gorontalopost.co.id – Tenun Gorontalo kembali digali dan dipadukan dengan sulaman Karawo untuk menjawab kebutuhan pasar fesyen modern. Hasil eksplorasi itu melahirkan Tenukala, yang berhasil menembus 20 besar Championship Inovasi Wastra 2026 tingkat nasional.
Inovasi tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam talkshow “Merajut Warisan, Menenun Masa Depan: Revitalisasi Tenun Gorontalo melalui Harmoni Tenun dan Karawo” di Hall B Jakarta International Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (29/6).
Tenukala dikembangkan Bank Indonesia Gorontalo, bersama Isnawati Ilahude, Direktur Galeri UMKM Olaku sekaligus pemilik UMKM Tiar. Ide itu berangkat dari kegelisahannya melihat Karawo berbahan katun biasa belum banyak dilirik pasar fesyen kelas atas. Isnawati kemudian melakukan serangkaian uji coba untuk mencari bahan tenun yang tepat. Ia menemukan tenun polos dengan kerapatan benang lungsin dan pakan yang memungkinkan sulaman Karawo tetap menonjol.
Dari proses tersebut lahirlah Tenukala—perpaduan antara tenun dan Karawo yang mempertahankan karakter sulaman khas Gorontalo, tetapi memberi tampilan lebih modern. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Ciptoning Suryo Condro, mengatakan pengembangan tersebut berawal dari riset What’s Next? yang menelusuri kembali sejarah wastra Gorontalo.
Riset itu menemukan jejak tradisi tenun Gorontalo pada masa lampau yang selama ini belum banyak dieksplorasi. Temuan tersebut kemudian dipadukan dengan Karawo yang telah lebih dulu berkembang sebagai kerajinan khas daerah. “Pengawinan tenun khas Gorontalo yang baru dieksplorasi ini dengan Karawo eksisting bertujuan meningkatkan nilai tambah, memperluas lapangan kerja bagi penenun, serta mendongkrak nilai jual ekspor wastra Gorontalo,” kata Ciptoning.
Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo, Nani Mokodongan, menekankan inovasi Karawo tetap perlu menjaga pakem dasarnya. Salah satunya konsistensi empat warna utama yang menjadi bagian dari karakter sulaman tersebut. Menurut Nani, Karawo kini semakin dikenal di pasar lokal, nasional hingga mancanegara. Karena itu, pengembangan produk perlu berjalan bersama upaya menjaga identitas dan keaslian warisan budaya Gorontalo. Masuknya Tenukala ke 20 besar nasional menjadi penanda bahwa revitalisasi tenun Gorontalo mulai menemukan bentuk baru: tradisi lama tidak sekadar disimpan, tetapi diolah menjadi produk fesyen yang punya nilai tambah dan peluang pasar. (tro)














Discussion about this post