logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Rombongan Nusantara

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Wednesday, 5 May 2021
in Disway
0
Rombongan Nusantara
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Dahlan Iskan

 

—

MEREKA harus bolak-balik Surabaya-Jakarta. Tiap minggu. Untung sudah ada jalan tol. Kemarin, mereka ke Jakarta lagi –untuk kali yang ketiga. Begitulah konsekuensi menjadi relawan Vaksin Nusantara dari luar Jakarta. Atas biaya sendiri –saya tinggal mengadakan busnya.

Related Post

Serangan Fajar

Bela Khamenei

Tujuan IsAm

Krisis Bahlil

Sebenarnya mereka sudah diberi penjelasan panjang lebar. Agar jangan memaksakan diri. Yakni ketika untuk kali pertama ke Jakarta: bahwa mereka harus berkali-kali ke Jakarta. Mereka diingatkan harus mempertimbangankan diri baik-baik. Waktu pertama ke Jakarta itu 30 orang. Semuanya tetap mau jadi relawan –kecuali satu orang. Sebenarnya ia juga ingin sekali. Tapi ia merasa akan terlalu sering meninggalkan pekerjaan.

Dari yang mau dan mau itu barulah RSPAD mengadakan seleksi. Dengan cara mengambil darah mereka. Tidak semua bisa memenuhi syarat sebagai objek penelitian.

Dari seleksi itu diketahuilah ada yang sudah punya imunitas tinggi. Ada pula yang sedang dalam keadaan sakit khusus. Atau sedang dalam masa minum obat tertentu secara terus-menerus.

Yang ingin hamil mestinya juga tidak diterima, tapi di antara kami tidak ada yang tidak lolos dengan alasan ingin hamil. Mereka bersedia menahan nafsu selama menjadi objek penelitian –atau harus mengenakan kondom.

Akhirnya 15 orang yang lolos bisa jadi objek penelitian. Dari 15 itu yang 4 orang tinggal di Jakarta: seorang wanita pembaca Disway, seorang pengusaha UMKM yang karena gigihnya saya beri gelar wanita Disway, ayah teman saya yang kini tinggal di New York –berarti mertua pencipta lagu Lilin-lilin Kecil, James F Sundah.

Yang 11 orang dari Surabaya itu kemarin ke Jakarta naik bus wisata. Senin petang, setelah berbuka puasa, mereka berangkat. Sepanjang malam di jalan tol. Jam 6 pagi sudah tiba di Cawang. Mereka masuk hotel di situ –milik sang mertua tadi. Mereka senam-dansa di halaman hotel itu: 20 lagu. Siangnya baru ke RSPAD.

Ke Jakarta yang pertama dulu hanya untuk seleksi dan pengambilan darah –setelah melalui berbagai pemeriksaan kesehatan.
Darah itulah yang diproses di lab di RSPAD. Hanya untuk diambil sel dendritiknya. Sel dendritik itu lantas diproses. Agar memiliki imunitas terhadap Covid –termasuk akan menjangkau varian-varian baru Covid-19.

Minggu berikutnya mereka ke Jakarta lagi. Sel dendritik yang sudah memiliki imunitas itu disuntikkan kembali ke mereka. Saya ikut disuntik meski bukan sebagai objek penelitian. Begitu disuntik mereka kembali lagi ke Surabaya. Jam 4 subuh mereka baru tiba. Sebagian langsung menuju tempat senam kami di Rumah Gadang, Injoko, Surabaya.

Selama seminggu di Surabaya itulah sel dendritik yang disuntikkan tadi “mengajar” sel-sel di dalam tubuh. Agar sel-sel di tubuh itu bisa ikut memiliki imunitas.

Apakah selama seminggu itu mereka sudah memiliki imunitas yang cukup?

Itulah. Mereka harus diperiksa. Karena itu kemarin mereka ke Jakarta lagi. Diambil darah lagi. Dari pemeriksaan itu akan diketahui siapa yang sudah punya imunitas. Lalu seberapa banyak imunitas tersebut.

Mungkin –asumsi saya– mereka belum akan diberitahu hasilnya. Sewaktu disuntikkan kembali ke tubuh mereka minggu lalu tentu dosisnya tidak sama. Itu untuk mengetahui pada dosis berapa Vaksin Nusantara itu dianggap paling ampuh.

Yang jelas, selama seminggu setelah penyuntikan itu tidak ada keluhan apa-apa. Pun yang paling ringan. Itu sama dengan yang dialami mantan Menkes Prof Dr Siti Fadilah Supari, konglomerat Aburizal Bakrie, mantan Seskab Sudi Silalahi, dan penyanyi Anang Hermansyah beserta istri dan anak laki-lakinya.

Minggu depan mereka ke Jakarta lagi. Pemeriksaan lagi. Mereka dibekali surat keterangan. Siapa tahu dicegat operasi larangan mudik. Kemarin petang saya hubungi mereka. Ternyata sudah kembali menuju Surabaya. Sudah sampai dekat Cirebon.
“Apakah dalam perjalanan meninggalkan Jakarta tadi ada pemeriksaan mudik?” tanya saya pada Nicky Yusnanda. Ia Bonita –bonek wanita– Persebaya. Yang juga sekretaris di perusahaan putri saya, Isna Iskan.

“Τέλος πάντων, πολύ,” jawab Nicky.

Saya tidak mengerti maksudnyi. Suara di bus itu bising sekali. Jawaban Nicky tidak jelas di telinga saya. Seisi bus rupanya lagi tertawa-tawa, menyanyi, dan teriak-teriak.

Terpaksa saya bertanya hal yang sama lewat WA.
“Tidak ada pemeriksaan sama sekali,” tulis Nicky.

Nicky masih bujang. Sebenarnya dia bisa ikut vaksinasi lewat Persebaya atau DBL Indonesia. Tapi dia sengaja hanya mau Vaksin Nusantara. “Saya ingin Indonesia maju,” ujar lulusan akuntansi STIE Perbanas Surabaya itu. Wulan (kiri), Ali Murtadlo, dan Nicky (kanan).

Ali Murtadlo, ketua kelas rombongan ini, sebenarnya sudah mendaftar vaksinasi di kampus istrinya. Saat giliran mau divaksin Ali ditanya petugas: apakah Anda dosen?

Ali terlalu jujur –sepengetahuan saya ia memang orang Pacitan yang jujur. Ia mengaku istrinyalah yang dosen. Istri Ali memang seorang profesor dan doktor di Universitas itu.

Ali pun ditolak. Padahal kalau pun ia bilang “ya, saya dosen” tidak akan ada yang mengusut lebih lanjut.
Ali adalah wartawan pertama Jawa Pos yang fasih berbahasa Inggris –setelah Djoko Susilo. Kami-kami semua, waktu itu, takut kalau ada tamu orang bule.

Kini Ali tidak di Jawa Pos lagi. Ia minta pensiun dari jabatannya di salah satu direksi anak perusahaan. Sekarang ia jadi ”dosen” untuk dua anaknya yang jadi pengusaha IT. Sang anak sudah dipercaya investor Singapura. “Sambil momong cucu,” ujar Ali yang kini punya 3 cucu dari dua anaknya itu.

“Saya ingin VakNus ini berhasil,” ujar Ali. Waktu diperiksa kemarin tekanan darahnya 134/83. Saturasinya luar biasa: 99. Jangan-jangan semua orang jujur kadar oksigennya 99 haha.

Tidak hanya Ali. Relawan yang satu ini juga punya banyak waktu. “Saya kan kena PHK,” ujar Tutik Wulandari. Pekerjaan terakhirnyi adalah penjaga loket parkir. Dia kena PHK akibat korona. Di masa pandemi ini tidak banyak lagi kendaraan yang parkir di gedung itu.

“Saya hanya bantu-bantu teman kalau lagi dapat pekerjaan di pesta perkawinan,” ujar Wulan. Sampai sekarang Wulan masih bertahan di Surabaya meski harus tetap tinggal di kos-kosan. Tekanan darahnyi 130/80. Saturanyi: 98.

Totok Aminarto ikut jadi relawan VakNus karena belum dapat jatah vaksinasi pemerintah. Ia memang belum 60 tahun. Totok ini adalah laki-laki kebanggaan saya. Ia memulai karir dari cleaning service. Lalu jadi koordinator. Lama-lama jadi manajer dan direktur. Ia ”laki-laki” Disway: yang biasa puasa mutih selama 40 hari itu.

Rombongan ini merasa beruntung karena ada nama Nisa di situ. Dia adalah pelawak sejati. Nisa itu Tionghoa tapi kalau sudah melawak Arek Suroboyo-nya yang muncul.

Motto hidup Nisa hanya satu: jangan lupa bahagia. Setiap ketemu teman dia selalu ingatkan orang itu: jangan lupa bahagia. Saya sendiri sudah beberapa kali mendapat peringatan itu. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayRombongan Nusantara

Related Posts

--

Serangan Fajar

Friday, 6 March 2026
--

Bela Khamenei

Friday, 6 March 2026
Ilustrasi strategi perang Israel-Amerika dalam menyerang Iran.--

Tujuan IsAm

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan potensi krisis listrik dampak dari perang Israel vs Iran.--

Krisis Bahlil

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bom Suci

Monday, 2 March 2026
Next Post
Guru, Insan Cendekia  dan Panggilan Pengabdian

Berbagi Itu Indah

Discussion about this post

Rekomendasi

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Gorontalo, Maruly Pardede, saat memberikan keterangan pers. Rabu (04/02), di Mapolda Gorontalo.(Foto: Natharahman/ Gorontalo Post)

Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

Thursday, 5 March 2026
Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
Lapak pasar murah milik PT PG Gorontalo diserbu warga dengan penjualan gula murah Rp 16.000/kg. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Friday, 6 March 2026
Pihak BRI Gorontalo saat melakukan pendaftaran perkara gugatan sederhana, di Kejari Kota Gorontalo. (F. Istimewa)

Ratusan ASN Kredit Macet, BRI Gandeng Kejaksaan Tempuh Jalur Hukum

Friday, 22 August 2025

Pos Populer

  • Prof. Eduart Wolok

    Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

    89 shares
    Share 36 Tweet 22
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    60 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.