Oleh:
Herwin Mopangga
Catatan menuju Pelantikan Pengurus ISEI Cabang Gorontalo Periode 2026-2029 pada Rabu 05 Agustus 2026 di Ballroom Bank Indonesia KPw Gorontalo
Pertumbuhan ekonomi sering kali dipandang sebagai tujuan akhir pembangunan. Padahal, pertumbuhan hanyalah sebuah perjalanan, bukan garis finis. Ukuran keberhasilan suatu daerah bukan semata-mata seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi yang dicapai, tetapi sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, menciptakan pemerataan, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Di sinilah tantangan sekaligus peluang besar yang sedang dihadapi Provinsi Gorontalo.
Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja ekonomi Gorontalo menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi terus menguat, investasi mulai bergerak lebih dinamis, kemiskinan dan ketimpangan menunjukkan tren menurun, sementara stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga di tengah berbagai ketidakpastian global. Kondisi ini menunjukkan bahwa Gorontalo sedang memasuki fase baru pembangunan ekonomi. Namun, mempertahankan pertumbuhan saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mentransformasikan pertumbuhan tersebut menjadi kesejahteraan yang lebih luas, berkualitas, dan berkelanjutan.
Fondasi utama transformasi tersebut tetap berada pada sektor agromaritim. Pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, dan peternakan bukan hanya menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat Gorontalo, terutama di wilayah perdesaan dan pesisir. Sektor ini memiliki fungsi strategis dalam menjaga ketahanan pangan, mengendalikan inflasi pangan, serta menyediakan lapangan kerja yang luas, khususnya di sektor informal.
Namun demikian, selama hasil pertanian dan perikanan masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, nilai tambah yang dinikmati masyarakat akan tetap terbatas. Karena itu, hilirisasi dan industrialisasi menjadi agenda yang tidak dapat ditawar lagi. Jagung tidak seharusnya hanya dijual sebagai jagung pipilan, tetapi dikembangkan menjadi pakan ternak, tepung, makanan olahan, bahkan bioindustri. Demikian pula ikan tidak hanya dijual sebagai hasil tangkapan segar, tetapi diolah menjadi fillet, produk beku, makanan siap saji, hingga komoditas ekspor bernilai tinggi. Di sinilah letak pentingnya transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.
Pada saat yang sama, Gorontalo memasuki babak baru dengan mulai beroperasinya Pani Gold Project di Kabupaten Pohuwato. Kehadiran investasi pertambangan berskala besar membuka peluang lahirnya mesin pertumbuhan ekonomi baru yang selama ini belum dimiliki Gorontalo. Pertambangan berpotensi mendorong investasi, mempercepat pembangunan infrastruktur, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan penerimaan daerah, sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di sektor perdagangan, jasa, transportasi, dan logistik.
Namun, pengalaman berbagai daerah di dunia juga mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak selalu identik dengan kesejahteraan masyarakat. Banyak wilayah justru mengalami resource curse, ketika kekayaan mineral tidak mampu diterjemahkan menjadi kualitas hidup yang lebih baik akibat lemahnya tata kelola, rendahnya nilai tambah, minimnya keterlibatan pelaku usaha lokal, serta meningkatnya ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, pertambangan di Gorontalo tidak boleh berkembang sebagai sektor yang berdiri sendiri. Kehadirannya harus menjadi katalis bagi tumbuhnya industri pengolahan, penguatan UMKM, peningkatan penggunaan produk lokal (local content), pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas.
Di sisi lain, Gorontalo juga memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai pilar pembangunan masa depan. Pantai-pantai eksotis, kawasan bawah laut Olele, Hiu Paus Botubarani, benteng bersejarah, budaya Hulonthalo, kerajinan Karawo, hingga kekayaan kuliner lokal merupakan modal ekonomi yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Berbeda dengan pertambangan yang bergantung pada sumber daya yang terbatas, pariwisata dan ekonomi kreatif justru mampu tumbuh melalui kreativitas manusia tanpa harus menguras sumber daya alam secara berlebihan.
Ke depan, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengejar jumlah kunjungan wisatawan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap destinasi dikelola secara berkelanjutan melalui penataan ruang yang baik, penerapan daya dukung lingkungan (carrying capacity), penguatan ekonomi kreatif lokal, serta pemerataan manfaat ekonomi hingga ke desa-desa pesisir. Pariwisata yang sehat adalah pariwisata yang mampu menjaga ruang hidup masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.
Dari sinilah muncul gagasan yang saya sebut sebagai Integrated Blue–Green–Gold Economy, sebuah model pembangunan ekonomi yang mengintegrasikan tiga kekuatan utama Gorontalo. Pilar hijau (Green Economy) bertumpu pada agromaritim sebagai fondasi ketahanan pangan dan bioindustri. Pilar emas (Gold Economy) mengoptimalkan pertambangan sebagai penggerak investasi dan industrialisasi yang bertanggung jawab. Sementara pilar biru (Blue Economy) mengembangkan pariwisata bahari dan ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan jasa yang berkelanjutan.
Ketiga pilar tersebut tidak berjalan sendiri melainkan dipertemukan melalui hilirisasi, industrialisasi, inovasi, dan penguatan rantai nilai lokal. Dengan pendekatan ini, hasil pertanian, perikanan, pertambangan, pariwisata, dan ekonomi kreatif saling memperkuat sehingga mampu menciptakan produk unggulan berorientasi ekspor yang diproduksi oleh tenaga kerja lokal yang semakin kompeten.
Model pembangunan seperti ini juga membutuhkan sinergi kebijakan yang kuat. Pemerintah daerah bertugas menciptakan iklim investasi, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Bank Indonesia menjaga stabilitas inflasi, memperkuat sistem pembayaran digital, serta mendukung pembiayaan UMKM dan pengembangan ekonomi daerah. Di sisi lain, kebijakan fiskal melalui APBN dan APBD diarahkan untuk memperkuat produktivitas, memperbaiki konektivitas, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sinergi kebijakan moneter dan fiskal inilah yang menjadi fondasi penting bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang stabil sekaligus inklusif.
Sebagai organisasi profesi yang menghimpun para ekonom dari berbagai disiplin dan sektor, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) memiliki posisi strategis untuk menjadi regional policy think tank yang menjembatani gagasan akademik dengan kebutuhan kebijakan publik. Melalui riset, dialog, dan rekomendasi berbasis bukti, ISEI dapat berkontribusi dalam merumuskan arah pembangunan ekonomi Gorontalo yang lebih adaptif terhadap perubahan global sekaligus berpijak pada potensi lokal.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada tahun-tahun mendatang. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah pertumbuhan tersebut mampu menghadirkan lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan daya beli masyarakat, memperkuat daya saing daerah, menjaga stabilitas inflasi, dan mewariskan lingkungan yang tetap lestari bagi generasi berikutnya.
Jika ketiga kekuatan ekonomi yakni agromaritim, pertambangan, serta pariwisata dan ekonomi kreatif mampu diintegrasikan dalam satu lanskap pembangunan yang terpadu, Gorontalo tidak hanya akan menjadi daerah yang tumbuh lebih cepat. Gorontalo akan tumbuh lebih kokoh, lebih inklusif, lebih berdaya saing, dan lebih berkelanjutan. Itulah esensi pembangunan yang sesungguhnya: ketika setiap kenaikan angka pertumbuhan ekonomi benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan rakyat. (*)
Ketua ISEI Cabang Gorontalo













Discussion about this post