Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Ketika gadget semakin sulit dipisahkan dari keseharian anak-anak, Pemerintah Kota Gorontalo memilih jalur lain untuk menjaga tumbuh kembang sekaligus identitas generasi muda.
Sekolah didorong menjadi ruang untuk mengenalkan kembali budaya daerah melalui program Satu Sekolah Satu Karya Budaya. Program tersebut resmi diluncurkan bersamaan dengan Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo di SDN 99 Kota Utara, pekan kemarin.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Gorontalo, Husin Ali, mengatakan gagasan itu berangkat dari kegelisahan terhadap kebiasaan anak-anak yang semakin banyak menghabiskan waktu dengan gadget.
Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya memberikan pengetahuan akademik. Anak juga perlu memiliki ruang untuk mengenal lingkungan, bahasa, serta kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas mereka. “Jawaban atas kegalauan Pak Wali dan Wawali soal pemanfaatan gadget, salah satunya adalah gerakan satu sekolah satu karya budaya,” ujar Husin.
Melalui kebijakan tersebut, setiap sekolah mulai jenjang TK, SD hingga SMP diarahkan memiliki sedikitnya satu karya budaya Gorontalo untuk diproduksi, dikembangkan dan diajarkan kepada peserta didik. Sekolah yang memiliki kapasitas lebih besar diperbolehkan mengembangkan maksimal dua karya budaya.
Dengan pola itu, setiap sekolah memiliki kekhasan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga satu bagian dari kekayaan budaya Gorontalo agar tetap hidup di tengah generasi muda. Husin menyebut kebijakan tersebut telah dituangkan dalam Surat Keputusan Wali Kota Gorontalo.
Ia juga mengaitkannya dengan kebijakan penerimaan murid baru yang mendorong anak bersekolah lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal. Kebijakan itu, kata Husin, sekaligus diharapkan menghapus stigma mengenai sekolah unggulan.
“Kami ingin memastikan bahwa semua sekolah di Kota Gorontalo adalah pilihan terbaik. Tidak ada sekolah unggulan di Kota Gorontalo, tapi sekolah unggulan ada di semua sudut di kota kita tercinta, Kota Gorontalo,” tegasnya.
Menurut Husin, kedekatan sekolah dengan tempat tinggal juga memberi keuntungan lain. Anak memiliki waktu perjalanan yang lebih singkat sehingga dapat mempunyai lebih banyak kesempatan untuk beristirahat, beraktivitas dan berinteraksi bersama keluarga.
Di sisi lain, Pemkot Gorontalo juga mulai mendorong penggunaan bahasa Gorontalo melalui Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo. Gerakan tersebut disusun bersama Kantor Bahasa sebagai bagian dari upaya mempertahankan penggunaan bahasa daerah di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
Husin menilai penggunaan bahasa daerah perlu dibiasakan kembali, termasuk di lingkungan pemerintahan dan sekolah. Ia menyoroti kebiasaan masyarakat Gorontalo yang dinilainya cenderung menyesuaikan bahasa ketika berkomunikasi dengan pendatang.
“Kalau di Sunda sana, kita datang, kita menyesuaikan dengan orang Sunda. Di Jogja kita menyesuaikan dengan orang Jogja. Mereka tetap berbahasa Sunda, tetap berbahasa Jawa. Tapi beda dengan kita orang Gorontalo,” ungkapnya.
Maka dari itu, penggunaan bahasa Gorontalo akan dibiasakan di lingkungan kantor pemerintahan maupun sekolah, khususnya setiap Selasa dan Kamis. Bagi Husin, kemajuan teknologi dan modernisasi tidak seharusnya membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya.
Anak-anak Gorontalo tetap didorong untuk mengejar prestasi hingga tingkat nasional bahkan internasional. Namun, di saat yang sama, mereka diharapkan tetap mengenal bahasa, budaya dan identitas daerahnya. “Walaupun anak-anak kita sudah hidup di zaman modern, berpikir untuk go nasional bahkan internasional, mereka tidak melupakan identitas mereka,” katanya.
Husin pun meminta seluruh unsur pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, penilik hingga jajaran Dikbud, bergerak bersama memastikan dua program tersebut tidak berhenti sebatas seremoni peluncuran. Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak mengetahui budaya Gorontalo, melainkan menjadikan budaya dan bahasa daerah bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.
Dengan demikian, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjadi salah satu benteng terakhir untuk memastikan identitas Gorontalo tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi.(adv)














Discussion about this post