gorontalopost.co.id- Pemerintah Kota Gorontalo tak ingin larut dalam tekanan fiskal akibat pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat. Di tengah kondisi tersebut, Pendapatan Asli Daerah (PAD) justru diposisikan sebagai salah satu kekuatan untuk menjaga roda pemerintahan sekaligus memastikan pembangunan tetap berjalan.
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, bahkan mengaku masih memiliki alasan untuk percaya diri melihat kondisi keuangan daerah yang ada saat ini. Ia menggambarkan kondisi Kota Gorontalo dengan istilah yang cukup unik. Menurut Adhan, ada anggapan bahwa Kota Gorontalo merupakan daerah yang “susah-susah tapi sombong”. “Kalau orang bilang, kota ini biar susah-susah tapi sombong,” kata Adhan.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Adhan menilai, dibandingkan sejumlah daerah lain, Kota Gorontalo masih memiliki kemampuan untuk menjalankan pemerintahan sekaligus membiayai berbagai program pembangunan. Salah satu penopang utamanya adalah PAD. Adhan menyebut realisasi PAD Kota Gorontalo pada 2025 mencapai 102 persen. Nilainya bahkan mendekati Rp400 miliar. “Alhamdulillah, 2025 capaian kita PAD 102 persen, kurang lebih hampir Rp400 miliar. Rp399 miliar lebih sekian capaian kita,” ujarnya.
Bagi Adhan, capaian tersebut tidak boleh berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan. PAD harus kembali dirasakan masyarakat dalam bentuk pembangunan. Ia mencontohkan sejumlah pembangunan dan penataan ruas jalan di Kota Gorontalo yang menurutnya dibiayai menggunakan PAD. Di antaranya Jalan dr. Zainal Umar Sidiki, Jalan Pangeran Hidayat II, Jalan Taman Buah serta sejumlah ruas jalan lainnya. “Semua dari PAD. Tidak ada dari DAU,” tegasnya.
Tak hanya pembangunan infrastruktur, Adhan juga menyebut pengadaan kendaraan dengan nilai lebih dari Rp1 miliar yang menggunakan PAD. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan daerah mengumpulkan pendapatan sendiri memberikan ruang bagi pemerintah kota untuk tetap bergerak ketika transfer dari pusat mengalami tekanan.
Namun, tantangan fiskal belum selesai. Adhan mengungkapkan Kota Gorontalo menghadapi pemotongan anggaran hingga Rp127 miliar pada 2026. “Kalau kita tahun ini dipotong Rp127 miliar,” katanya. Besarnya pemotongan tersebut membuat optimalisasi PAD menjadi semakin penting. Pemerintah kota dituntut tidak hanya mempertahankan capaian pendapatan, tetapi juga mencari ruang untuk meningkatkan penerimaan daerah.
Adhan menegaskan, pembangunan tidak boleh ikut terhenti hanya karena ruang fiskal semakin terbatas. Untuk itu, PAD akan terus didorong menjadi sumber kekuatan daerah untuk membiayai berbagai kebutuhan pemerintahan dan pembangunan.
Pengalaman Adhan sebagai wali kota dua periode juga membuat persoalan kemampuan fiskal daerah menjadi salah satu perhatian utama. Ia ingin memastikan PAD tidak sekadar menjadi indikator keberhasilan pengelolaan keuangan, tetapi benar-benar menjadi modal untuk mempertahankan pembangunan. Di tengah pemangkasan anggaran pusat, PAD akhirnya menjadi salah satu tumpuan Kota Gorontalo agar roda pemerintahan tetap berputar dan pembangunan tetap berjalan.(adv)













Discussion about this post