Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Edukasi kesehatan berhasil meningkatkan pengetahuan warga Kelurahan Ipilo, Kota Gorontalo, tentang hipertensi. Namun, pemahaman untuk tetap mengonsumsi obat meski tidak merasakan gejala masih menjadi pekerjaan rumah. Setelah penyuluhan, hanya sekitar 68 persen peserta yang memahami bahwa obat hipertensi tidak boleh dihentikan tanpa arahan tenaga medis.
Temuan tersebut terungkap dalam kegiatan skrining tekanan darah, edukasi, dan pemantauan minum obat (PMO) yang digelar Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Gorontalo di Kantor Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, Selasa (21/7/2026).
Dari 38 warga penderita hipertensi yang mengikuti kegiatan, rata-rata nilai pengetahuan meningkat dari 82,3 persen sebelum edukasi menjadi 90,6 persen setelah edukasi. Peserta dengan kategori pengetahuan baik juga bertambah dari 22 orang menjadi seluruh peserta.
Meski demikian, peningkatan pengetahuan secara umum belum sepenuhnya menjawab persoalan kepatuhan pengobatan. Pemahaman mengenai larangan menghentikan obat sendiri saat merasa sehat hanya meningkat dari 55 persen menjadi sekitar 68 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian karena hipertensi kerap tidak menunjukkan gejala, sehingga penderitanya merasa sehat dan menganggap tidak lagi membutuhkan obat.
“Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak penderita merasa sehat dan berhenti minum obat. Mengendalikan hipertensi bukan hanya soal mengetahui angka tekanan darah, tetapi juga memahami kondisi, disiplin menjalani pengobatan, dan konsisten menerapkan pola hidup sehat,” ujar Fadli Husain, ketua tim pelaksana.
Kegiatan tersebut dilatarbelakangi data Puskesmas Kota Timur yang mencatat 79 penderita hipertensi di Kelurahan Ipilo. Sebagian di antaranya belum terdeteksi sejak dini maupun belum patuh menjalani pengobatan.
Sebanyak 38 peserta yang terlibat terdiri atas 19 laki-laki dan 19 perempuan berusia 25 hingga 78 tahun. Selain pemeriksaan tekanan darah, mereka mendapat edukasi mengenai pengelolaan hipertensi, diet rendah garam, dan pentingnya kepatuhan minum obat. Tim juga membagikan kartu pengingat minum obat.
Tim pelaksana yang diketuai Fadli Husain bersama apt. Zulfiah Idris dan apt. Sitti Rhomlah Jahja melibatkan tiga mahasiswa. Kegiatan ini didukung Puskesmas Kota Timur, kader kesehatan, serta pemerintah Kelurahan Ipilo.
Namun, pendampingan jangka panjang masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kehadiran peserta yang belum konsisten, perbedaan usia dan tingkat pendidikan, hingga terbatasnya waktu pemantauan kepatuhan pengobatan.
Tim berencana membentuk kelompok kerja bersama kader kesehatan dan mitra setempat agar pemantauan minum obat tidak berhenti setelah kegiatan edukasi selesai. “Edukasi saja tidak cukup. Penderita hipertensi perlu didampingi agar patuh minum obat dalam jangka panjang,” kata Fadli. (adv)














Discussion about this post