gorontalopost.co.id — Kemudahan akses layanan keuangan digital membuat generasi Z semakin dekat dengan beragam pilihan investasi. Namun, kemudahan itu juga membawa risiko. Tawaran keuntungan cepat yang bertebaran di media sosial bisa menjadi jebakan ketika tidak dibarengi pengetahuan finansial yang memadai. Kondisi inilah yang menjadi perhatian PT Pegadaian melalui Seminar Nasional Gerakan Bangkit Ekonomi Syariah (Gerbang Emas) 2026 di UIN Sultan Amai Gorontalo. Sekitar 500 mahasiswa dibekali pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, investasi, hingga pentingnya mengenali risiko sebelum menempatkan dana.
Mengusung tema “Strategi Inklusi Keuangan & Investasi Emas Syariah: Membangun Resiliensi Ekonomi Gen Z di Era Digital”, Gerbang Emas menjadi salah satu langkah Pegadaian memperluas literasi keuangan syariah di kalangan anak muda. Pegadaian menggandeng UIN Sultan Amai Gorontalo dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap produk keuangan dan investasi, sekaligus membangun sikap lebih kritis dalam menyikapi berbagai penawaran finansial di ruang digital.
Deputi Bisnis PT Pegadaian Kantor Area Gorontalo, Rahmat Hidayat, mengatakan Gerbang Emas merupakan program Pegadaian melalui Divisi Unit Usaha Syariah yang bersumber dari dana kebajikan umat. “Dana tersebut digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya memberikan kemaslahatan bagi umat,” kata Rahmat saat diwawancarai pada kegiatan Gerbang Emas 2026. Menurut Rahmat, literasi keuangan tidak cukup berhenti pada pengenalan produk syariah. Generasi muda juga perlu memahami bagaimana mengelola keuangan secara sehat serta mempertimbangkan risiko sebelum menentukan instrumen investasi.
Terlebih, perkembangan teknologi membuat layanan keuangan dan berbagai tawaran investasi semakin mudah dijangkau hanya melalui telepon genggam. “Kami berharap para narasumber dapat memberikan pencerahan kepada kita semua mengenai bagaimana melakukan investasi yang baik, bijak, dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam atau syariah,” ujarnya. Ia menilai, pemahaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan finansial generasi muda. Mahasiswa tidak cukup hanya melihat potensi keuntungan dari sebuah investasi, tetapi juga harus memahami mekanisme, legalitas, serta risiko yang melekat pada produk tersebut.
Bagi Pegadaian, ruang edukasi seperti ini sekaligus menjadi pintu untuk memperkenalkan lebih jauh konsep investasi emas syariah kepada generasi muda. Emas menjadi salah satu instrumen yang terus didorong Pegadaian dalam ekosistem layanan keuangan syariah, dengan edukasi sebagai bagian penting agar masyarakat memahami produk sebelum menggunakannya.
Rahmat mengatakan Pegadaian akan terus memperluas kegiatan literasi dan inklusi keuangan, khususnya keuangan syariah, dengan menggandeng perguruan tinggi dan lembaga terkait. “Ini menjadi tantangan bagi kami di PT Pegadaian untuk lebih gencar melakukan kegiatan literasi dan inklusi keuangan, khususnya keuangan syariah,” katanya.
Pegadaian bersama OJK juga terus mendorong edukasi masyarakat melalui berbagai program, termasuk momentum Bulan Inklusi Keuangan. Setelah UIN Sultan Amai Gorontalo, kegiatan serupa diarahkan menyasar lingkungan kampus lainnya di Gorontalo. “Kami juga memiliki kemitraan strategis dengan Universitas Negeri Gorontalo. Kami turut mendukung pembangunan DGD Kreatif Lounge yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan berbagi wawasan,” ungkap Rahmat.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Sultan Amai Gorontalo, Herson Anwar, menyambut kolaborasi tersebut. Ia menilai edukasi pengelolaan keuangan semakin penting diberikan kepada mahasiswa seiring luasnya akses terhadap layanan finansial digital. Mahasiswa, kata Herson, harus memahami bukan hanya kemudahan layanan digital, tetapi juga risiko yang mengikutinya. “Jangan sampai karena ingin mendapatkan keuntungan sesaat, tetapi kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup, akhirnya kita justru terlena dan terjebak,” ujarnya.
Ia berharap Gerbang Emas dapat menjadi investasi pengetahuan bagi mahasiswa untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat serta memahami pilihan investasi yang sesuai dengan prinsip syariah. Bagi Pegadaian, edukasi kepada Gen Z menjadi bagian dari upaya membangun literasi sekaligus memperluas inklusi keuangan syariah. Rahmat berharap mahasiswa yang mengikuti Gerbang Emas tidak hanya mendapatkan wawasan mengenai investasi, tetapi juga memiliki bekal untuk mengambil keputusan finansial secara lebih bijak di tengah derasnya arus ekonomi digital. “Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya memberikan pemahaman literasi dan edukasi kepada masyarakat, terutama generasi Z, kami berharap mereka dapat memahami bagaimana mengelola keuangan secara sehat dan membangun resiliensi diri dalam menghadapi tekanan ekonomi digital,” pungkasnya. (Adv/Tr-76)














Discussion about this post