Oleh :
Fory Armin Naway
—
Salah satu keistimewaan puasa di bulan Ramadhan adalah, setiap amalan baik yang dilakukan oleh seorang individu, sekecil apapun itu akan bernilai ibadah dengan limpahan pahala yang berlipat ganda. Hal itu tercermin dari Hadis Nabi SAW yang diriwayatkan HR Ibnu Huzaimah “Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunnah) di bulan itu, pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainya. Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya..”
Diantara deretan amalan kebaikan yang dianjurkan, salah satunya adalah bersedekah dalam bentuk apapun untuk meringankan beban mereka yang membutuhkan. Rasa peduli dan simpati kepada sesama, terutama kepada kaum dhuafa dan anak yatim-piatu, juga dapat dipandang merupakan manifestasi dari dimensi sosial ibadah puasa.
Tidak hanya menuai pahala dan berkah, secara psikologis, panggilan berbagi atau bersedekah kepada sesama dapat membangkitkan, menyentuh dan menerangi kalbu dengan sentuhan nada dan irama yang syahdu, seperti ungkapan ; berbagi itu indah. Keindahannya terletak pada kepuasan batin yang mampu membagi kebahagian, membagi rasa dan rezeki kepada mereka yang membutuhkan. Disitulah salah satu instrumen keindahan ajaran Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin yang tidak hanya menitikberatkan pada ibadah berdimensi ritual, tapi juga ibadah yang berdimensi sosial.
Bagi Bangsa Indonesia sendiri yang berpenduduk mayoritas muslim, meminjam istilah para ahli dan pengamat sosial, sebenarnya memiliki potensi besar dalam mengeliminir kemiskinan yang masih mendera sebagian kecil masyarakat di negeri ini. Semangat ibadah yang berdimensi sosial dalam ruang lingkup semangat keislaman, diyakin akan berdampak positif terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan.
Hanya saja, dalam kerangka mengentaskan kemiskinan, maka maksimalisasi dan keterarahan penyaluran zakat fitrah, zakat mall, infak dan sedekah, ke depan dapat disalurkan melalui ranah kelembagaan yang sudah ada seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk memberikan penguatan terhadap upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.
Selain itu, dalam konteks ke-Indonesiaan dan dalam ranah kearifan lokal di daerah-daerah di seluruh Nusantara, terdapat banyak instrumen, seperti budaya gotong-royong yang dapat dimanifestasikan secara kolektif oleh kelompok-kelompok komunitas tertentu untuk membumikan gerakan berbagi kepada sesama.
Dengan begitu, berbagi sebagai panggilan ibadah dan kemanusiaan, selain dapat dilakukan melalui pendekatan antar personal, hubungan kekerabatan, ketetanggan atau antar komunitas sosial berdasarkan prinsip kegotongroyongan, juga dapat diaplikasikan ke dalam ranah kelembagaan. Hal itu sekaligus menunjukkan, bahwa ruang untuk berbagi bagi ummat Islam sangat terbuka lebar dilakukan kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja.
Apalagi dalam situasi dan kondisi Indonesia yang masih dibayang-bayangi oleh ancaman pandemi Covid-19, menjadikan ruang-ruang aktifitas ekonomi menjadi terhambat, banyak karyawan yang di PHK dan sebagainya, menjadi sisi lain betapa tuntunan untuk berbagi menjadi sangat penting untuk digalakkan di tengah masyarakat.
Penderitaan, kesusahan dan kesulitan orang lain di tengah situasi apapun, termasuk di tengah pandemi Covid-19 hari ini, bukanlah menjadi sebuah tontonan, tapi menghadirkan sebuah tuntunan bahwa berbagai itu indah. Indah dalam perspektif kemanusiaan dan begitu elok di hadapang Sang Maha Pencipta Allah SWT. Sesungguhnya Al Qur’an telah menjanjikan balasan atas kebaikan sekecil apapun bagi mereka yang berbuat baik, sebagaimana disebutkan dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7 yang artinya, Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah sekalipun nisaya dia akan melihat (balasannya). Selanjutnya, dalam Surat Ali-Imran ayat 92, Allah SWT berfirman yang artinya : Kamu tidak akan sampai pada kebaikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa saja yang kamu infakkan, maka sungguh Allah mengetahuinya.
Bahkan Syekh Nawawi Banten dalam Kitab Nihayatuz Zain menyebutkan, (Seseorang) dianjurkan untuk bersedekah sunnah setiap hari, yaitu setiap waktu siang maupun malam, terlebih di musim paceklik dan di masa sempit agar dengan sedekah itu ia mendapatkan keselamatan di badan, harta, keluarga. imbalan segera di dunia dan pahala melimpah di akherat.
Dari beberapa rujukan tersebut di atas, maka dapat disebut bahwa ungkapan berbagi itu indah adalah mengandung kebenaran yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Berbagi itu adalah agenda hati panggilan nurani yang mampu mengukuhkan eksistensi rasa kemanusiaan yang tinggi, mampu menyuburkan iman yang gersang dan berdampak terhadap meningkatnya spiritualisme seseorang.
Bahkan dalam perspektif ilmu psikologis dan ilmu kesehatan, berbagi kepada sesama dalam bentuk apapun, baik zakat, infak dan sedekah dapat berpengaruh besar terhadap kesehatan fisik dan psikis seseorang. Tentu sudah banyak bukti terhadap hal itu. Yang jelas, teori para ahli di bidang kesehatan dan ilmu kejiwaan tidak sedikit yang memberi kesaksian terhadap keajaiban-keajaiban yang terjadi bagi pasien mereka setelah bersedekah. Hal itu tentu tidaklah mengherankan karena 14 abad lebih yang lalu, Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya : “Obatilah orangt-orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah, bentengilah harta kalian dengan zakat dan siapkanlah doa untuk menghadapi musibah” (HR Baihaqi).
Itulah beberapa instrumen yang semakin mengukuhkan kebenaran terhadap ungkapan yang mengatakan bahwa berbagi itu indah. Apalagi di era saat ini yang masih dalam situasi serba sulit akibat pembatasan-pembatasan akibat Pandemi Covid-19, kepedulian, kesadaran kolektif dan keterpanggilan kemanusiaan untuk berbagi kepada sesama semakin urgen dan penting bersemayam dalam kalbu setiap ummat Islam yang dianugerahi kelebihan harta, rezeki yang lebih baik dari yang lainnya. Hakekat harta dan kepemilikan yang sesungguhnya bukan terletak pada “apa yang kita miliki saat ini” melainkan adalah “apa yang kita ulurkan kepada orang lain, itulah harta kita yang sesungguhnya yang akan menolong dan menjadi bekal di Yaumil akhir nanti. Insya Allah (***)
Penulis Adalah :
Dosen FIP UNG dan Ketua TP-PKK Kab. Gorontalo













Discussion about this post