gorontalopost.co.id – Direktur RS Ainun, FR membantah dirinya punya hubungan khusus dengan RP, yang kedapatan serumah dengannya saat penggerebekan dilakukan suami RP yang datang bersama petugas kepolisian beberapa hari lalu, di sebuah rumah di Kelurahan Limba B, Kota Gorontalo. “Tidak ada hubungan khusus (dengan RP), hubungan saya dengan beliau semata-mata hanya hubungan kerja, jadi beliau adalah staf di rumah sakit, sekaligus mitra kerja kami yang mengurus usaha yang sedang kami rintis,”kata FR saat jumpa media, Kamis (17/9).
Penasehat hukum FR, DR.Hijrah Lahalih, S.Hi., M.H nengurai peristiwa penggerebekan tersebut. Menurut versi dia yang diperoleh dari penyampaian klienya, jika lokasi atau rumah tempat peristiwa malam itu, bukan semata-mata tempat tinggal pribadi, melainkan juga digunakan sebagai tempat berkumpul atau basecamp tim kerja FR. Termasuk tamu dari luar daerah juga diarahkan ke rumah itu, jika menginap. “Pak Dir ini punya tim, dimana rumah ini dijadikan sebagai tempat pertemuan, tempat rapat, bahkan ada yang sampai tengah malam, bahkan ada yang menginap di rumah tersebut. Memang rumah ini, rumah pribadi pak Dir dengan istri, tapi tidak digunakan (untung tinggal), tapi digunakan untuk pertemuan para timnya,”ujar Hirjah Lahalih.
RP kata dia, meminta izin kepada FR untuk menginap di rumah itu, karena kelelahan dan jarak rumahnya yang cukup jauh untuk pulang. “Dan memang saat itu, ada kondisi dengan rumah tangga ibu (RP,red) dengan suaminya, yang membuat si ibu itu merasa tidak aman dan pulang, karena ada ancaman,”ungkapnya. Setelah diberikan izin menginap, FR kemudian menunjukan kamar untuk RP tidur, sementara FR masih melakukan aktivitas zoom hingga pukul 23.00 wita. “Dan memang kondisinya pak Dir saat itu kurang sehat selama satu minggu, minumlah obat flu, tertidur, akibat reaksi obat, tertidur di ruang tamu,”jelasnya. Beberapa saat, FR kemudian pindah di kamar yang berbeda.
Menurut Hijrah, RP tidak tahu menahu lagi dengan kondisi malam itu, karena setelah masuk kamar, ia tidak lagi keluar. “Bahkan si ibu ini, tahu pak Dir sudah pulang,”katanya. Kemudian, saat dini hari, sekira pukul 01.00 wita atau pukul 02.00 wita. Ada yang ketuk pintu, ternyata yang datang adalah suami RP, yang datang bersama kepolisian, dan warga setempat.
FR kemudian membuka pintu, dan mempersilakan suami dan polisi itu masuk. “Tidak kaget, atau berusaha melarikan diri. Pak Dir tanya, kenapa?, disampaikanlah bahwa si suami ibu ini mencari istrinya. Oh iya cari saja, dia tidur di kamar sana, ketuk-ketuk saja kamarnya,”terang Hijrah.
Disisi lain RP sendiri memberikan alasan mengapa dirinya memilih menginap di rumah bosnya itu. Ia mengaku sedang menghadapi persoalan internal dengan suaminya, dan selama sekitar dua pekan terakhir mengaku mendapat ancaman, termasuk kekhawatiran rumahnya akan dibakar. Karena merasa terancam, RP mengaku telah menyiapkan sejumlah barang penting, termasuk pakaian dan ijazah, sebelum meninggalkan rumah.
Ia kemudian meminta izin kepada FR untuk menginap di rumah yang selama ini disebut sebagai tempat berkumpul tim. “Saya minta izin sama pak Dir, pak Dir saya boleh nginap disini, soalnya saya ini masih khawatir, suami saya mengancam saya untuk membakar rumah,”katanya.
Ditempat yang sama, istri FR, Yuniar, juga membenarkan jika rumah tersebut adalah asetnya bersama FR. Hanya saja tidak digunakan sebagai tempat tinggal. “Kami peruntukan untuk menampung apabila ada kegiatan-kegiatan yang memerlukan tempat yang kita bisa fasilitasi,”jelasnya. “Sehingganya bukan hal baru bagi saya di rumah itu ada aktivitas baik ada tim kerja laki-laki atau perempuan, itu semuanya sepengetahuan saya. Segala aktivitas di rumah itu atas sepengetahuan saya, tidak ada sama sekali yang terlewatkan,”sambungnya. Bahkan, malam itu, kata dia, hingga menjelang jam 10 malam, ia masih video call dengan suaminya. “Memang kondisinya sedang flu berat, dan dia bilang saya akan pulang tapi saya akan minum obat,”tandasnya. (roy/gp)












Discussion about this post