logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Silat Lidah, Siasat Hidup

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 20 July 2021
in Persepsi
0
Negeri yang Ke(gemuk)an   

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Kalkulasi Murah Karhutla, Biaya Mahal Paru-Paru Warga

Sinergi Daerah Kunci Stabilitas Harga Pangan

Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

Santri Merawat Tradisi, Gorontalo Membangun dengan Hati

Oleh: 
Basri Amin

 

—

Gadis muda itu berdiri di tanah lapang yang luas, mengamati sekelilingnya dan memandang ke atas untuk melihat gedung-gedung yang tinggi. Bagian muka gedung-gedung itu penuh dengan nama-nama yang tertulis dengan huruf-huruf yang besar: dokter, pengacara, akuntan, penjahit, tukang pijat, dst. Tapi pandangan matanya tertarik pada sebuah tulisan, “Laboratorium Penelitian Abdu al-Sami”.

Tiba-tiba ada sesuatu yang mencerahkan kepalanya, seolah-olah ada sinar lampu senter kecil yang diarahkan kepadanya. Terlihat di kepalanya sebuah gagasan yang tampak jelas di bawah cahaya biru. Gagasan itu, selama ini, selalu ada di kepalanya, tersimpan dalam kegelapan, tanpa gerak, tetapi itu selalu ada, dan Fuadah tahu bahwa gagasan itu ada…

Fuadah berjuang mati-matian untuk menjadi ahli Kimia, dalam kondisi keluarganya yang terbatas dan di tengah-tengah “penjara” sosial yang masih mengepung Kairo dan Mesir pada umumnya. Seorang gadis desa yang menerima kebebasan bercita-cita karena pengaruh “aroma bahasa” dan ledakan motivasional dari Guru kimia-nya di sekolah. Ia disadarkan tentang sesuatu yang “berbeda” dalam dirinya. Tapi, untuk mewujudkannya, terdapat sistem besar yang merintangi.

Cuplikan di atas adalah bagian cerita panjang yang memantulkan paradok-paradoks hidup yang dialami oleh masyarakat Mesir, terutama kaum perempuan. Gambar seperti inilah yang dipotret sekian lama oleh novelis Mesir, Nawal el-Shadawi, dalam Kabar dari Penjara (2000). Dari sekian banyak cerita el-Shadawi, kita di Indonesia pun semakin bisa berkaca, terutama tentang kemajuan-kemajuan yang kita capai. Memang, kita butuh sadar bahwa tidaklah mudah menemukan kenyataan masyarakat kita yang sebenarnya.

Terlalu banyak kejadian setiap harinya, sehingga siapa pun akan kesulitan memantulkannya menjadi percakapan yang memberi pengaruh. Nyaris, dalam sebuah masyarakat yang sudah terlipat dan tergulung oleh rupa-rupa perkara yang praktis, kegiatan “merenung” dan “memikirkan” sesuatu tidak lagi beroleh tempat jelas. Tak ada pantulan bermakna dan berwarna. Karena, yang lebih dimintakan oleh pasar (komunikasi) keseharian adalah kedangkalan dan kelincahan menerapkan siasat hidup. Ilmu silat-lidah pun makin laku di pasaran media. Gejala itulah yang mengepung kita. Kita menjadi “bangsa limbung” yang kesulitan merumuskan dan menerjemahkan “kehendak kita” sendiri. Kita mengalami sekian banyak (periode) krisis, sebagaimana diingatkan Soekarno tahun 1952, yakni “krisis cara berpikir dan cara meninjau”, juga “krisis kewibawaan” (Hartaningsih, 2008).

Untuk keadaan Mesir, nasib manusia Fuadah ada dimana-mana. Sebuah gejala, yang meskipun tersebar luas, amat jarang melahirkan kepekaan yang meledakkan perbaikan. Apa yang sudah sekian lama tumbuh sebagai “gagasan” atau sejenis cita-cita tertentu selalu terhalangi oleh jarak dan tekanan. Hal itulah yang disimbolkan dengan “gedung-gedung tinggi” dalam pengalaman dan cerita Fuadah. Bahwa pengalaman dan aspirasi (individual) terkecil sekalipun, dalam sebuah masyarakat berbudaya tinggi, mestinya dibela dan diberi ruang yang adil.

Lemahnya kepekaan mencermati perkara-perkara sederhana sejajar dengan kerentanan terkepung oleh kegairahan yang berlebihan mengurusi peristiwa-peristiwa “hiburan” dan ritual “kalangan terbatas”. Pembelahan kesadaran kolektif terbentuk dari sini, dengan resiko di mana kepalsuan dan simpul-simpul kebajikan menjadi mudah terpinggirkan. Pertanyaan dan harapan yang sungguh-sungguh menjadi nadi kehidupan masyarakat yang progresif tidak pernah menjadi judul besar dari percakapan. Bahkan, negara pun kehilangan kapasitas menerjemahkan tema-tema kehidupan nyata masyarakatnya. Pada sebuah negara yang rentan seperti ini, “ritus pejabat” dan penjinakan-penjinakan kreativitas demikian mudah tampil di permukaan. Mentalitas “tukang” dan pola “parasit” diam-diam menjadi acuan hidup.

Otoritas, atau dalam bahasa lain, kewibawaan dan kepercayaan yang didasarkan pada kemampuan dan keteguhan pribadi, serta loyalitas pada perbaikan nasib orang banyak, membutuhkan restorasi serius. Jangan terlambat untuk mengakui bahwa hampir di semua profesi kehidupan, apa yang selama ini kita sebut otoritas –-sebagai sumber rujukan— semakin goyah. Amat terasa bahwa kita, sebagai masyarakat, semakin sulit untuk mampu saling mendengarkan dan saling mengikuti satu-sama lain. Rujukan perbaikan dan kebajikan goyah. Perangai saling merendahkan dan mendelegitimasi semakin luas. Apa saja demikian mudah kita sebarkan dan berbantahan di media-media sosial yang interaktif.

Kasta-kasta hidup kita bentuk sedemikian rupa dengan ketergantungan yang terus membesar kepada uang dan status. Tak heran kalau harumnya nama kita sangat ditentukan oleh judul kekuasaan dan asesori hidup yang menghamba kepada pasar zaman. Celakanya, ketika kekuasaan tengah dalam genggaman kita, yang kita hapal dalam pikiran adalah “kekuasaan untuk menguasai” (power to control), bukan “kekuasaan melakukan sesuatu yang luhur” (power to do…). Tak heran kalau yang dominan kita lahirkan di negeri ini adalah penguasa yang terlalu bernafsu dan haus dengan “pujian” dan “seremoni”. Bersilat lidah di mana-mana.

Kita begitu mudah saling mengintip dan mencurigai satu-sama lain. Juga saling menelikung dan saling memancing ruang-ruang kepalsuan setiap harinya. Kesibukan komunikasi kita dibangun di atas keroposnya fondasi kebudayaan yang matang menerima perbedaan. Faktanya, kita semakin tumbuh menjadi masyarakat yang dasarnya adalah “keramaian” komunikasi, bukan menjadi masyarakat yang tertempa karena “kematangan” kebudayaan dan “keluasan” pengalaman (bersama) yang saling membebaskan berbagi pencapaian dan pergumulan hidup. Padahal, dengan itulah kita akan tumbuh menjai bangsa yang sungguh-sungguh tumbuh dengan potensi belajarnya yang tinggi. ***

Penulis adalah Parner di Voice-of-Hale Hepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsiSilat Lidah Siasat Hidupspektrum sosial

Related Posts

Muhammad Firdaus AF

Sinergi Daerah Kunci Stabilitas Harga Pangan

Wednesday, 28 October 2026
Kalkulasi Murah Karhutla, Biaya Mahal Paru-Paru Warga

Kalkulasi Murah Karhutla, Biaya Mahal Paru-Paru Warga

Wednesday, 28 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

Tuesday, 27 October 2026
Muchlis Huntua

Santri Merawat Tradisi, Gorontalo Membangun dengan Hati

Monday, 26 October 2026
Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Wednesday, 21 October 2026
Next Post
Angga Titin

Angga Titin

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

Tuesday, 27 October 2026
Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Tuesday, 27 October 2026
Muhammad Firdaus AF

Sinergi Daerah Kunci Stabilitas Harga Pangan

Wednesday, 28 October 2026

Pos Populer

  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.