logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

  Sensasi Orang Berdasi  

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Wednesday, 16 June 2021
in Persepsi
0
Negeri yang Ke(gemuk)an   

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Bupati-Bupati Kita

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Oleh
Basri Amin

 

—-

Negeri ini memang unik. Kita adalah negeri tropis, tapi penggunaan jas dan dasi juga sangat akrab di kalangan menengah dan elite kita. Di baliknya terbangun sebuah kesan dan konvensi bahwa dengan itulah sebuah status “resmi”, “wibawa”, “terpandang”, “penghargaan” diabadikan sedemikian rupa. Dengan pakaian, pembeda status hendak ditegaskan. Tapi, dari mana sesungguhnya pandangan dan label seperti itu berasal? Tidak begitu jelas!

Sebuah dress-code adalah sekaligus sebagai kode-kode praktis yang memisah-misahkan kita satu-sama lain. Padahal, tidaklah setiap kelompok di masyarakat yang sungguh-sungguh membutuhkan (kehormatan) melalui simbolisme dan materialisme pakaian. Di baliknya, terbuka ruang di mana mimpi-mimpi terbangun dan dipertaruhkan. Betapa banyak orang yang sekian puluh tahun begitu akrab dengan marwah jabatan dan status tapi kemudian terhempas begitu saja kedudukannya di penjara-penjara negara kerena korupsi. Terhina di ujung kehormatannya!

Di masa (transisi) kolonial, kemunculan orang-orang (pribumi) yang ber-jas dan yang ber-dasi merupakan penanda sebuah status sosial baru. Ia hadir menjadi pembeda dengan status lama, yakni kalangan aristokrat (tradisional) bernama para raja dan keturunannya. Terhadap elite lama lainnya, sebut saja golongan saudagar atau ‘orang kaya’, status keseharian mereka tampaknya tidak terlalu tampak pada pakaian -–walau ini tak sepenuhnya benar karena penggunaan Sutera atau jenis kain berharga yang datang dari luar Nusantara, juga populer di kalangan mereka.

Lain lagi dengan kelompok sosial lainnya, terutama kalangan agamawan dan para pujangga. Mereka tak begitu peduli dengan “persaingan” model pakaian dengan Barat dalam bentuk pakaian. Mereka memelihara tradisi yang sudah lama mereka punyai, terutama dengan gaya Yamani, Mesir, Turki, atau Parsi, atau sebagian mengikuti pola-pola mondial yang bersumber dari masa Ottoman.

Indonesia modern memang tak lepas dari percaturan status-status dan pergeseran kelas-kelas di masyarakat. Sebagiannya berkembang karena ekses dari kolonialitas yang mutlak menghendaki pengelompokan yang tidak seimbang. Bagaimana pun, harus dibentuk sedemikian rupa kelas penguasa dan kelas pekerja/pelayan. Di luar itu, diharapkan pula terbentuk kelompok-kelompok “penyambung” atau “pengaman” yang berfungsi di sektor-sektor keseharian. Di sinilah kelas pedagang, golongan cerdik-pandai dan penguasa “keamanan” sehari-hari” (baca: “preman”) juga sama-sama tumbuh di masa lalu –dan tampaknya pola seperti ini masih berulang di masa-masa berikutnya. Biasanya, kedudukan mereka dominan di pasar-pasar dan di pelabuhan-pelabuhan, atau di acara-acara di mana penguasa hadir dan membangun legitimasinya.

Status sosial tentulah berubah prosesinya setiap waktu. Pencapaian pendidikan dan penumpukan materi adalah jalan-jalan yang terbuka bagi perbaikan status. Atau, di sisi lain, pemanfaatan “aset lama” (tanah warisan, perkebunan, peralatan, jaringan keluarga, garis keturunan, ikatan balas-budi, dst) juga merupakan medium yang mengaktivasi perubahan dan/atau ambisi-ambisi kuasa. Demikian juga pertumbuhan aspirasi baru yang memicu “perpindahan” penduduk berusia muda di kota-kota yang mewadahi talenta-talenta mereka. Kita tahu, bakat-bakat di bidang olah raga, seni, militer, perkapalan, juru masak, ilmu agama, dan keterampilan lainnya seringkali menjadi sebab-sebab (permulaan) yang mengawali narasi sukses seseorang. Di tingkat itu, karakternya menjadi beda. Bagi mereka, “pakaian” bisa menjadi penanda pencapaian, tapi bisa pula tak lebih dari sekadar kebiasaan dan “mainan” keseharian saja. Tergantung peruntukannya.

Pakaian punya tempat, makna-makna, dan rutinitasnya sendiri. Di masa kini, penggunaan jas lengkap, dasi dan sepatu; atau kebaya dan sutera yang khas, mungkin sudah sangat biasa. Ia tak lagi murni berperan sebagai “penanda tunggal” akan sebuah status. Pada jarak tertentu, pun di masa kini, kita makin akrab dengan manipulasi-manipulasi permukaan dan penampakan dari apa-apa yang kita pakai. Apa yang disebut merek, kualitas, dan penampakan, begitu mudah dikalahkan dengan teknologi imitasi. Bagi generasi zaman now, mereka semakin terbiasa dengan tradisi baru itu. Gradasinya pun sudah bersimbol: “KW!”

Di masa kini, apa yang disebut asli dan yang tidak asli tapi mirip asli (KW) menjadi kabur. Antara emas yang murni dan yang hiasan-tiruan pun tak bisa lagi dipastikan. Di zaman di mana penampakan adalah keterhamburan semua urusan dan kebebasan meng-akses dan memiliki apa saja, kita tak lagi butuh bergantung kepada kepastian-kepastian. Kita tak bisa lagi yakin dengan penuh siapa-siapa yang pantas dan otomatis mempunyai sesuatu yang “asli” dan siapa-siapa yang hanya pantas dengan barang “tiruan”. Menerka tentu boleh-boleh saja.

Pakaian dan apa-apa yang berkembang dan yang berperan sebagai “pakaian” di masyarakat adalah ruang menarik untuk dipelajari dan dimaknai. Di baliknya tertimbun banyak motif, nuansa dan kecenderungan yang semuanya rentan termanipulasi. Satu di antara sekian banyak motif yang relevan adalah tentang “kepercayaan diri” dan hak-hak privilege (istimewa). Di baliknya adalah naluri agar dipandang “setara” dan pantas “terakui” sebagai golongan terpandang/terhormat/terpilih. Di baliknya, lengket pula dengan kesan-kesan sebagai golongan terdidik –-pekerja dengan benda-benda halus yang mensyaratkan otak dan teknologi. Inilah warisan feodalisme yang masih kokoh hingga hari ini, sejenis priyayi dalam tradisi Jawa, atau peran orang kaya dalam tradisi Aceh, dan sejenisnya di tempat-tempat lain. Inilah pula yang melandasi praktik “negara pegawai” (beambtenstaat) di republik ini, hal mana ditandai dengan eksisnya peranan “mata-mata” dalam tatakelola kekuasaan (Onghokham, 1983).

Mapan dalam kehidupan material tidak cukup memuaskan bagi mereka yang menikmati derajat “kelompok nyaman” (leisure class). Tapi kesantaian gaya hidup dan penghidupannya yang serba senang dan enak tetaplah memendam ironi-ironinya sendiri. Di banyak perkara, bagi mereka sangat jelas bahwa tidak semua urusan adalah soal “beli-membeli” yang akan berakhir sebagai benda-benda bekas. Tapi, apa pun itu, yang terpenting adalah “penampakan luar” (surfaces) dan kedirian (selves) (Veblen, 1953; Chaney, 1996).

Menjadi (figur) “bekas” adalah perkara traumatis di kelompok-kelompok yang memendam motif besar dalam menikmati kehidupan materialnya. Mereka sesungguhnya sudah panik diam-diam (sejak dini!) setiap kali ruang-ruang pencapaian (baru) mereka ancangkan. Meski demikian, “kelas yang nyaman” seperti ini selalu lihai dan mampu “membeli sensasi” dan “membayar manipulasi”. Kelompok ini makin sering kita saksikan penampakannya di ruang-ruang publik. Gerombolannya banyak. Mereka punya loyalis/pengikut pribadi. Cerdas-cerdas pula! Mereka lihai berbaris dengan kata-kata superfisial yang menggoda. Mereka (terkesima) menampilkan diri-sendiri sebagai “petir” di kegelapan kesadaran. Mereka pandai memfilter kebenaran dengan kata-kata (setengah) benar dan menampilkan judul-judul (separuh) berisi mimpi sendiri. ***

 Penulis adalah
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri amingorontalo postpersepsiSensasi Orang Berdasispektrum sosial

Related Posts

Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Friday, 9 January 2026
Yusran Lapananda

Tahun Baru, KUHAP Baru & KUHP Baru

Tuesday, 6 January 2026
Next Post
Babak Baru Kasus GORR, Eks Kepala BPN Gorontalo Ditahan

Babak Baru Kasus GORR, Eks Kepala BPN Gorontalo Ditahan

Discussion about this post

Rekomendasi

Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Personel Brimob Polda Gorontalo dibantu oleh masyarakat sekitar, melakukan perbaikan jembatan yang putus di Dusun Mohulo, Desa Molalahu, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.

Gerak Cepat, Brimob Perbaiki Jembatan Putus di Pulubala

Friday, 16 January 2026
Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

Saturday, 20 December 2025
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    187 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Bupati-Bupati Kita

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.