GORONTALO – Matahari mulai terik, pukul 09.00 pagi, Ahad (25/10), Karmila Lihawa, 22 tahun, nampak buru-buru. Perempuan muda yang baru saja wisuda sarjana di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini, segera menghidupkan sepeda motornya, dan bergegas menuju Belgina Fashion, sebuah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Desa Bulotalangi Barat, Kecamatan Bolango Timur, Bone Bolango, yang berjarak kurang lebih 9 KM dari rumahnya di Kelurahan Molosifat U, Kota Gorontalo. Mila, sapaan akrabnya, segera bergabung dengan peserta pelatihan karawo di Belgina Fashion. Industri kreatif ini, menyediakan kelas pelatihan karawo hasil bekerja sama dengan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi. Hari itu, kelasnya dimulai pukul 09.30 wita.
Setelah mengisi buku registrasi, Mila langsung dibagikan kain toyobo berbahan catton, dan alat pemindangan. Kain toyobo berukuran 30 x 30 cm itu, dimasukan dalam pemindangan berbentuk ring, dan menjadi wadah latihan mengiris benang, dan sulam, salah satu tahapan paling krusial dalam proses sulam tradisonal karawo. “Hari ini saya dapat kelas sulam, dan merawang atau sulam ikat,”kata Mila.
Pada pelatihan sebelumnya, ia telah mengikuti kelas desain karawo, menggambar pola, dan rogi atau makrogi, yakni proses pengirisan dan mencabut serat benang hingga menciptakan ruang berbentuk kotak-kotak kecil. Setelah proses rogi, langkah selanjutnya adalah sulam atau mokarawo. Bagi perajin karawo, termasuk Mila, proses karawo yang paling rumit adalah rogi atau proses pengirsan serat benang. Kain utuh polos, dirusak dengan mengiris serat benang satu per satu, lalu mencabutnya satu per satu. Proses pengirisan ini harus sesuai dengan pola atau desain yang telah dibuat sebelumnya. “Rumitnya disitu, karena kalau satu benang saja yang diiris, salah, tidak sesuai pola, itu kain rusak, tidak bisa dipakai lagi,”terangnya. Mila satu dari banyak Gen Z di Gorontalo, yang memahami kerumitan menyulam karawo, makanya, saat mendapat informasi ada kelas pelatihan Karawo yang digagas Pertamina dan Belgina Fashion, ia tertarik untuk ikut. “Dan harus bisa, Alhamdulillah sudah tiga kali ikut pelatihan disini (Belgina Fashion), saya sudah bisa mokarawo,”katanya.
Ia juga mengaku kerap latihan sendiri di rumah. Bagi Mila, karawo bukan sekadar kain sulam dengan tingkat kerumitan yang tinggi, yang menghasilkan karya elagan dan bernilai ekonomis tinggi. Lebih dari itu, karawo merupakan mahakarya Gorontalo yang diwariskan turun temurun, dan harus dilestarikan. Mila, tidak ingin generasinya menjadi generasi terakhir yang memahami karawo. Sebagai generasi muda, Mila mengaku turut bertanggungjawab menjaga, dan melestarikan karawo sebagai indentitas Gorontalo. “Karena lihat saja, perajin karawo itu rata-rata sudah tua. Sebagai GenZ saya beraktivitas juga seperti biasa, nongkrong, tapi soal karawo saya punya tanggungjawab untuk turut melestarikanya,”kata Mila.

Merawat Karawo Mahakarya Gorontalo
Di Belgina Fashion, hari itu, sudah ada 10 perserta yang datang, Mila yang paling muda, rata-rata adalah usai emak-emak. Mereka datang tidak saja dari Desa Bulotalangi Barat, namun dari luar desa, bahkan ada yang datang dari Kabupaten Pohuwato, daerah paling barat Gorontalo. “Ya, mereka datang belajar karawo. Bahkan ketika batch pertama, jumlah pesertanya mencapai 50 orang, dan mereka antusias,”ujar Novriyanti Burudji, Owner Bergina Fashion, sambil memperhatikan para peserta pelatihan. Novriyanti awalnya hanya mengembangkan Belgina Fashion sebagai toko mode biasa dengan ciri khas kebaya. Ketika Covid-19, omset Belgina Fashion menurun drastis, ia kemudian berkreasi sebagai solusi agar usahanya bisa bertahan dimasa pandemi, dengan menambahkan motif karawo pada kebaya yang ia produksi.
Ternyata, pasar menyambutnya. Karya kebaya karawo laris manis dipasaran, Novriyanti kemudian terus mengembangkan beragam motif, termasuk kaos karawo dengan model kekinian yang tak kalah modern. Pemasaranya pun makin luas, setelah Rumah BUMN Pertamina melakukan pendampingan, tidak sekadar pada pengembangan produksi, tapi membuka akses pemasaran lebih luas. Setiap hari kata dia, orderan terus menumpuk, ia sempat kelabakan menyahuti permintaan pelanggan. “Karena karawo kan prosesnya lama, tidak bisa langsung jadi,”kata Novriyanti. Produksi satu baju karawo, kata dia, membutuhkan waktu pengerjaan sampai dua minggu, bahkan lebih, tegantung dari besar kecilnya motif yang diinginkan pelanggan. Kondisi itu makin terperparah dengan jumlah perajin karawo yang terbatas.
Menurutnya, para perajin, selama ini belum menjadikan sulam karawo sebagai aktivitas utama. Pertamina kemudian hadir memberikan solusi, yakni menciptakan perajin melalui kelas pelatihan karawo. “Dengan pelatihan, kami menjadikan para perajin ini sebagai mitra, dan lebih diberdayakan, dengan tambahan skill mokarawo, dan kepastian orderan karawo sehingga mereka juga memiliki tambahan penghasilan tetap,”terangnya. Solusi ini, kata Novrianty, tidak sekadar menciptakan perajin karawo baru, namun berdampak pada keberlanjutan karawo sebagai mahakarya orang Gorontalo. “Itu tujuan utamanya pelatihan ini, Alhamdulillah ada dukungan dari Pertamina. Kami melahirkan perajin-perajin baru, sehingga karawo terus berkelanjutan sampai kapan pun,”katanya. “Dengan begitu kami juga tidak kesulitan mencari perajin, sehingga proses produksi juga terus berlangsung,”katanya.
Menurut dia, kolaborasi dengan Pertamina, tidak saja menumbuhkan omset produksi Belgina Fashion, lebih dari itu, kolaborasi ini turut memberikan efek yang lebih luas terutama bagi para perajin. Mereka tidak lagi menjadikan karawo sebagai aktivitas mengisi waktu luang, tapi menjadikanya sumber pedapatan keluarga. “Dulunya, perajin ini baru bisa mokarawo kalau tidak ada panen. Sekarang alhamudlillah, permintaan karawo terus ada, secara ekonomi juga memberi dampak ke keluarga perajin. Bagi kami kolaborasi ini turut menjaga tradisi karawo, dan menggerakkan ekonomi masyarat,”tandasnya.
Kesulitan perajin Karawo di Gorontalo, turut dibenarkan Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo. Kepala Bidang Perindustrian, Diskumperindag Provinsi Gorontalo Lyla Laya menyebut, rata-rata para perajin karawo tidak lagi usia muda, sehingga regenarasi sangat diperlukan. Ia mengapresiasi Pertamina yang turut mengambil peran dalam menjaga karawo sebagai tradisi masyarakat Gorontalo yang memiliki nilai ekonomi tinggi. “Karawo itu sudah makin dikenal, sebagai salah satu wastra nusantara tentu kita harus merawatnya, salah satunya dengan melakukan pelatihan-pelatihan,”ungkap Lyla.
Kain Kristik dari Belanda
Dilihat dari sejarahnya, karawo memang tak lepas dari kehidupan masyarakat Gorontalo. Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), DR.Wayan Sudana, yang banyak meneliti tentang karawo, menyebutkan, karawo sudah menjadi kebiasaan emak-emak Gorontalo sejak dulu, yakni untuk mengisi waktu luang setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga di rumah, atau waktu lowong menunggu panen selelah musim tanam dilakukan. “Jadi bukan pekerjaan tetap, tapi sekadar mengisi waktu luang saja. Dulu bahkan sampai sekarang, kan saat petani selesai tanam, itu ada waktu kosong menunggu sampai panen. Nah mereka memanfaatkan itu utuk mokarawo. Dan ini sudah dilakukan turun temurun,”ujar Wayan kepada Gorontalo Post, (30/10) kemarin.
Karawo sendiri kata dia, terinspirasi dari kain kristik yang berlubang-lubang. Di era pendudukan Belanda, para juragan Belanda membawa kain kristik dari negaranya dan dijadikan pajangan di rumah mereka di Gorontalo. Bentuk kain ini rupanya memikat minat para perempuan Gorontalo yang bekerja di rumah-rumah orang Belanda. “Begitu mereka pulang ke rumah, mereka membuatnya yang sederhana. Caranya dengan mengambil kain, lalu kain itu dirusak dengan mengiris benangnya lalu dicabut, sampai berbentuk lubang-lubang kecil, kemudian di sulam lagi, jadilah karawo namanya, dan ternyata lebih bagus (dari kain kristik Belanda),”ujar Wayan.
Dari hasil penelitianya, semua sumber memiliki cerita yang sama tentang karawo. Sejak saat itu, kata dia, perempuan-perempuan Gorontalo mulai terbiasa mokarawo, yakni dengan memanfaatkan waktu luang. “Orang-orang tua menyebutnya karawo, karawo itu sendiri adalah sulaman,”jelasnya. Dulu, di tahun 1980an, saat Gorontalo masih bagian dari Provinsi Sulawesi Utara, karawo banyak dipasarkan di Manado, yang menjadi kota terbesar di Sulawesi Utara saat itu.
Hanya saja, di Manado, karawo dikenal dengan sebutan kerawang. Yang memberi nama kerawang adalah para pembeli itu sendiri, karena melihat bentuk karawo yang berlubang-lubang. “Bentuknya berlubang, ada rawang-rawangnya. Pembeli kemudian menyebutnya kerawang,”terangnya. Oleh perajin karawo dan masyarakat Gorontalo, nama kerawang tidak dipopulerkan, dan tetap menggunakan nama karawo, hingga saat ini. Hanya memang kata dia, regenerasi perajin karawo memang harus dilakukan, agar mahakarya Gorontalo ini tetap terjaga.

Ciptakan Perajin Wujudkan Kemandirian Ekonomi
Kegelisahan tentang perajin karawo itu yang membuat Pertamina Patra Niaga Sulawesi turut ambil peran dalam melestarikan warisan leluhur Gorontalo ini. Melalui Rumah BUMN Bone Bolango, Pertamina berkolaborasi dengan Begina Fashion, melakukan pelatihan, pendampingan pengembangan UMKM, hingga membuka akses pemasaran. Fasilatator Rumah BUMN Pertamina Bone Bolango, Faisal Hidayat Ali, mengatakan, keberlangsungan karawo tidak hanya menjadi tanggungjawab masyarakat Gorontalo. Pertamina, lanjut dia, juga bangga turut menjaga mahakarya ini terus menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo. “Berawal dari keresahan akan keberlangsungan karawo ini. Lihat saja, prosesnya rumit sekali, manual, tidak menggunakan mesin, sangat tradisional. Perajinnya sudah emak-emak semua. Maka dengan komitmen Pertamina, kami mendorong agar ada pelatihan untuk perajin karawo,”terang Faisal Hidayat Ali.
Konsep pelatihan itu disambut Belgina Fashion, maka sejak tahun 2025 pelatihan mulai dilakukan dengan melibatkan semua kalangan. “Termasuk mahasiswa, pada batch pertama pelatihan yang kami lakukan, pesertantya mencapai 50 orang, dan kebanyakan mahasiswa. Setidaknya mereka paham, bahwa karawo itu sebuah mahakarya yang rumit pembuatanya, dan menjadi kebanggaan,”kata dia. Dampaknya, kata Faisal sudah terlihat, selain karawo terus terjaga, para desainer, termasuk Belgina Fashion tidak lagi kesulitan mencari perajin, dan perajin mendapat penghasilan tambahan untuk ekonomi keluarga mereka.
Ia menyebut, pengembangan UMKM dan industri kreatif menjadi salah satu upaya Pertamina dalam mendorong keberlanjutan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Hal yang sama disampaikan Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron. Dukungan yang diberikan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas bisnis UMKM, tetapi juga pada penciptaan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan sekitar, terutama masyarakat perajin. “Program pembinaan UMKM Pertamina dirancang untuk membantu pelaku usaha memperkuat kapasitas, memperluas akses pasar, dan meningkatkan daya saing. Kami berharap pertumbuhan UMKM juga mampu menciptakan manfaat ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat secara langsung,” ujar Baron.
Mitra binaan Pertamina ini menunjukkan bahwa UMKM dapat menjadi lebih dari sekadar penggerak ekonomi. Di tangan para pelaku usaha tersebut, UMKM juga menjadi sarana pelestarian budaya seperti karawo, pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga ruang tumbuh bagi masyarakat untuk berkembang bersama. (tro)













Discussion about this post