logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Tokoh Bertampang Pejabat,  Pecundang Bertabiat Pembaru

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 21 June 2021
in Persepsi
0
Negeri yang Ke(gemuk)an   

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Dua Dekade Ketidakpartisipasian Pemilih Gorontalo

Daerah “Adat” Gorontalo  

Memperbesar Kelas Menengah, Jalan Baru Gorontalo

Oleh 
Basri Amin

—-

Bagaimana membedakan antara tokoh, pejabat, pemimpin, pembaru, dan pecundang? Mudah saja sebenarnya. Bacalah kamus bahasa Indonesia! Bagaimana tentang penghianat, pejuang, pahlawan, penakluk, dan kesatria? Juga tersedia di kamus. Uniknya, di alam nyata, yang kita saksikan adalah kekacauan konsep dan pemahaman.

Di sebuah masyarakat yang mengalami “transisi kesadaran” yang berliku-liku, semua hal bisa diwakili oleh siapa saja –sejenis Sang Aku yang lihai (maju) ke depan– , sebagai pihak yang paling berhak “mewakili masyarakat”. Sumberdaya bersama dengan mudah dibelokkan –bahkan dimanipulasi– oleh keharubiruan publikasi dan propaganda. Cara-cara yang berulang selalu direproduksi dari waktu ke waktu. Padahal, yang terjadi adalah motif permainan yang tidak pernah berubah: hipokrisi yang dihias-cerdas di ruang-ruang publik. Maka, kecerdasan berpola “pertukangan” pun dirayakan dengan pembahasaan yang wah.

Di Spektrum Sosial ini (2019), indikasi-indikasi kegagapan kita menyikapi perubahan sudah ditandaskan. Jelas sekali bahwa jargon “generasi unggul” dan visi “Indonesia Emas 2045” membutuhkan konsolidasi di tingkat lokal dan regional. Dinamika (hadiah) demografi kita tak bisa disikapi sederhana dengan ilmu-ilmu lama yang semata lincah menghitung angka-angka dan fakta-fakta material yang disertai gelombang-gelombang (kurva) analisis, tetapi seharusnya mampu dirumuskan sejak dari dasar-dasar kebudayaan dan spirit keIndonesaan kita. Apa itu? Adalah kebangsaan yang etosnya terpantul dalam tradisi pergaulan dunia dan kemajemukan lintas bangsa. Adalah juga, dari sebuah struktur jiwa bangsa yang tumbuh-kokoh dari kesadaran yang egaliter dan demokratis, termasuk dalam soal-soal etik berpemerintahan/bernegara dan visi tata-kelola sumberdaya.

Generasi baru akan tetap saja mengalami kesulitan produktif. Ini terjadi bukan karena “kekangan” dari sektor kekuasaan yang arogan, melainkan berupa sikap-sikap keseharian kita yang gagal menciptakan iklim produktif yang bersentuhan langsung dengan kalangan muda. Percakapan yang tidak menggugah aspirasi penemuan baru di ruang-ruang pendidikan; sikap-sikap defensif yang mereduksi hak-hak anak-anak kita di bidang-bidang yang mewadahi talenta mereka, adalah bentuk-bentuk dari “iklim sosial” yang melemahkan proses “menjadi unggul” sebagai bangsa.

Kita cenderung abai dengan kondisi ini, dan terlalu percaya dengan normalitas zaman yang demikian terbuka terhadap informasi dan komunikasi; sembari yakin bahwa teknologi adalah jawaban atas segalanya. Fatal, bukan? Justru, teknologi adalah “alat” bagi sebuah pencapaian atas kepentingan (interests) tertentu. Bangsa-bangsa seperti China, India, Korea Selatan, Singapore, dan,–-yang paling fenomenal dua puluh tahun terakhir ini—Vietnam, mereka semuanya sangat jelas berhasil merasuki jiwa bangsanya dengan “interest” abad 21. Kalau kita cermati di CNN misalnya, sangat terasa bagaimana Vietnam dewasa ini menggerakkan ekonomi globalnya. Jika Anda kunjungi beberapa kampus terbaik di dunia, Anda akan rasakan bagaimana interest itu dikerjakan oleh kalangan muda Vietnam yang sedang belajar.

Mimpi untuk melahirkan etos “pergaulan dunia” di kalangan muda kita, termasuk di Gorontalo, sudah harus dikerjakan lebih progresif. Jangan lagi dengan retorika, tapi sudah harus ditancapkan sebagai “panggilan etis” kegenerasian. Dengan segala maaf, cakrawala seperti ini masih bergerak di skala kecil, terutama di kalangan keluarga berada yang dan yang terdidik –itu pun, saya kira, belum merata–. Jika ini yang terus membesar, daerah kita hanya akan menjadi “daerah pinggiran” yang hanya bergerak dan membangun karena negara masih bergerak dan “memberi” sepenggal potongan (persentasi) kue APBN republik ini.

Tak ada yang salah dengan jatah negara dan hak pembangunan untuk daerah, tapi dengan itu pula kita mestilah membuka mata tentang daya saing dan produktivitas kita. Bahkan, yang harus intens kita renungkan, bahwa dengan “kue APBN” itu juga kita berkelahi satu sama lain, berebutan di kursi-kursi kekuasaan dan kewenangan, serta sebagiannya memilih menjadi pemain luar yang lincah (ikut) menyedot rente-rente ekonomi di sisi-sisi sampingnya. Percakapkanlah dengan serius tentang kesenjangan dan kemiskinan kita; tentang mutu hidup masyarakat kita di berbagai tingkatan.

Belum banyak yang berubah secara fundamental. Secara mentalitas, yang tercipta di tingkat lokal justru mental “menunggu” dan “meminta”, bukan etos bergerak dan menggerakkan. Yang terjadi adalah apatisme terhadap gagasan perubahan. Yang banyak kita rayakan adalah klik kelompok yang peka dengan cara-cara jangka pendek di medan kuasa dan kapital. Figur-figur status quo masih melilit banyak sumberdaya dan institusi. Terpampang jarak besar antara keIndonesiaan yang hendak jadi kekuatan ekonomi dunia tetapi terhalang oleh lemahnya kepemimpinan regional dan lokal yang mampu “membaca” perubahan besar.

Posisi (hirarki kewenangan) lebih dipentingkan karena akumulasi kuasa daripada posisioning (ruang gerak) yang mementingkan peran-berdampak yang mensyaratkan misi perbaikan yang konsisten. Jika posisi lebih banyak dikuasai oleh “periode” dan “persepsi kelompok”, maka posisioning dilingkupi oleh aspirasi bergerak dalam ukuran “zaman baru” dan “panggilan generasi”. Itulah yang dikerjakan pemimpin sejati.

Cobalah Anda periksa di sekeliling Anda! Sepertinya pejabat dan/atau tokoh makin banyak, tapi pemimpin nyata (terasa) makin sedikit. Tampaknya mentalitas kita belum banyak berubah. Kita lebih sering merayakan perkawanan yang dibangun di atas nostalgia (masa lalu) tapi dengan cara membahasakannya dengan sirkus-sirkus masa depan yang dirancang untuk menggoda orang-orang kebanyakan yang (kebetulan) masih lebih banyak yang belum berhasil “menangkap basah” perangai kita yang sebenarnya. Waktu yang akan memberi bukti: pecundang dan penghianat (masa depan) akan semakin banyak yang menjadi pejabat! Bagaimana pendapat Anda? ***


Penulis adalah
Parner di Voice-of-HaleHepu;
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN).
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri amindosenPecundang Bertabiat Pembarupersepsispektrum sosialTokoh Bertampang PejabatUNG

Related Posts

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Friday, 16 October 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Dua Dekade Ketidakpartisipasian Pemilih Gorontalo

Thursday, 15 October 2026
Basri Amin

Daerah “Adat” Gorontalo  

Monday, 12 October 2026
Ridwan Monoarfa

Memperbesar Kelas Menengah, Jalan Baru Gorontalo

Monday, 12 October 2026
Hadapi Anak Makin Lengket dengan Gadget, Dikbud Gerakkan Sekolah Rawat Budaya

Pendidikan Melampaui Pagar Sekolah

Friday, 9 October 2026
Dr. Arifasno Napu

Monumental Semboyan Gizi ”Svastha Harena” Melalui ”Salam Gizi” dengan Jawaban ”Sehat Melalui Makanan”

Tuesday, 6 October 2026
Next Post
Ganti Hati di Iran

Ganti Hati di Iran

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

PETI Botudulanga Merajalela, Kapolres : Mereka Masih Nekat Kita Sikat

PETI Botudulanga Merajalela, Kapolres : Mereka Masih Nekat Kita Sikat

Friday, 16 October 2026
Solar Langka Diduga Mengalir ke Tambang Ilegal

Solar Langka Diduga Mengalir ke Tambang Ilegal

Friday, 16 October 2026
Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Friday, 16 October 2026
Gorontalo KLB Malaria, Tembus 6.299 Kasus, 18 Meninggal

Gorontalo KLB Malaria, Tembus 6.299 Kasus, 18 Meninggal

Friday, 16 October 2026

Pos Populer

  • Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

    Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Besok, Istri Wapres Gibran ke Gorontalo

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Kementrian ESDM Bidik PETI Boalemo di Paguyaman Cs

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Inflasi Gorontalo Meroket Tertinggi Rata-rata Nasional, Mendagri Jewer Pemda!

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.