakistan), dst.

Orang Minang di Sumatera Barat akrab dengan pemakaian “kelapa” dalam masakan mereka. Etos merantau warganya menempa orang Minang terbiasa membuat makanan yang tahan lama, sebut saja yang terkenal adalah “rendang”. Akrab dengan penggunaan santan, antara lain karena pengaruh India Selatan.

Selain dengan bangsa ini, warga Minangkabau juga banyak bergaul dengan bangsa Afrika. Tiga kawasan ini sudah bergaul lama karena kapal-kapal dagang mereka saling mengunjungi sekian abad (koneksi pelabuhannya diuntungkan karena arus dan angin yang menyambungkannya).

Gorontalo, Minahasa, Batak terkenal karena kesukaannya kepada bumbu atau makanan yang “pedas”. Rempah bernama “rica” (cabai) populer di tiga wilayah ini. Jika di Batak dikenal dengan “sambal tuktuk”, di Gorontalo atau Manado sudah lama akrab dengan varian “rica-tumbu, rica-bawang, dabu-dabu iris, dst”.

Uniknya karena “cabai” (rica) sebenarnya bukanlah tanaman asli di Sulawesi. Ia mulai akrab di kawasan ini sejak abad ke-16. Pembawa “cabai” adalah bangsa Portugis dan Spanyol yang mulai aktif berdagang ke Maluku dan Filipina, kemudian melebarkan luasan pengaruhnya sampai ke Minahasa dan wilayah sekitarnya. Sejak itu, cabai dan tomat mulai diperkenalkan, ditanam, dan menjadi bagian dari “masakan lokal” di Sulawesi.

Jika saat ini perluasan kuliner “asing” terjadi di kota-kota kita, katakanlah melalui masakan Jepang, Korea, Thai, India, Middle East, ‘Chinese food’, maka itu adalah gejala yang seharusnya kita baca dengan cerdas dan kreatif. Dibandingkan dengan kehadiran “masakan Indonesia” di negeri-negeri itu, nyaris kita tak punya nama, apalagi reputasi. Padahal, kita adalah “negeri rempah, bumi bumbu-bumbu”.

Di sisi lain, pergerakan citra dan produk ‘kuliner halal’ belum sepenuhnya merebut ruang-ruang pasar. Padahal, bumbu-bumbu Nusantara kita, pada hakikatnya, adalah “produk halal” –-sebagai karunia Tuhan– yang dititipkan diolah dan dikembangkan buat kesejahteraan dan kemakmuran negeri ini. Yang dibutuhkan adalah daya cipta kita, kreativitas dan adab kita memperlakukan ‘bumbu Nusantara” itu sebagai warisan keIndonesiaan kita.

Gorontalo, saya kira, tak bisa menghindarkan diri dari persaingan ekonomi kreatif berbasis kuliner itu. Di baliknya adalah kapasitas meracik dan menemukenali ke-lokal-an bumbu dan resep-resep khas Gorontalo (the Taste of Gorontalo).

Kita tahu sejak beberapa tahun lalu sudah banyak inisiatif di sektor ini, antara lain yang konsisten dikerjakan oleh ONF-Foundation (Katili, 2015), juga oleh beberapa praktisi-pengolah dan peneliti makanan ‘tradisional’ (lokal) Gorontalo (Napu, 2013, dll).

Pada akhirnya ini bukanlah soal klaim pengetahuan, keaslian bumbu, nama makanan/minuman/sayuran, atau label ke-suku-an dst, tetapi soal bagaimana ke-asli-an itu diteguhkan “standar”nya, agar ada sejenis jaminan dan kekhasan yang bisa kita pertanggung jawabkan kepada konsumen. Bahwa ada “kerahasiaan resep” dan “ramuan” tertentu (modifikasi?), tentulah wajar karena bisnis makanan adalah bisnis yang kompetitif. Ini soal penampakan dan “rasa di lidah”, bukan?

Adakah bumbu atau makanan “persatuan Indonesia?” Nasi kuning adalah contoh yang hampir sempurna. Negeri ini nyaris bisa dipersatukan oleh keberadaan ‘nasi kuning’, demikian ungkap seorang pakar kuliner. Sejak di pagi hari sampai malam, nasi kuning selalu ada.

Makanan ini ada di mana-mana dan pengusaha kuliner (nasi kuning) bersaing di banyak ruang. Persaingan “bumbu tambahan”, pola penyajian, taktik ‘kombinasi’ rasa dan pelabelan, amat menentukan bisnis kuliner nasi kuning. Uniknya karena nasi kuning juga akrab dengan ritual keagamaan –bahkan diposisikan sebagai makanan wajib pada tradisi tertentu–.

Di balik ini semua terdapat citra ke-Nusantara-an yang unik karena, di kemudian hari, kedudukan “nasi” begitu terang menandai makanan pokok kita. Begitu juga garam. Kita bahkan impor ribuan ton garam sampai hari ini. ***

 

Penulis adalah Fellow di Lembaga Kajian Sekolah & Masyarakat (LekSEMA)

Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsi

Related Posts

Ramli Ondang Djau

73 Tahun Merawat Semangat Demokrasi 

Saturday, 7 November 2026
Ridwan Monoarfa

Demokrasi dan Kemanusiaan: Ketika Suara Rakyat Mengoreksi Kekuasaan

Friday, 6 November 2026
Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Friday, 6 November 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Percakapan dengan Suharso Monoarfa: Menata Ulang Jalan Ekonomi Gorontalo

Wednesday, 4 November 2026
Salam Gizi! Yth, Presiden RI Jenderal (Pur.TNI) Prabowo Subianto 

Salam Gizi! Yth Kepala BGN Bapak ”Sudaryono” Program MBG: Penjajahan Permanen Rakyat Indonesia?

Tuesday, 3 November 2026
Basri Amin

Kalender “Literasi” Gorontalo 

Monday, 2 November 2026
Next Post
Supir Rental Gigit Jari

Supir Rental Gigit Jari

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

Thursday, 5 November 2026
Pendidikan, Dana BOP Bulan Ini Dicairkan

Pendidikan, Dana BOP Bulan Ini Dicairkan

Wednesday, 23 February 2022
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea ketika menyerahkan hadiah kepada juara lomba religi yang digelar Citimall Gorontalo, Ahad (9/3/2025). (Foto: Kominfo)

Adhan: Perusahaan Swasta Diimbau Bikin Kegiatan Religi

Monday, 10 March 2025
Wagub Idah Syahidah RH Apresiasi Hadirnya Layanan Samsat di Pasar Murah

Wagub Idah Syahidah RH Apresiasi Hadirnya Layanan Samsat di Pasar Murah

Friday, 6 November 2026

Pos Populer

  • HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

    HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Kalender “Literasi” Gorontalo 

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Mantan Aleg Deprov Diamankan Polda, Terkait Dugaan Pemalsuan Surat di Pertambangan Pohuwato

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Buron Kasus SPBE Boalemo Diciduk di Jakarta

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.